Three Recent Publications About Indonesian Material Culture, Art and Ethnography
Total Page:16
File Type:pdf, Size:1020Kb
Load more
Recommended publications
-
Kamusbesarbahasaindonesia Hal 1001-End.Pdf
ornamental x otak-atik 1024 ornamental /ornaméntal/ a berhubungan osilasi n gerakan ke kiri dan ke kanan atau dng ornamen ke atas dan ke bawah; ayunan; getaran ornamentasi /ornaméntasi/ n perhiasan dng osilator n peranti yg menghasilkan arus memakai ornamen-ornamen gerak (spt generator frekuensi radio) ornitologi n ilmu pengetahuan tt burung- osilograf n 1 Lis alat yg mencatat aliran burung dan tekanan listrik yg berubah-ubah; ornitologis a berkenaan dng burung 2 Dok yg mencatat getaran atau naik orografi n cabang geografi fisik yg berhu- turunnya tekanan darah bungan dng gunung-gunung osilogram n Lis grafik yg dibuat oleh se- orografis a secara orografi buah osilograf 1orok n bayi osiloskop n Lis osilograf yg mencatat ge- 2orok, mengorok v mendengkur: dia ~ lombang-gelombang listrik secara visual karena terlalu lelah bekerja pd suatu layar 1orok-orok n Bot tanaman yg ditanam sbg osmium n Kim unsur logam (simbol OS) pupuk hijau, Crotalaria ferruginea yg sering ditemui dl kelompok logam 2orok-orok n titiran dibuat dr tempurung platina kelapa yg bunyinya menarik perhatian osmose n pencampuran dua macam barang ikan untuk datang berkumpul cair yg menembus sekatan (yg banyak 1orong-orong n lubang sumbu meriam pori-porinya) (bedil) kuno ostentasi /osténtasi/ n perbuatan memamer- 2orong-orong n anjing tanah kan secara berlebihan (tt kepandaian, ortodoks a 1 berpegang teguh pd peraturan kekayaan, dsb) agama; 2 kolot; berpandangan kuno osteologi /ostéologi/ n Anat cabang ilmu ortodoksi n ketaatan kpd peraturan agama anatomi yg khusus menyelidiki -
Studi Deskriptif Pembuatan, Teknik Permainan, Dan
STUDI DESKRIPTIF PEMBUATAN, TEKNIK PERMAINAN, DAN FUNGSI ALAT MUSIK SAPE’ DALAM KEBUDAYAAN SUKU DAYAK KAYAAN, DI DESA ARANG LIMBUNG KECAMATAN SUNGAI RAYA, KABUPATEN KUBU RAYA, PROVINSI KALIMANTAN BARAT SKRIPSI SARJANA DISUSUN O L E H NAMA : YOLANDA R. NATASYA NIM : 130707057 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA PROGRAM STUDI ETNOMUSIKOLOGI 2020 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA LEMBAR PENGESAHAN STUDI DESKRIPTIF PEMBUATAN, TEKNIK PERMAINAN, DAN FUNGSI ALAT MUSIK SAPE’ DALAM KEBUDAYAAN SUKU DAYAK KAYAAN, DI DESA ARANG LIMBUNG KECAMATAN SUNGAI RAYA, KABUPATEN KUBU RAYA, PROVINSI KALIMANTAN BARAT SKRIPSI Dikerjakan Oleh Nama : YOLANDA R. NATASYA N I M : 130707057 Disetujui oleh Pembimbing I, Pembimbing II, Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D. Drs. Perikuten Tarigan, M.A. NIP: 196512211991031001 NIP: 195804021987031003 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYAPROGRAM STUDI ETNOMUSIKOLOGI MEDAN 2020 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DISETUJUI OLEH: Program Studi Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara MEDAN Program Studi Etnomusikologi Ketua, Arifni Netrirosa, SST., M.A. NIP: 196502191994032002 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PENGESAHAN Diterima Oleh: Panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Seni (S.Sn) dalam bidang Etnomologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan. Hari : Tanggal : Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan, Dr. Budi Agustono, M.S. NIP. 196008051987031001 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu PerguruanTinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam skripsi ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Medan, Januari 2020 YOLANDA R. -
BRITISH and DUTCH PERCEPTIONS of CANNIBALISM in BORNEO, 1882-1964 Adrienne Smith
CONTIBUTOR BIO ADRIENNE SMITH is pursuing a Bachelor of Arts in History with a minor in Women and Gender Studies at California Polytechnic University, San Luis Obispo. She is particu- larly interested in modern Latin American and Middle Eastern studies. Adrienne is from the central coast of California, and in her free time enjoys spending time with family and friends, going to concerts, reading comic books, eating tacos, and traveling. 118 BRITISH AND DUTCH PERCEPTIONS OF CANNIBALISM IN BORNEO, 1882-1964 Adrienne Smith During Europe’s quest for direct control of Borneo from 1882-1964, British and Dutch explorers penetrated Borneo’s interior to establish colonies. Ex- plorers witnessed elaborate cannibalistic ceremonies. Some Europeans where excited by the existence of cannibals, others used the indigenous tribes’ canni- balistic customs to dehumanize them. This paper asks how British and Dutch travelers viewed cannibalism in Borneo, and why? I will argue that from 1882- 1964 British and Dutch perceptions of cannibalism in Borneo generated ex- ploration, while creating a stigma toward the indigenous people. My research required the use of travelogues in order to reach a better un- derstanding of the European perception of Southeast Asia. Travelogues provide a first-hand account of what colonizers experienced during their attempts to establish colonial rule over the East. The benefit of using travelogues is their representation of European knowledge as a whole during imperialism. The disadvantage of using travelogues, however, is they only focus on European interpretation. The examination of multiple historical approaches gives a better under- standing of Europe’s perceptions of Southeast Asian culture. -
Collecting the World
Large print text Collecting the World Please do not remove from this display Collecting the World Founded in 1753, the British Museum opened its doors to visitors in 1759. The Museum tells the story of human cultural achievement through a collection of collections. This room celebrates some of the collectors who, in different ways, have shaped the Museum over four centuries, along with individuals and organisations who continue to shape its future. The adjoining galleries also explore aspects of collecting. Room 1: Enlightenment tells the story of how, in the early Museum, objects and knowledge were gathered and classified. Room 2a: The Waddesdon Bequest, displays the collection of Renaissance and Baroque masterpieces left to the British Museum by Baron Ferdinand Rothschild MP at his death in 1898. Gallery plan 2 Expanding Horizons Room 1 Enlightenment Bequest Waddesdon The Room 2a 1 3 The Age Changing of Curiosity Continuity 4 Today and Tomorrow Grenville shop 4 Collecting the World page Section 1 6 The Age of Curiosity, 18th century Section 2 2 5 Expanding Horizons, 19th century Section 3 80 Changing Continuity, 20th century Section 4 110 Today and Tomorrow, 21st century Portraits at balcony level 156 5 Section 1 The Age of Curiosity, 18th century Gallery plan 2 Expanding Horizons 1 3 The Age Changing of Curiosity Continuity 4 Today and Tomorrow 6 18th century The Age of Curiosity The Age of Curiosity The British Museum was founded in 1753 as a place of recreation ‘for all studious and curious persons’. Its founding collection belonged to the physician Sir Hans Sloane (1660–1753). -
MANDAU SENJATA TRADISIONAL SEBAGAI PELESTARI RUPA LINGKUNGAN DAYAK Oleh
47 RITME Volume 2 No. 2 Agustus 2016 MANDAU SENJATA TRADISIONAL SEBAGAI PELESTARI RUPA LINGKUNGAN DAYAK Oleh : Hery Santosa dan Tapip Bahtiar [email protected] Departemen Pendidikan Seni Musik - FPSD Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK anyaknya pulau yang terhampar di wilayah Indonesia, menyebabkan tumbuhnya berbagai kebudayaan yang beragam. Hal ini merupakan realitas yang menguntungkan bagi negara Indonesia. Kekayaan budaya yang menjadi asset tak ternilai yang tumbuh menjadi pesona alam Indonesia. Dayak merupakan salah satu suku bangsa yang terkenal di Indonesia. Suku bangsa yang tinggal di pulau Kalimantan ini memiliki berbagai produk budaya. Aneka produk budaya telah dilahirkan di suku bangsa Dayak. Salahsatu produk budaya Dayak adalah senjata tradisional yang diberi nama Mandau. Mandau pada dasarnya dibuat untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun disamping itu ada juga yang dibuat khusus untuk digunakan dalam upacara ritual. Pada perkembangan selanjutnya, Mandau ada yang dibuat untuk keperluan tanda mata atau souvenir. Kata Kunci : Kebudayaan, Dayak, Mandau, senjata tradisi, Bagian-bagian Mandau. PENDAHULUAN teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu, diduga nenek moyang orang Hamparan pulau bumi Indonesia yang Dayak berasal dari beberapa gelombang migrasi. demikian luas dan jumlah yang banyak sangat Gelombang pertama terjadi kira-kira 1 juta tahun menunjang lahir dan banyaknya aneka ragam seni yang lalu tepatnya pada periode Intergasial- tradisi dan keunikan budaya yang ditunjukan Pleistosen. Kelompok ini terdiri dari ras setiap pulau, wilayah, dan atau suku bangsa. Australoid (ras manusia pre-historis yang berasal Salah satu yang kaya dengan ragam kesenian dari Afrika). Pada zaman Pre-neolitikum, kurang tradisional yaitu pulau Kalimantan. Pulau lebih 40.000-20.000 tahun lampau, datang lagi Kalimantan terbagi dalam beberapa wilayah kelompok suku semi nomaden (tergolong administratif, yaitu wilayahnya Kalimantan manusia moderen, Homo sapiens ras Mongoloid). -
Golok Walahir Sebagai Identitas Budaya Masyarakat Desa Sindangkerta Kabupaten Tasikmalaya
d͘ƵůŬĂƌŶĂŝŶDƵƩĂƋŝĞŶ GOLOK WALAHIR SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT DESA SINDANGKERTA KABUPATEN TASIKMALAYA T. Zulkarnain Muttaqien Universitas Telkom Jalan Telekomunikasi No. 01, Terusan Buahbatu, Bandung 40257 e-mail: [email protected] ABSTRACT Golok is an Indonesian traditional knife resembling a machete that functions as an implement in gardening or a weapon in a combat. As it serves different purposes such as slashing, splitting, cutting and hewing, golok has slightly different shapes. In some regions in Indonesia, a golok is even considered as a representation of regional identity. Thus, golok is still made and used up to now. Golok Walahir originated from Walahir village in Sindangkerta, Tasikmalaya Regency. Unlike golok originated from other areas that are still produced and become regional icon, golok Walahir is no longer made due to the absence of its blacksmith. A number of efforts must be done to preserve golok Walahir, such as by studying the possibility of remaking the golok and blacksmith generation that will preserve the golok Walahir as an iconic identity of Sindangkerta from generation to generation. Steps taken in the study were identifying the golok Walahir shapes available at present, classifying them, and making replicas of each shape. The study focused on shapes, materials and production process. Keywords: Golok Walahir, Replica, Process, Conserve, Identity ABSTRAK Golok merupakan salah satu alat bantu tradisional untuk melakukan kegiatan berkebun, berladang, dan pada masa lalu digunakan juga untuk bertarung dan bertempur. Bagi sebagian masyarakat di Indonesia golok memiliki fungsi lain, selain sebagai alat bantu kerja, golok dapat dimaknai sebagai wakil dari identitas bagi sebuah daerah atau masyarakat. -
An Eighteenth Century Japanese Sailor's Record of Insular Southeast Asia
Magotaro: An Eighteenth CenturySari Japanese 27 (2009) Sailor’s 45 - 66 Record 45 Magotaro: An Eighteenth Century Japanese Sailor’s Record of Insular Southeast Asia NOMURA TORU ABSTRAK Walaupun dipanggil Magoshici, Mogataro, pengembara Jepun dari kurun ke 18 dan lahir barangkali pada 1747 ini dirujuk sebagai Magotaro berdasarkan transkrip wawancaranya di pejabat majistret di Nagasaki. Nama yang sama digunakan dalam rekod lain, iaitu Oyakugashira Kaisen Mokuroku, rekod bisnes pada keluarga Tsugami, agen perkapalan di kampong halamannya. Dalam kertas ini, saya cuba mengesan pengalamannya dalam beberapa buah dokumen dan rekod. Yang paling penting dan yang boleh dicapai adalah An Account of a Journey to the South Seas. Ia menyiarkan kisah daripada wawancara dengannya pada usia tuanya. Dokumen rasmi lain mengenainya adalah Ikoku Hyoryu Tsukamatsurisoro Chikuzen no Kuni Karadomari Magotaro Kuchigaki yang merupakan transkrip soal siasat ke atasnya di Pejabat Majisret di Nagasa bila dia tiba di Nagasaki pada 1771. Selain itu, terdapat juga Oranda Fusetsugaki Shusei yang diserahkan kepada Natsume Izumizunokami Nobumasa, majistret Nagasaki oleh Arend Willem Feith, kapten kapal Belanda yang membawa Magotaro dihantar balik ke Jepun. Sumber-sumber lain, termasuk manuskrip, mempunyai gaya sastera, tetapi kurang dipercayai. Kata kunci: Korea, Jepun, China, membuat kapal, pengangkutan marin, Banjarmasin ABSTRACT Although called Magoshichi, the eighteenth century Japanese adventurer, Mogataro, born probably in 1747, was referred to as Magotaro, based on the transcript of his interview at the Nagasaki Magistrate Office. The same name is used in another record, Oyakugashira Kaisen Mokuroku, a business record of the Tsugami family, a shipping agent in Magotaro’s home village. In this paper, I attempt to trace his experiences in a number of documents and records. -
A. Brand Merit, Hierarchy and Royal Gift-Giving in Traditional Thai Society In
A. Brand Merit, hierarchy and royal gift-giving in traditional Thai society In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 131 (1975), no: 1, Leiden, 111-137 This PDF-file was downloaded from http://www.kitlv-journals.nl Downloaded from Brill.com09/29/2021 10:23:22AM via free access A. BRAND MERIT, HIERARCHY AND ROYAL GIFT-GIVING IN TRADITIONAL THAI SOCIETY Festivals, rites and processions, already the subject of extensive comment in the reports of early travellers and ethnologists, have retained their great importance in the analysis of traditional states. Anthropologists in search of manifestations of political power have continued to focus on "religious" rites, cremations and festivals, i.e., on phenomena which ostensibly have nothing much to do with administration and politics. Though Geertz has complained that in their concern for these matters anthropologists are "like theologians firmly dedicated to proving the indubitable",1 he himself also emphasizes that it is in ritual that we can find "the public dramatization of ruling obsessions",2 inter alia the obsession with specific "secular" social ties. To study "obsessions" or, in different terms, "value systems" via ritual has an obvious advantage: the strength of the obsession, as Norbert Elias has hinted, can be correlated with the length, frequency and elaborate- ness of the ritual.3 When one looks at the numerous festivals which occurred in traditional Thai society with these considerations in mind, an obvious target for analysis springs to the fore, viz. the Thot Khatin festival. Thot Khatin means literally the "laying down of the holy cloth", or the presentation of monastic robes. -
Download (6MB)
Kainus Melayu Bali-Indonesia Oleh: I Gusti Ngurah Bagus I Made Denes IKetut Darma Laksana NyomanFutrini IKetutGinarsa 14 -\S Pusat Pemhlnaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan den Kebudayaau Jakarta 1985 Hak Cipta pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prpustkon Pt Po ml) inon irnmnanBahas No: KIIfk; No, 6 .29 TiiL : ltd. ----------- Penyunting: Adi Sunaryo Cetakan Pertaina Naskah buku mi, yang semula merupakan hasil Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah taliun 1981/1982, djterbitkan dengan dana Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia. Staf Inti Proyek Drs. Tony S. Rachmadie (Pemimpin)., Samidjo (Bendaharawan), Drs. S.R.H. Sitanggang (Sekretaris), Drs. S. Amran Tasai, Ds. A. Patoni, Dra. Siti Zahra Yundia±'i, dan Drs. E. Zainal Arifin (para asisten). Sebagian atau seluiuh isi buku mi dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit. kecuali dalam hal kutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan llxniah. Alamat Penerbit Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun Jakarta 13220 II PR AK AT A Sejak Rencana Pembangunan Lima Tahun 11(1974), telah digariskan ke- bijakan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional dalam berbagai seginya. Dalam garis haluan mi, masalah kebahasaan dan kesastraan merupa- kan salah satU masalah kebudayaan nasional yang perlu ligarap dengan sungguh-sungguh dan berencana sehingga tujuan akhir pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dan daerah, termasuk sastranya, dapat tercapai. Tujuan akhir pembinaan dan pengembangan itu, antara lain, adalah meningkatkan mutu kemampuan menggunakan bahasi Indonesia sebagai sarana komunikasi nasional, sebagaimana digariskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara. Untuk mencapai tujuan itu, perlu dilakukan kegiatan ke- bahasaan dan kesastraan, seperti (1) pembakuan ejaan, tata bahasa, dan per. -
Control and Prosperity: the Teak Business in Siam 1880S–1932 Dissertation Zur Erlangung Des Grades Des Doktors Der Philosophie
Control and Prosperity: The Teak Business in Siam 1880s–1932 Dissertation zur Erlangung des Grades des Doktors der Philosophie an der Fakultät Geisteswissenschaften der Universität Hamburg im Promotionsfach Geschichte Südostasiens (Southeast Asian History) vorgelegt von Amnuayvit Thitibordin aus Chiang Rai Hamburg, 2016 Gutachter Prof. Dr. Volker Grabowsky Gutachter Prof. Dr. Jan van der Putten Ort und Datum der Disputation: Hamburg, 13. Juli 2016 Table of Content Acknowledgement I Abstract III Zusammenfassung IV Abbreviations and Acronyms V Chapter 1 Introduction 1 1.1 Rationale 1 1.2 Literature Review 4 1.2.1 Teak as Political Interaction 5 1.2.2 Siam: Teak in the Economy and Nation-State of Southeast Asia 9 1.2.3 Northern Siam: Current Status of Knowledge 14 1.3 Research Concepts 16 1.3.1 Political Economy 16 1.3.2 Economic History and Business History 18 1.4 Source and Information 21 1.4.1 Thai Primary Sources 23 1.4.2 British Foreign Office Documents 23 1.4.2.1 Foreign Office Confidential Print 24 1.4.2.2 Diplomatic and Consular Reports on Trade and Finance 24 1.4.3 Business Documents 25 1.5 Structure of the Thesis 25 1.6 Thai Transcription System and Spelling Variations 29 Part I Control Chapter 2 Macro Economy and the Political Control of Teak 30 2.1 The Impact of the Bowring Treaty on the Siamese Economy 30 2.2 The Bowring Treaty and the Government’s Budget Problem 36 2.3 The Pak Nam Incident of 1893 and the Contestation of Northern Siam 41 2.4 Conclusion 52 Chapter 3 The Teak Business and the Integration of the Lan Na Principalities -
Berkala Arkeologi
BERKALA ARKEOLOGI Vol. 16 No. 2, November 2013 ISSN 1410 – 3974 Naskah Bambu Namanangon Ribut: Salah Satu Teks dari Batak Mandailing Yang Tersisa Namanongon Ribut Bamboo Script: One of The Remaining Batak Mandailing Texts Churmatin Nasoichah Potensi Kepurbakalaan di Pulo Aceh Archaeological Potential In Pulo Aceh Dyah Hidayati Makna Penguburan Bersama Masa Prasejarah dan Tradisinya di Sumatera Bagian Utara The Meaning Of Pre-Historic Communal Burial And Its Tradition In North Sumatera Ketut Wiradnyana Studi Kelayakan Arkeologi Di Situs Kota Cina, Medan (Studi Awal Dalam Kerangka Penelitian Arkeologi) Archaeological Feasibility Study of the Kota Cina site, Medan (A Preliminary Study of the Archaeological Research Framework) Stanov Purnawibowo Syailendrawangsa: Sang Penguasa Mataram Kuno Syailendrawangsa: The Ruler Of The Ancient Mataram Baskoro Daru Tjahjono Komunikasi Efektif Dalam Penyelamatan Patung Pangulubalang Terhadap Potensi Konflik Vertikal di Kabupaten Simalungun An Effective Communication in The Salvation of Pangulubalang Statue as an Anticopation to Vertical Conflict Potentials in The Regency of Simalungun Defri Elias Simatupang Kelapa Dalam Catatan Arkeologi dan Historis: Upaya Pengembangan Kebijakan Tanaman Serba Guna Coconuts in Historical and Archaeological Records: an Effort of Developing Multi-Purposes Plants Lucas Partanda Koestoro KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BALAI ARKEOLOGI MEDAN Medan, BAS VOL. 16 NO. 2 Hal 113 -- 233 ISSN 1410 – 3974 November 2013 BERKALA ARKEOLOGI Vol. 16 No. 2, NOVEMBER 2013 ISSN 1410 - 3974 Berkala Arkeologi “SANGKHAKALA” adalah wadah informasi bidang arkeologi yang ditujukan untuk memajukan kegiatan penelitian arkeologi maupun kajian ilmu lain yang terkait dengan arkeologi, serta menyebarluaskan hasil-hasilnya sehingga dapat dinikmati oleh kalangan ilmuwan khususnya dan masyarakat luas umumnya. Redaksi menerima sumbangan artikel dalam bahasa Indonesia maupun asing yang dianggap berguna bagi perkembangan ilmu arkeologi. -
Enciclopedia Delle Illustrata Delle Armi Bianche
Enciclopedia delle illustrata delle armi bianche Abbasi Versione del Rajput della spada lunga indiana con lama rinforzata da nastri di metallo perforato. La Abbasai Talwar è una sciabola del Punjab. Accetta (vedi anche Scure); (Ing. Battle-axe; fr. Hache d'armes; ted. Streitaxt) Piccola scure molto in uso in Europa centro-orientale nel 1500-1600. A e B: Accetta; C e D: Scure d'arme; E: Accetta alla siciliana; F: Steigerhacke; G: Scure del guastatore. L’accetta alla siciliana è molto lavorata ed era arma cerimoniale nel 1600-1700. La Steigerhacke era arma cerimoniale dei minatori tedeschi e svedesi dal 150 al 1700. (Immagine di C. De Vita) 1 Enciclopedia delle illustrata delle armi bianche Achico Tipo di bolas con tre palle. Acinaces (meglio Akinakes) Corta spada persiana (500 a. Cr.) originaria degli Sciti (ricostruzione di fantasia). Aclys Corto giavellotto romano Adarga Arma che pare fosse usata dai nel 1400 dagli arabi; era formata da uno scudo con una lama infissa perpendicolarmente su di esso e dall’impugnatura formata da due 2 Enciclopedia delle illustrata delle armi bianche lance contrapposte. Agny Astra Specie di razzo incendiario lanciato da un tubo di bambù, in uso presso gli antichissimi Hindu. Ahir Corta spada ricurva dei Mahratta (immagine di una riproduzione di fantasia). Ahlspiess Quadrellone munito di ampio disco di arresto alla base del ferro; in uso in ambiente tedesco nel 1400. Aikuchi, Kusungobu La parola aikuchi indica una particolare montatura del coltello giapponese, senza guardia con lama lunga 0,95 piedi (cm. 27,5 circa) e di solito senza nastratura con in vista la pelle di razza e le borchie (menuki).