Dancing with Legitimacy Globalisation, Educational Decentralisation, and the State in Indonesia
Total Page:16
File Type:pdf, Size:1020Kb
Load more
Recommended publications
-
Opini Siswa Tentang Rencana Penghapusan Ujian Nasional Pada Tahun 2021 (Studi Kasus Pada Sma Negeri 2 Medan)
OPINI SISWA TENTANG RENCANA PENGHAPUSAN UJIAN NASIONAL PADA TAHUN 2021 (STUDI KASUS PADA SMA NEGERI 2 MEDAN) SKRIPSI Oleh : NOVITA BELIA MUNTHE NPM : 1603110055 Program Studi Ilmu Komunikasi FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA MEDAN 2020 vi ii KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan Rahmat dan Karunia Nya serta telah memberikan kekuatan dan kesehatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul Opini siswa tentang rencana penghapusan ujian nasional pada tahun 2021 (studi kasus pada SMA Negeri 2 Medan) tepat pada waktu yang telah ditentukan. Tugas akhir ini penulis persembahkan kepada yang teristimewah yaitu Ayahanda Sahimin Munthe dan Ibunda Fatimah, engkau adalah orang tua nomor satu di dunia ini. Serta abang dan kakak penulis Angga Maulana Munthe, Yuliana Munthe, S.T dan Desi Triana Munthe, S.E.,M.Ak yang merupakan bagian hidup penulis yang senantiasa mendukung dan mendoakan dari sejak penulis lahir hingga sekarang. Selama masa perkuliahan sampai masa penyelesaian tugas akhir ini, penulis banyak memperoleh bimbingan dan dukungan dari banyak pihak. Untuk itu, dengan setulus hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada: vi ii i 1. Bapak Dr. Agussani, M.AP selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. 2. Bapak Dr. Arifin Saleh, S.Sos.,MSP selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Bapak Drs. Zulfahmi, M.I.Kom selaku Wakil Dekan I, Bapak Abrar Adhani, S.Sos., M.I.Kom selaku Wakil Dekan III. 3. Ibu Nurhasanah Nasution, S.Sos., M.I.Kom selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Bapak Akhyar Anshori S.Sos.,M.I.Kom selaku sekertaris program studi Ilmu Komunikasi. -
Many Shot Dead by Troops
Tapol bulletin no, 65, September 1984 This is the Published version of the following publication UNSPECIFIED (1984) Tapol bulletin no, 65, September 1984. Tapol bulletin (65). pp. 1-20. ISSN 1356-1154 The publisher’s official version can be found at Note that access to this version may require subscription. Downloaded from VU Research Repository https://vuir.vu.edu.au/26281/ British Campaign for the Defence of Political Prisoners and Human Rights in Indonesia T APOL Bulletin No. 65. September 1984 Tanjung Priok incident Many shot dead by troops Well over two dozen people were shot dead and many more Tanjung Priok is Jakarta's dockland where economic and social wounded when troops fired on demonstrators in Tanjung Priok problems are serious: who were demanding that the police release four people. Tempo (22 September) put the number killed at 28, while the Petititon Economically, (it is) not the worst off but work is irregular and life of-50 group in a statement (see below) said forty people died. insecure. The country's imports have been down dramatically, re ducing port employment, and recently the government has suddenly The event which occurred on 12 September was the climax to banned much stevedoring activity . .. There is also an ecological a series of incidents provoked by local police and army security problem: fresh water is difficult and expensive to obtain in Tanjung officers. On 7 September, a mubalig (preacher) had made a Priok. (Far Eastern Economic Review, 27 September 1984.) sermon at the Rawa Badak mosque denouncing government policy, in particular, according to Tempo, land seizures, the Many dockworkers and seamen in the area are from devout family planning programme and the Societies Law (see page 2) . -
Download (2MB)
BAB I PENDAHULUAN POLITIK PERDA SYARIAT Dialektika Islam dan Pancasila di Indonesia Ma’mun Murod Al-Barbasy i POLITIK PERDA SYARIAT MA’MUN MUROD AL-BARBASY ii BAB I PENDAHULUAN POLITIK PERDA SYARIAT Dialektika Islam dan Pancasila di Indonesia Ma’mun Murod Al-Barbasy Kata Pengantar Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA. iii POLITIK PERDA SYARIAT MA’MUN MUROD AL-BARBASY POLITIK PERDA SYARIAT Dialektika Islam dan Pancasila di Indonesia Penulis : Ma’mun Murod Al-Barbasy Penyunting : Ahmad Mu'arif, S. Ag., MA. Pemeriksa aksara : Mumsika Desain sampul : Amin Mubarok Tataletak isi : Dwi Agus M Diterbitkan pertama kali oleh: Penerbit Suara Muhammadiyah Jl. KHA Dahlan No. 43, Yogyakarta 55122 Telp. : (0274) 376955, Fax. (0274) 411306 SMS/WA : 0812 1738 0308 Facebook : Penerbit Suara Muhammadiyah E-mail : [email protected] (Redaksi) [email protected] (Admin) Homepage : www.suaramuhammadiyah.id Cetakan I : Desember 2017 Hak cipta edisi bahasa Indonesia © Penherbit Suara Muhammadiyah, 2017 Hak cipta dilindungi undang-undang ISBN: 000-000-0000-00-0 iv PENGANTAR PENULIS KATA PENGANTAR BUKU berjudul “Politik Perda Syariat: Dialektika Islam dan Pancasila di Indonesia” yang ada di tangan pembaca ini pada mu lanya merupakan karya Disertasi dengan judul: “Islam dan Negara: Studi Kasus Perumusan, Perdebatan, dan Kontroversi serta Peran Politik Muhammadiyah dan NU dalam Proses Pembuatan Perda 12 Tahun 2009 Kota Tasikmalaya.” Karena isinya dirasa penting untuk dipublikasikan, maka saya merasa perlu untuk menerbitkannya dalam bentuk buku, tentu setelah membuang beberapa isi Disertasi yang dirasa tidak perlu untuk terbitan sebuah buku. Buku ini mengangkat tema besar tentang Perda Syariat dan juga peran Muhammadiyah dan NU dalam proses pembuatan Perda Sya riat. -
Majelis Wali Amanat Tetapkan Prof. Dr. Rina Indiastuti, S.E., M.Sie
ISSN 2685-6697 OKTOBER 2019 UNIVERSITAS PADJADJARAN GENTRA NEWSLETTER MAJELIS WALI AMANAT TETAPKAN PROF. DR. RINA INDIASTUTI, S.E., M.SIE. SEBAGAI REKTOR UNPAD PERIODE 2019-2024 GENTRA | DAFTAR ISI Daftar Isi Majelis Wali Amanat Menristekdikti Resmikan Tetapkan Prof. Dr. Rina Kawasan Sains dan 4 Indiastuti, S.E., M.SIE., 6 Teknologi Padjadjaran Sebagai Rektor Unpad Periode 2019-2024 Unpad Miliki Enam Prodi Magister Pariwisata Guru Besar Baru Berkelanjutan Unpad Gelar 15 19 “Unpad Tourism Day 2019” Fedri Ruluwedrata Atlet Unpad Sumbang Rinawan, dr., M.Sc.PH, Medali di Pomnas 21 PhD, Sosok di Balik 24 Aplikasi “iPosyandu” Joker dan Kaitannya Rumpun Fakultas Dengan Kesehatan Kesehatan Unpad Gelar 30 Mental? 34 Konferensi Internasional World Clean up Day, Galeri Unpad Mahasiswa Unpad 40 Terjun Langsung 46 Bersihkan Sampah di Jatinangor 2 UNIVERSITAS PADJADJARAN REDAKSI | GENTRA Tim Redaksi Pelindung Rektor Universitas Padjadjaran Penasehat Para Wakil Rektor Universitas Padjadjaran Penanggung Jawab Direktur Tata Kelola, Komunikasi Publik, Kantor Internasional Pemimpin Umum Kepala Kantor Komunikasi Publik Pemimpin Redaksi Arief Maulana Redaktur Pelaksana Artanti Hendriyana Fotografer Atep Rustandi, Arief Maulana Layout Krisna Eka Pratama, Kansy Haikal Sekretariat Safa Annisaa, Derisa Ambar P, Marlia, Winda Eka Putri, Lilis Lisnawati Tim Kontributor Mahasiswa Unpad Alamat Redaksi Kantor Komunikasi Publik Direktorat Tata Kelola & Komunikasi Publik Universitas Padjadjaran Gedung Rektorat Lantai 1 Jln. Raya Bandung – Sumedang Km. 21 Jatinangor, Kab. Sumedang OKTOBER 2019 3 GENTRA | LAPORAN UTAMA Majelis Wali Amanat Tetapkan Prof. Dr. Rina Indiastuti, S.E., M.SIE., Sebagai Rektor Unpad Periode 2019-2024 roses Pemilihan Rektor Universitas Padjadjaran Periode 2019-2024 berakhir sudah. Majelis Wali Amanat (MWA) menetapkan PProf. -
Perpustakaan.Uns.Ac.Id Digilib.Uns.Ac.Id Commit to User 88
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id BAB II DESKRIPSI LOKASI A. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 1. Profil partai Gambar 2.1 Lambang Partai PDIP Sumber : http://kpu-surakartakota.go.id a) Pengurus Pusat/ DPP : Ketua Umum : Megawati Soekarnoputri Sekretaris : Tjahjo Kumolo Bendahara :Olly Dondokambey b) Pengurus DPC Kota Surakarta : Ketua : FX. Hadi Rudyatmo Sekretaris : Drs. Teguh Prakosa Bendahara : Hartanti, SE Alamat kantor : Jl. Hasanudin No.26, Purwosari, Laweyan commit to user 88 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id89 2. Sejarah partai PDI Perjuangan adalah partai politik yang memiliki tali kesejarahan dengan partai politik masa orde lama. PDI Perjuangan merupakan kelanjutan dari Partai Demokrasi Indonesia yang berdiri pada tanggal 10 Januari 1973. Partai Demokrasi Indonesia itu lahir dari hasil fusi 5 (lima) partai politik. Kelima partai politik tersebut yaitu; Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik Republik Indonesia, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Murba (gabungan Partai Rakyat Jelata dan Partai Indonesia Buruh Merdeka). Pada saat Orde Baru ada gagasan agar supaya fusi (penggabungan) partai dilakukan, tepatnya 7 Januari tahun 1970. Soeharto melontarkan gagasan pengelompokan partai politik dengan maksud untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang lebih tentram lebih damai bebas dari konflik agar pembangunan ekonomi bisa di jalankan. Tanggal 27 Februari 1970 Soeharto mengundang lima partai politik yang dikategorikan kelompok pertama yaitu PNI (Partai -
Pancasila Democracy to Religious Socialism and Its Chance Against Law Based on Religion
International Journal of Humanities and Social Science Invention ISSN (Online): 2319 – 7722, ISSN (Print): 2319 – 7714 www.ijhssi.org ||Volume 5 Issue 3 ||March. 2016 || PP.15-20 Pancasila Democracy to Religious Socialism and Its Chance against Law Based On Religion Cucu Solihah Faculty of Law, Universitas Suryakancana Jl. Pasir Gede Raya, Cianjur. ABSTRACT: Ideology within a country influences both law and economic policy. Economic capitalism, socialism, Islamic economy and also the economy of Pancasila has its own character in which will influence the level of welfare of the society of Indonesia with the constitution and ideology of Pancasila philosophy has led to a value order of national and state law on the foundations of economic values of Pancasila, which provides opportunities to accommodate the religious law, including the law derived from zakat which incidentally is one of the elements of the Islam religious law into legislation. It is a part of capacity in carrying out functions of the state to realize the ideals of justice and public welfare. Keywords: Democracy, Law, Society, Welfare. I. Introduction The process of thinking within the countries in the West in the middle ages had transcendental values, drawing a condition as follows: 1. The vacuum state concept in Christianity 2. Theory of theocracy with different variations of Augustine, Thomas Aquinas and others 3. The reaction to the theory of theocracy (the beginning of secularization) 4. Secular state A condition with the transcendental value will be strongly influenced by human faith in God.1 Democracy has become the system of the majority of countries in the world, has been able to change a policy direction of a country. -
Telaah Terhadap Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Pendidikan Pondok Asrama Tamansiswa
TELAAH TERHADAP PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN PONDOK ASRAMA TAMANSISWA Oleh : Waharjani Abstrak Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang Ki Hadjar Dewantara melahirkan pemikiran Pondok Asrama Tamansiswa; wujud konkrit sistem penyelenggaraan pendidikan Pondok Asrama Tamansiswa; dan untuk mengetahui sosialisasi pemikiran tersebut di saat Ki Hadjar Dewantara masih hidup. Pembahasan yang perolehan datanya berupa dokumen/manuskrip itu dilakukan penggalian datanya dengan metode dokumenter dan metode analisis deskriptif sebagai analisa data. Adapun hasil pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa pemikiran pendirian Pondok Asrama itu lahir karena subyektivitas Ki Hadjar Dewantara yaitu (1) bahwa sistem pendidikan pondok adalah sistem pendidikan nasional yang ideal; (2) perlu adanya peningkatan kualitas kader pamong muda Tamansiswa melalui pendidikan khusus dengan peserta didik yang diasramakan dan lengkap dengan kurikulum yang memadai, berorientasi dalam semangat dan budaya bangsanya. Di antara wujud konkrit pendidikan Pondok Asrama Tamansiswa adalah pendidikan model asrama yang di dalamnya terdapat ruang belajar bagi para cantrik dan pamong, rumah-rumah guru, rumah cantrik dan kelengkapan lainnya yang berada dalam satu lokasi. Bersama-sama seluruh penghuni menciptakan suasana tertib damai sehingga kopel-kopel itu disebut pondok merdeka. Waharjani: Telaah Terhadap Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Pendidikan Pondok Asrama Tamansiswa A. Latar Belakang Ki Hadjar Dewantara pernah mencita-citakan model pesantren bagi sistem pendidikan yang ingin dikembangkannya, karena model itu dinilainya sebagai kreasi budaya Indonesia, setidak-tidaknya Jawa. Cita- cita tersebut diwujudkan dengan nama Pondok Asrama Tamansiswa yang dibuka pendiriannya di Bandung dan Yogyakarta. Setelah berjalan dengan baik maka model pendidikan itu oleh Ki Sarino Mangunpranoto, salah satu murid Ki Hadjar, dikembangkan dengan Sekolah Farming di Ungaran. -
H. Bachtiar Bureaucracy and Nation Formation in Indonesia In
H. Bachtiar Bureaucracy and nation formation in Indonesia In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 128 (1972), no: 4, Leiden, 430-446 This PDF-file was downloaded from http://www.kitlv-journals.nl Downloaded from Brill.com09/26/2021 09:13:37AM via free access BUREAUCRACY AND NATION FORMATION IN INDONESIA* ^^^tudents of society engaged in the study of the 'new states' in V J Asia and Africa have often observed, not infrequently with a note of dismay, tihe seeming omnipresence of the government bureau- cracy in these newly independent states. In Indonesia, for example, the range of activities of government functionaries, the pegawai negeri in local parlance, seems to be un- limited. There are, first of all and certainly most obvious, the large number of people occupying official positions in the various ministries located in the captital city of Djakarta, ranging in each ministry from the authoritative Secretary General to the nearly powerless floor sweepers. There are the territorial administrative authorities, all under the Minister of Interna! Affairs, from provincial Governors down to the village chiefs who are electecl by their fellow villagers but who after their election receive their official appointments from the Govern- ment through their superiors in the administrative hierarchy. These territorial administrative authorities constitute the civil service who are frequently idenitified as memibers of the government bureaucracy par excellence. There are, furthermore, as in many another country, the members of the judiciary, personnel of the medical service, diplomats and consular officials of the foreign service, taxation officials, technicians engaged in the construction and maintenance of public works, employees of state enterprises, research •scientists, and a great number of instruc- tors, ranging from teachers of Kindergarten schools to university professors at the innumerable institutions of education operated by the Government in the service of the youthful sectors of the population. -
The Partai Nasional Indonesia, 1963
THE PARTAI NASIONAL INDONESIA 1963-1965 J. Eliseo Rocamora Reputations once acquired are hard to shed. The stereotype of the Partai Nasional Indonesia (PNI) as an opportunist, conservative party composed of Javanese prijaji elements remains despite basic changes which occurred within the party in the later years of Guided Democracy. Tljis undifferentiated image of the PNI arose in the early 1950's and, for that time, it represented a fairly accurate, though limited, description. As the party began to change under the impetus of Guided Democracy politics and the push of internal party dynamics, Indonesian and foreign observers either disregarded the party alto gether or tended to seek explanations for these changes in outside factors." Thus, the PNI's "turn to the left," in the 1963 to 1965 period, was termed variously as: an opportunistic response to the increasingly leftist politics of Guided Democracy; the result of strong pressure from President Sukarno; or the work of PKI (Communist Party) infiltration of the party leadership. The fact that Djakarta's political cognoscenti-- journalists and intellectuals--continue to espouse and disseminate this interpreta tion reflects biases born of their own political attitudes and in volvement. A similarly-limited view of the PNI in Western academic literature is in part the result of the paucity of work on the Guided Democracy period and in part a consequence of an excessive concentra tion on a few actors at the center. The generally-accepted framework for analyzing Guided Democracy politics1--a three-sided triangle made up of Sukarno, the Army and the PKI--only explains certain facets of Indonesian politics, that is, the major battles for ideological and institutional predominance. -
Normalisasi Konstitusional
NORMALISASI KONSTITUSIONAL II . s Or a t -su r a t 1. 58 Tokoh Masyarakat kepada Pimpinan dan Anggota MPR/DPR. Anggota MPR/DPR. 2. MASHURI (Sesepuh GOLKAR) kepada Ketua Umum D.P. Golongan Karya. 3. PROF. DR. IR. R. ROOSSENO kepada H.M. Sanusi Hardjadinata M. Natsir dan A.H. Nasution. Penerbit: YAYASAN KESADARAN BERKONSTITUSI PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. wb. Yayasan Kesadaran Berkonstitusi (YLKB) beberapa waktu yang lalu telah menerbitkan buku berisi pemikiran tiga tokoh masyarakat Indonesia, H.M. Sanusi Hardjadinata, M. Natsir, A.H. Nasution bersama-sama mengutarakan per lunya normalisasi kehidupan konstitusional. Agar udara segar normalisasi kehidupan konstitusional sehari-hari secara nyata dapat terhirup, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Di antaranya ialah: 1. Diakhiri selekasnya kewenangan darurat ekstra kons titusional (TAP MPR No.: VI/MPR/1988.) dan beserta semua unsur-unsur terkaitnya yang masih tertinggal, sehingga dapatlah tertegakkan normalisasi konstitusio nal dengan sepenuhnya (Pelaksanaan Pancasila dan UUD Proklamasi secara mumi penuh dan konsekwen penuh). 2. Semua lembaga permusyawaratan/perwakilan hanya di susun dengan cara pemilu belaka (luber); dan harus di- berfungsikan menurut kemurnian pelaksanaan UUD Proklamasi. Khusus MPR supaya terbentuk sesuai keten tuan dalam Penjelasan UUD Proklamasi: ’’Supaya selu ruh rakyat, seluruh golongan dan daerah mempunyai wakil dalam Majelis, sehingga Majelis ini dapat dianggap sebagai penjelmaan rakyat”. 3. Dirubah dan disesuaikan perundang-undangan dan per aturan yang bersangkutan secara konstitusional, di mana perlu secara bertahap, dan dengan masa peralihan, na mun hendaklah dalam tempo sesingkatnya. Ditekankan pula oleh tiga tokoh masyarakat tersebut, bahwa dalam mengisi kemerdekaan dengan pembangunan f ekonomi seyogianyalah secara demokratis mulai dari peren canaan ke penyusunannya; dan dari penetapan ke pelaksana annya. -
Mohammad Natsir (1948) in M E M O R Ia M : M O H a M M a D N a T S Ir (1907- 1993)
Mohammad Natsir (1948) In M e m o r ia m : M o h a m m a d N a t s ir (1907- 1993) George McT. Kahin On February 6,1993 Mohammad Natsir died in Jakarta at the age of 84. Last of the giants among Indonesia's nationalist and revolutionary political leaders, he undoubtedly had more influence on the course of Islamic thought and politics in postwar Indonesia than any of his contemporaries. By nature extraordinarily modest and unpretentious, he had a well deserved reputation for personal integrity and political probity. He always lived sim ply with respect to house and attire, even in 1950 as prime minister. (When I first met him in 1948 and he was the Republic's minister of information, I found a man in what was surely the most mended shirt of any official in Yogyakarta; it was his only shirt, and the staff of his office a few weeks later pooled their resources to get him a new one in order, they told me, that their boss would look like "a real minister.") Bom of Minangkabau parents in the West Sumatran town of Alahan Panjang ( some 30 miles south of Solok) on July 17,1908, Natsir grew up in what he remembered to be a very religious area. It was also agriculturally prosperous—in contrast, he recalled, to the impov erished nearby Silungkung district which was a center of the Communist uprising of 1927. His father was a clerk in a government office in Alahan Panjang who had graduated from an Indonesian language primary school and did not know Dutch (HIS schools had not yet been established in the area). -
Telaah Terhadap Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Pendidikan Pondok Asrama Tamansiswa
THE 5TH URECOL PROCEEDING 18 February 2017 UAD, Yogyakarta TELAAH TERHADAP PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN PONDOK ASRAMA TAMANSISWA Oleh : Waharjani Program Studi Tafsir Hadis FAI Universitas Ahmad Dahlan ABSTRAK Pembahasan dalam makalah seminar ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang munculnya gagasan Ki Hadjar Dewantara dalam melahirkan pemikiran Pondok Asrama Tamansiswa; wujud konkrit sistem penyelenggaraan pendidikan Pondok Asrama Tamansiswa; dan untuk mengetahui sosialisasi pemikiran tersebut di saat Ki Hadjar Dewantara masih hidup. Pembahasan yang perolehan datanya berupa dokumen/manuskrip itu dilakukan penggalian datanya dengan metode dokumenter dan metode analisis deskriptif sebagai analisa data, dengan pendekatan historis. Adapun pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa pemikiran itu lahir karena subyektivitas Ki Hadjar Dewantara yaitu (1) bahwa pondok sistem adalah sistem nasional yang ideal; (2) perlu adanya peningkatan kualitas para pamong muda tamansiswa melalui pendidikan khusus dengan peserta didik yang diasramakan dan lengkap dengan kurikulum yang memadai, berorientasi dalam semangat dan budaya bangsanya. Di antara wujud konkrit pendidikan Pondok Asrama Tamansiswa adalah pendidikan model asrama yang di dalamnya terdapat ruang belajar bagi para cantrik dan pamong, rumah-rumah guru, rumah cantrik dan kelengkapan lainnya yang berada dalam satu lokasi. Bersama-sama seluruh penghuni menciptakan suasana tertib damai sehingga kopel-kopel itu disebut pondok merdeka. Kata kunci: Pendidikan Pondok. Pondok Asrama, Padepokan, Tamansiswa. itu ingin belajar dari apa yang sedang ia 1. LATAR BELAKANG lakukan untuk mendidik kaum marhein Ki Hadjar Dewantara pernah dalam pertanian modern dengan cara mencita-citakan model pesantren bagi nyantri. sistem pendidikan yang ingin Pada tahun 1960-an pemikiran dikembangkannya, karena model itu Ki Hadjar Dewantara tentang pondok dinilainya sebagai kreasi budaya asrama Tamansiswa tersebut nampaknya Indonesia, setidak-tidaknya Jawa.Cita- belum seutuhnya dapat diwujudkan.