Buku Dinamika Hindu 2019.Pdf
Total Page:16
File Type:pdf, Size:1020Kb
Load more
Recommended publications
-
Discourses Exploring the Space Between Tradition and Modernity in Indonesia
In the 8th International Indonesia Forum Conference DISCOURSES EXPLORING THE SPACE BETWEEN TRADITION AND MODERNITY IN INDONESIA i Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta 1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). ii In the 8th International Indonesia Forum Conference DISCOURSES EXPLORING THE SPACE BETWEEN TRADITION AND MODERNITY IN INDONESIA Editorial Board: Hermanu Joebagio, Frank Dhont Pramudita Press iii In the 8th International Indonesia Forum Conference Sebelas Maret University, Solo, Indonesia 29 – 30 July 2015 Organized by: Sebelas Maret University and International Indonesia Forum DISCOURSES EXPLORING THE SPACE BETWEEN TRADITION AND MODERNITY IN INDONESIA Editorial Board: Hermanu Joebagio, Frank Dhont Paper Contributor: -
Perkembangan Revitalisasi Kesenian Berbasis Budaya Panji Di Bali1) Oleh Prof
1 Perkembangan Revitalisasi Kesenian Berbasis Budaya Panji di Bali1) Oleh Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. Program Studi Sastra Jawa Kuna, FIB, UNUD Pendahuluan Bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun meliputi periode waktu yang panjang. Kekayaan budaya bangsa Indonesia yang terwarisi hingga hari ini ada yang berupa unsur budaya benda (tangible), seperti keris, wayang, gamelan, batik, candi, bangunan kuno, dan lain-lain; serta ada yang berupa unsur budaya tak benda (intangible), seperti sastra, bahasa, kesenian, pengetahuan, ritual, dan lain-lain. Kekayaan budaya bangsa tersebut merepresentasikan filosofi, nilai dasar, karakter, dan keragaman adab. Sastra Panji adalah salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia. Sastra Panji merupakan sastra asli Nusantara (Sedyawati, 2007:269). Sastra Panji diperkirakan diciptakan pada masa kejayaan Majapahit. Sastra Panji dapat dipandang sebagai revolusi kesusastraan terhadap tradisi sastra lama (tradisi sastra kakawin) (Poerbatjaraka,1988:237). Sebagaimana dikatakan Zoetmulder (1985:533) bahwa kisah-kisah Panji disajikan secara eksklusif dalam bentuk kidung dan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan. Persebarannya ke pelosok Nusantara diresepsi ke dalam kesusastraan berbagai bahasa Nusantara. Sastra Panji telah banyak dibicarakan ataupun diteliti oleh para pakar, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, antara lain Rassers (1922) menulis tentang kisah Panji dalam tulisan berjudul “De Pandji-roman”; Berg meneliti kidung Harsawijaya (1931) dan menerbitkan artikel -
Kumpi Mangku Mendongeng.Pdf
Made Taro ii ;wOaV ♦ ^ » i Memton^eim perpustakaan BADAN BAHASa BALAI BAHASA BALI 2018 No. kiduk: XO'O^-'S KUMPI MANGKU MENDONGENG Penulis Made Taro Ilustrator Wied N. Pracetak SlamatTrisila Penerbit Balai Bahasa Bali Jalan Trengguli I No. 34, Tembau Denpasar, Bali 80238 Telepon (0361|461.714 ■paksimile (0361 463656 Cetakan Pertama: 2018 ISBN 978-602-51338-7-9 . ■ S ' *■ . k • "! :j. ;• i'. .*'' ' 'a i Sekapur Sirih MENDONGENG LIMA MENIT, SEBUAH TEROBOSAN Tradisi lisan yang turun-temumn dalam bentuk mendongeng di rumah tangga tidak populer lagi. Sebut saja itu resiko perubahan zaman. Perubahan itu bukan saja melanda masyarakat Indonesia tetapi masyarakat di seluruh dunia. Sebabnya adalah karena perubahan poia hidup masyarakat yang menuntut kesejahteraan lahir-batin, dalam suasana persaingan. Penemuan teknologi modern yang serba canggih, efektif, efisien dan praktis, sangat memengaruhi suasana persaingan tersebut. Di satu sisi nilai-nilai budaya yang mentradisi itu tidak rela untuk ditinggalkan begitu saja. Penemuan baru boleh hadir, tetapi tidak harus merusak tatanan hidup yang diwarnai penanaman nilai moral. Diakui, tradisi mendongeng masih dibutuhkan dalam menegakkan nilai moral dan pendidikan karakter, yang dilakukan sejak dini terhadap anak-anak. Muncullah bentuk mendongeng model baru, seperti storytelling (mendongeng) yang dikemas dalam bentuk pertunjukan yang kini marak dilakukan di berbagai negara. Salah satu model storytelling yang saya tawarkan adalah 'mendongeng lima menit'. Model itu dapat dilakukan secara lisan maupun dalam bentuk kegiatan membaca atau membacakan untuk orang lain. Waktu yang diperlukan hanya lima menit (lebih kurang), sehingga terasa tidak menyiksa waktu yang dibutuhkan dalam memenuhi tuntutan hidup. Bentuk terobosan serupa itu juga berarti tidak menghilangkan tradisi lisan yang diakui keunggulannya sebagai kegiatan komunikatif (komunikasi timbal-balik), akrab, segar dan ill berisi. -
Jam'iyyah Nahdlatul Ulama
KATA PENGANTAR RAIS SYURIYAH PCNU PONOROGO NU DAN BUDAYA OTOKRITIK Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahim Tiada kata yang pantas terucap selain rasa syukur kepada Allah SWT., atas pertolongan-Nya, buku dengan judul Membaca dan Menggagas NU ke Depan: Senarai Pemikiran Orang Muda NU bisa terbit di hadapan sidang pembaca. Kami ucapkan banyak terima kasih kepada Litbang PCNU Ponorogo dan PC ISNU Ponorogo atas prakarsa dan kerja kerasnya menerbitkan buku Senarai Pemikiran ini. Buku ini diharapkan bisa menjadi awal perkembangan dan transformasi tradisi NU di Ponorogo, yakni dari tradisi oral ke tradisi tulis. Sebagaimana NU kaya akan tradisi, akan tetapi pembacaan terhadap tradisi tersebut tidak banyak didokumentasikan dalam bentuk buku. Padahal buku lebih memungkinkan untuk dibaca dan diapresiasi banyak kalangan, bahkan lintas generasi sekalipun. Inilah makna silsilah atau transmisi keilmuan yang tidak asing lagi bagi masyarakat NU. Membaca judul buku ini berikut topik-topik yang ditawarkan, buku ini bisa dinilai sebagai bentuk otokritik terhadap “kemapanan” tradisi NU di Ponorogo. Budaya otokritik sesungguhnya bukan hal yang asing, bahkan menggejala dalam tradisi agama dan keagamaan, serta organisasi keagamaan. Otokritik atau kritik internal dari pemeluk agama, atau penganut organisasi keagamaan mempunyai nilai yang sangat strategis. Otokritik adalah penanda kesadaran untuk bangkit dan maju sesuai dengan dinamika kemajuan zaman. Senyampang kritik tersebut tidak mengarah pada relativisme, atau bahkan nihilisme. Karena “menjadi maju” tidak bermakna meninggalkan v Membaca dan Menggagas NU ke Depan sama sekali tradisi dan nilai-nilai adiluhung, akan tetapi mengawinkan tradisi dengan semangat zaman. Tanpa ada perkawinan antara tradisi dan kemajuan zaman, justru organisasi ini akan ditanggalkan oleh para anggotanya. Bukankah NU mempunyai slogan al-muhafadah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah. -
Lampiran 16. Infrastruktur Jaringan Irigasi Dan Air Bersih. 1). Gambar Danau Tasikardi Dewasa Ini. Keterangan: Danau Tasikardi D
Lampiran 16. Infrastruktur Jaringan Irigasi dan Air Bersih. 1). Gambar Danau Tasikardi Dewasa Ini. Keterangan: Danau Tasikardi dibangun pada masa Sultan Maulana Yusuf, merupakan penampung air yang digunakan untuk keperluan irigasi pertanian dan sumber air bersih di Kesultanan Banten. Untuk memproses air bersih, air diproses menggunakan sistem pangindelan (penyaringan) melalui tiga tahap, yaitu: Pangindelan Abang, Pangindelan Putih dan Pangindelan Emas. Sumber: Dokumen pribadi, Rabu, 12 Juni 2013. 2). Gambar Pangindelan Abang, tempat untuk proses awal dalam menyaring air bersih. Jaraknya dari Danau Tasikardi. yaitu sekitar 200 meter. Sumber: Dokumen pribadi, Rabu, 12 Juni 2013. 3). Gambar Pangindelan Putih, tempat kedua untuk memrproses air bersih. Jaraknya sekitar 200 meter ke arah utara Pangindelan Abang. Sumber: Dokumen pribadi, Rabu, 12 Juni 2013. 4). Gambar Pangindelan Emas, tempat terakhir dari keseluruhan proses penyaringan. Atap bangunan ini tampak hancur. Sumber: Dokumen pribadi, Rabu, 12 Juni 2013. 5). Gambar saluran air yang menghubungkan pangindelan dengan Keraton Surosowan. Sumber: Dokumen pribadi, Selasa, 11 Juni 2013. 6). Gambar saluran air di dekat Keraon Surosowan Sumber:Dokumen Pribadi, Jumat, 7 Juni 2013. 7). Gambar pipa-pipa yang digunakan untuk menyalurkan air bersih. Sumber: Dokumen pribadi, Rabu, 12 Juni 2013. Lampiran 18. Jembatan Rante. Gambar Jembatan Rante. Keterangan: Jembatan Rante menghubungkan dua jalan utama yang terdapat di Kota Banten. Jembatan ini juga difungsikan sebagai Tolhuis, yaitu tempat untuk menarik pajak perahu-perahu dagang kecil yang melintas. Sumber: Dokumen Pribadi, Rabu, 12 Juni 2013. Lampiran 19. Suasana Kampung Kasunyatan Beserta Bangunan Penting di Sekitarnya. 1). Gambar salah satu jalan di Kampung Kasunyatan Sumber: Dokumentasi pribadi, Jumat, 7 Juni 2013. 2). -
Peran Sail Sabang 2017 Sebagai Instrumen Diplomasi
1 PERAN SAIL SABANG 2017 SEBAGAI INSTRUMEN DIPLOMASI KEBUDAYAAN INDONESIA Oleh Sri Indyah Puspita Sari 20150510365 Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta [email protected] ABSTRACT This paper explains about how Sail Sabang can be an instrument of Indonesian cultural diplomacy. Sail Sabang is an activity also an event which has became an international scale where participants or foreign tourists visit each designated area. Sail Sabang has a route from Kupang as an entry port, next to Timor Tengah Utara-Alor- Labuhan Bajo (Komodo)-Sumbawa Besar-Medana Bay Lombok Utara-Lovina (Buleleng, Bali)-Karimunjawa-Kumai Pangkalanbun-Manggar-Belitung- Ketawai-Bintan- and the last at Sabang (Aceh). The participants used their yacht to yachting in heading to the transit point area.Using one of soft power concept that is cultural diplomacy, Indonesia through Sail Sabang could show their superiorities such as cultures and nature with exhibitions. Besides to show their superiorities, Indonesia wants to prove as a save, peace and friendly country for foreign tourists and they will receive hospitality and welcomed by Indonesia people. To prove them, Indonesia through Sail Sabang able to became a realm of interaction for yachters with local people. Keywords: Sail Sabang, Sail Indonesia 2017, Cultural Diplomacy, Indonesia ABSTRAK Penulisan ini menjelaskna tentang bagaimana Sail Sabang dapat menjadi sebuah instrumen dari diplomasi kebudayaan Indonesia. Sail Sabang adalah sebuah aktivitas sekaligus acara berskala internasional di mana peserta atau wisatawan mancanegara mengunjungi setiap daerah yang ditentukan. Sail Sabang memiliki rute Kupang sebagai entry port kemudian menuju Timor Tengah Utara-Alor- Labuhan Bajo (Komodo)-Sumbawa Besar-Medana Bay Lombok Utara-Lovina (Buleleng Bali)-Karimunjawa-Kumai Pangkalanbun-Manggar-Belitung-Ketawai- Bintan- dan terakhir Sabang, Aceh. -
Shiura-Cowries-2017.Pdf
Mongolia 32 Munkhtulga Rinchinkhorol Protection of Cultural Heritage in Urban Areas in Mongolia: The Tonyukuk Complex Nepal 39 Suresh Suras Shrestha Post Earthquake Conservation, Reconstruction and Rehabilitation in Nepal: Current Status New Zealand 44 Matthew Schmidt Heritage on the Move: The preservation of William Gilbert Rees ca. 1864 Meat Shed Pakistan 50 Tahir Saeed A Recent Study of the Individual Buddha Stone Sculptures from Gandhara, Pakistan Philippines 56 Louella Solmerano Revilla Restoration of the Roman Catholic Manila Metropolitan Cathedral-Basilica Sri Lanka 62 D.A. Rasika Dissanayaka Vee bissa and Atuwa: Earthen Structures for Storing Granary in Ancient Sri Lanka Uzbekistan 66 Akmal Ulmasov Preliminary Results of Archaeological Researches in the Karatepa Buddhist Center (in 2014-2015) Vanuatu 70 Richard Shing Identifying Potential Archaeological Sites on a Polynesian Outlier – Preliminary Archaeological Survey on Futuna Bangladesh Bangladesh Especial Type of Ancient Pottery — Northern Black Polished Ware (NBPW) — Obtained from Mahasthangarh (Ancient Pundranagara) Archaeological Site and Its Chronological Study Mst. Naheed Sultana, Regional Director Department of Archaeology, Ministry of Cultural Affairs, People’s Republic of Bangladesh Introduction: Clay or mud is a very ordinary thing, and is thickened grooved rim. There was very fine fabric, with a simply a covering of earth. This earth has been used for grey and black core and well levigated. Both surfaces were different works since 10,000 years ago (Singh 1979:1). For very smooth, and were black slipped, red slipped and our existence in the world, in our daily work, in religious, polished. cultural, and political works and royal orders, clay has been the greatest and most invaluable material. -
Pola Lantai Panggung Un Dan Kompetensi Dasar Yang Tercantum Dalam Kurikulum
Alien Wariatunnisa Yulia Hendrilianti Seni Tari Seni Seni S e untukuntuk SSMA/MAMA/MA KKelaselas XX,, XXI,I, ddanan XXIIII n i Tari untuk SMA/MA Kelas X, XI, dan XII untuk SMA/MA u nt u Yulia Hendrilianti Yulia Alien Wariatunnisa PUSAT PERBUKUAN Kementerian Pendidikan Nasional Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Penulis Alien Wariatunnisa Seni Tari Yulia Hendrilianti untuk SMA/MA Kelas X, XI, dan XII Penyunting Isi Irma Rahmawati Penyunting Bahasa Ria Novitasari Penata Letak Irma Pewajah Isi Joni Eff endi Daulay Perancang Sampul Yusuf Mulyadin Ukuran Buku 17,6 x 25 cm 792.8 ALI ALIEN Wiriatunnisa s Seni Tari untuk SMA/MA Kelas X, XI, dan XII/Alien Wiriatunnisa, Yulia Hendrilianti; editor, Irma Rahmawati, Ria Novitasari.—Jakarta: Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional, 2010. xii, 230 hlm.: ilus.; 30 cm Bibliograę : hlm. 228 Indeks ISBN 978-979-095-260-7 1. Tarian - Studi dan Pengajaran I. Judul II. Yulia Hendrilianti III. Irma Rahmawati IV. Ria Novitasari Hak Cipta Buku ini dialihkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional dari Penerbit PT Sinergi Pustaka Indonesia Diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2010 Diperbanyak oleh... Kata Sambutan Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2009, telah membeli hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis/penerbit untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui situs internet (website) Jaringan Pendidikan Nasional. Buku teks pelajaran ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan telah ditetapkan sebagai buku teks pelajaran yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 49 Tahun 2009 tanggal 12 Agustus 2009. -
Monografi Kerukunan Umat Beragama Di Indonesia I MONOGRAFI KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA
Monografi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia i MONOGRAFI KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA Hak cipta dilindungi Undang-Undang All Rights Reserved Editor: Dr. Kustini Desain Cover & Layout: Sugeng Pujakesuma Diterbitkan oleh: LITBANGDIKLAT PRESS Jl. M. H. Thamrin No.6 Lantai 17 Jakarta Pusat Telepon: 021-3920688 Fax: 021-3920688 Website: balitbangdiklat.kemenag.go.id Anggota IKAPI No. 545/Anggota Luar Biasa/DKI/2017 Cetakan: Pertama Oktober 2019 ISBN: 978-602-51270-6-9 ii Monografi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia PENGANTAR EDITOR Buku ini berisi deskripsi pengalaman-pengalaman baik (best practices) terkait kerukunan umat beragama di empat daerah yang kemudian disusun menjadi sebuah monografi. Mengacu kepada Surat Edaran Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Nomor 3 Tahun 2015 tentang Standarisasi Kegiatan Pengembangan Bidang Kelitbangan di lingkungan Badan Litbang dan Diklat menyatakan bahwa monografi adalah karya tulis ilmiah hasil penelitian dan pengembangan yang rinci pada sebuah topik tertentu dengan pembahasan yang mendalam dan ditulis dengan berbagai pendekatan keilmuan dalam bentuk format buku dan dipublikasikan secara khusus. Bagi Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, kajian atau penelitian terkait kerukunan, sebagaimana yang tertuang dalam naskah ini, bukanlah hal yang baru. Sejak lembaga Badan Litbang Kementerian Agama ini dibentuk tahun 1975 dan memiliki satu unit eselon II yang saat ini dikenal dengan nomenklatur Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, telah banyak dilakukan kegiatan terkait kerukunan dan toleransi. Kajian dimaksud dapat berupa penelitian, diskusi, seminar, lokakarya maupun dialog pengembangan wawasan multikultural. Kegiatan yang disebut terakhir ini, yaitu Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural antara Pemuka Agama Pusat dan Daerah, telah dilakukan sejak tahun 2002 ke 34 provinsi. -
MAKNA SIMBOLIK DEWA WISNU DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus: Pura Parahyangan Jagat Guru Di Nusa Loka BSD, Tangerang Selatan)
MAKNA SIMBOLIK DEWA WISNU DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus: Pura Parahyangan Jagat Guru Di Nusa Loka BSD, Tangerang Selatan) Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S. Ag) Disusun Oleh: Muhammad Furqan Haqqy NIM: 11150321000026 PRODI STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1442 H / 2021 M LEMBAR PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Muhammad Furqan Haqqy NIM : 11150321000026 Fakultas : Ushuluddin Jurusan/Prodi : Studi Agama-Agama Alamat Rumah : Jl. Pancoran Timur II D No. 29, RT:012/002, Pancoran, Jakarta Selatan Telp/HP : 082298399178 Judul Skripsi : MAKNA SIMBOLIK DEWA WISNU DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus: Pura Parahyangan Jagat Guru Di Nusa Loka BSD, Tangerang Selatan) Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Skripsi ini merupakan karya asli yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S-1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam Skripsi ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidatullah Jakarta. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain. Maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. ii MAKNA SIMBOLIK DEWA WISNU DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus: Pura Parahyangan Jagat Guru Di Nusa Loka BSD, Tangerang Selatan) Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S. Ag) Oleh: Muhammad Furqan Haqqy NIM: 11150321000026 Pembimbing: Siti Nadroh, M.Ag NUPN 9920112687 PRODI STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1442 H / 2021 M iii PENGESAHAN PANITIA UJIAN MUNAQASYAH Skripsi berjudul “MAKNA SIMBOLIK DEWA WISNU DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus: Pura Parahyangan Jagat Guru di Nusa Loka BSD, Tangerang Selatan)” telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 12 Juli 2021. -
Profil Budaya Dan Bahasa Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT DATA DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROFIL BUDAYA DAN BAHASA KAB. MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PROFIL BUDAYA DAN BAHASA KABUPATEN MALANG PROVINSI JAWA TIMUR KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT DATA DAN TEKNOLOGI INFORMASI TANGERANG SELATAN, 2020 Profil Budaya dan Bahasa Kab. Malang Provinsi Jawa Timur Diterbitkan Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gedung Grha Tama, Lantai 4 Jl. R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan Pengarah: Dr. Budi Purwaka, S.E., M.M. Editor: Dr. Dwi Winanto Hadi, M.Pd. Penyusun Naskah: Lauda Septiana, S.Si. Desainer Grafis: Hendri Syam, S.T. Cetakan pertama, ISBN: 978-602-8449-60-1 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak cipta dilindungi Undang-Undang All rights reserved. Dilarang memperbanyak buku ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit. Profil Budaya dan Bahasa Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur iIi Kata Pengantar Penyusunan profil ini dilakukan berdasarkan hasil verifikasi dan validasi data kebudayaan dan kebahasaan di wilayah Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dalam rangka terwujudnya output layanan data dan informasi di Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, data yang disajikan bersumber dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur, Balai Pelestarian Nilai Budaya D. I. Yogyakarta, serta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Profil ini menguraikan kekayaan dan keragaman budaya Kabupaten Malang baik dari segi warisan budaya benda, warisan budaya tak benda dan bahasa. Hal ini bertujuan agar data kebudayaan dan kebahasaan dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna untuk mendukung pelaksanaan pemajuan kebudayaan, yaitu untuk melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia. -
DINAMIKA KEBUDAYAAN DI KOTA GIANYAR -.:: GEOCITIES.Ws
DINAMIKA KEBUDAYAAN DI KOTA GIANYAR : Dari Kota Keraton sampai Kota Seni, 1771 – 1980-an A.A. Bagus Wirawan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unud Denpasar Disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah VIII di Jakarta 14 – 17 Nopember 2006 1. Landasan Tipologi Kota. Dalam proses sejarah, sebagian besar kota berasal dari komonitas elite bangsawan atau berkat adanya pasar. Kebutuhan ekonomi dan kebutuhan politik daerah milik seorang bangsawan dapat mendorong orang untuk melakukan perdagangan guna memenuhi permintaan yang hanya dapat terlaksana dengan bekerja ataupun dengan menukar barang. Dalam kota yang berasal dari komunitas seperti itu, barang keperluan keraton, dan istana bangsawan (puri) itu seringkali merupakan sumber pendapatan, bahkan merupakan sumber pokok bagi penduduk daerah. Apabila kondisi demikian itu merupakan konfigurasi yang berlainan dengan desa, maka wajarlah bila kota itu menjadi tempat tinggal raja, para bangsawan, baudanda bhagawanta (keraton, puri) maupun tempat pasar, bencingah, alun-alun, dan lain-lainnya (Sartono Kartodirdjo, 1977). Landasan tipologi terbentuknya kota Gianyar dan untuk memahaminya mengikuti sejarah perkembangan kota, lokasi serta ekotipenya, fungsinya, dan unsur- unsur sosio-kultural adalah menggunakan konsep dan tipe-tipe kota seperti yang terdapat di pelbagai negeri (Sartono Kartodirdjo, 1977). Akan tetapi, untuk menyoroti kota Gianyar akan dipilih tipe kota yang relevan terutama kota-kota kuno di Asia (M. Irfan Mahmud, 2003 : Bab II). Di kota-kota Asia, apa yang disebut gilde belum sepenuhnya terlepas dari ikatan kerabat seperti ikatan klan; (kewangsaan) yang sebagai suatu komunitas ingin memegang monopoli dalam suatu pertukangan serta pemasaran hasil karyanya. Dalam kegiatan tukar menukar barang, muncul pula orang-orang asing misalnya Cina atau Arab. Mengenai lokasi kota-kota dapat dikatakan bahwa kota terletak di berbagai lokasi.