Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 107

KONSEP MANCAPAT-MANCALIMA DALAM STRUKTUR KOTA KERAJAAN MATARAM ISLAM Periode Kerajaan Pajang Sampai Dengan

Junianto Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Merdeka Malang [email protected]

ABSTRAK

Unsur-unsur kota tradisional di Jawa pada masa kerajaan Mataram Islam, antara lain berupa Keraton, Alun-alun, Masjid, Pasar dan sejumlah permukiman Abdi-dalem. Susunan unsur-unsur kota tersebut, didasari keyakinan kosmologi Jawa yang bersumber dari kepercayaan Hindu-Budha. Kerajaan Mataram Islam bermula di Pajang dan berakhir di Surakarta dan . Perpindahan kota kerajaan Mataram Islam mulai dari Pajang, , Plered, Kartasura, hingga Surakarta, menunjukkan gejala pergeserah struktur kotanya. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi pergeseran atau perubahan struktur kota kerajaan Mataram Islam, dalam implementasi konsep mancapat-mancalima. Gambaran struktur kota kerajaan Mataram islam, dilakukan dengan metode deskriptif-ideographik, melalui analisis dokumen peta atau denah dan keterangan sejarah. Penggunaan metode ini, dimaksudkan untuk menggambarkan makna struktur atau susunan unsur-unsur kota kerajaan Mataram Islam, yang menjadi struktur kota awal. Identifikasi konsep mancapat-mancalima yang menjadi ciri kota Jawa, cukup signifikan sebagai struktur kota awal dalam menelusur perkembangan kota sekarang.

Kata Kunci: konsep struktur kota tradisional, mancapat, kota surakarta

ABSTRACT

The elements of a traditional city in Java during the Islamic Mataram kingdom, including the Palace, Alun-alun, Mosque, Market and a number of Abdi-dalem settlements. The composition of the elements of the city, is based on Javanese cosmological beliefs originating from Hindu-Buddhist beliefs. The Islamic Mataram Kingdom began in Pajang and ended in Surakarta and Yogyakarta. The movement of the Islamic Mataram royal city starting from Pajang, Kotagede, Plered, Kartasura, to Surakarta, showed symptoms of a shift in the structure of the city. This study aims to identify shifts or changes in the structure of the Islamic Mataram royal city, in the implementation of the mancapat-mancalima concept. The description of the structure of the Islamic city of Mataram, carried out with a descriptive-ideographic method, through analysis of map documents or floor plans and historical information. The use of this method, is intended to illustrate the

108 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

meaning of the structure or arrangement of elements of the Islamic Mataram royal city, which became the initial city structure. The identification of the mancapat-mancalima concept that characterizes the city of Java is quite significant as the initial city structure in tracking the city's current development.

Keywords: traditional city structure concept, mancapat, Surakarta city

PENDAHULUAN Kerajaan Mataram Islam, berdiri setelah kerajaan bentuk’ yang sangat kuat terhadap pola struktur Demak berakhir. Pusat kerajaan tersebut berawal di kota. Penelusuran struktur kota awal (tradisional) Pajang, yang berada di wilayah sebelah barat Kota bertujuan mendapatkan identitas “kota Jawa” dan Surakarta. Seiring pergantian penguasa, pusat unsur-unsurnya, yang signifikan berpengaruh dalam kerajaan berpindah-pindah, mulai dari Pajang, pola transformasinya. Kotagede, Plered, Kartasura, hingga berpindah di Pemahaman masyarakat tentang “kota”, berbeda Surakarta. Jejak perpindahan pusat kerajaan antara yang satu dengan lainnya, juga dari kurun Mataram Islam tersebut, menunjukkan unsur-unsur waktu satu dengan lainnya. Dalam masyarakat Jawa kota yang sama, berupa Keraton, Alun-alun, Masjid, tradisional misalnya, pemahaman ‘kota’ Pasar, rumah-rumah bangsawan dan permukikan diabstraksikan dengan sebutan kutha, yakni suatu abdi-dalem. lingkungan berpagar bata atau tembok. Lingkungan Sistem kekuasaan raja di Jawa, memiliki bentuk yang di dalam tembok tersebut, merupakan tempat tinggal bercorak sakral, dalam konsepsi wahyu atau dikenal pimpinan ‘negara’ atau wilayah, para pejabat, serta dengan “Dewa – Raja” (Santoso, 1984). Berlatar para abdi (pegawai). Pemahaman kutha tersebut, legitimasi sakral tersebut, konsepsi kota-kota yang kemudian mengalami perubahan, seiring munculnya tumbuh dari sebuah pusat kerajaan, niscaya simbol-simbol pengganti unsur-unsur fisik. berlandaskan konsepsi religius-budaya. Keraton dan Pengertian kutha, selanjutnya diartikan sebagai raja dalam hal pranata kehidupan masyarakatnya, papan padunungan atau tempat pimpinan ‘negara’ berperan menjadi pusat kebudayaan. Kekuasaan raja atau wilayah, tanpa harus dibatasi tembok. bersifat mutlak dan tidak mengenal institusi hukum Penggambaran kota, juga bisa dilihat secara yang independen. Seiring berjalannya pemerintahan morfologis. Morfologi kota merupakan pendekatan Keraton dan kehidupan masyarakat kota dengan secara fisik, dengan mengkaitkan latar sejarah puncak kekuasaan raja, terbangunlah pola struktur pembentukan unsur-unsur kota tersebut. Sebagai kota, yang berciri khas unik (Junianto, 2017:27). artefak, kota memiliki bentuk fisik yang berlatar Sistem kekuasaan raja tersebut, mempunyai ‘daya ungkapan peradaban-kebudayaan masyarakat

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 109

penghuninya. Dari jejak pusat-pusat kerajaan Jawa, tidak bisa lepas dengan pusat-pusat kerajaan Mataram Islam, kota Surakarta berbeda jaman Mataram Islam lainnya. Namun demikian, pusat- dengan sebelumnya. Pajang, Kotagede, Plered dan pusat kerajaan Mataram Islam pra-kolonial, Kartasura, merupakan kota-kota kerajaan Mataram sebenarnya lebih besar dilatarbelakangi oleh Islam pra-kolonial. Kota Surakarta berdiri pada masa kebudayaan pra-Islam. kolonial Hindia Belanda, tumbuh berkembang Pusat-pusat kerajaan Mataram Islam yang menjadi dalam kolase aneka budaya, sangat menarik untuk fokus penelitian ini, berawal dari perpindahan dikaji perbandingan struktur kotanya dengan Pajang, Keraton Pajang ke Kotagede, sekitar tahun 1587. Kotagede, Plered maupun Kartasura. Kota-kota bekas pusat kerajaan tersebut, secara Perkembangan kota Surakarta, niscaya berbeda keseluruhan mempunyai ciri yang sama sebagai kota dengan pusat kerajaan Mataram Islam lainnya. kerajaan Islam. Ciri yang umum adalah adanya Alun- Penelitian kota-kota bersejarah, seperti halnya jejak alun dengan Masjid di sebelah baratnya, serta pusat kerajaan Mataram Islam, perlu dilakukan, Keraton. Walaupun mengikuti pola kota kerajaan mengingat peran kerajaan tersebut dalam budaya Mataram Islam secara umum, namun pada Jawa dan pranata kehidupan tradisional. Hal tersebut kenyataan terdapat perbedaan satu dengan lainnya. juga karena perkembangan kota semakin pesat, Perbedaan tersebut terjadi dan dilatarbelakangi oleh khususnya di kota Surakarta dan Kotagede. struktur sosial masyarakatnya yang berbeda. Pada Perkembangan kota sebuah keniscayaan, sebagai kasus kota Surakarta, telah banyak pengaruh dari upaya pemenuhan penciptaan ruang kehidupan yang fasilitas pemerintah Hindia Belanda. Pengaruh lebih baik. Disisi lain, pemahaman sejarah awal budaya pra-Islam di Kotagede, juga menunjukkan pembentukan kota sangatlah penting, sebagai titik pola bentuk struktur kota yang berbeda dengan kota tolak perencanaan masa datang. lainnya. Rapoport (dalam Catanese, 1986) merumuskan kesimpulan umum, bahwa kota selalu Kerajaan Mataram Islam merupakan jejak yang mempunyai struktur dan bentuk. Perbedaan satu sangat penting di Jawa, mengingat semasa dengan lainnya, hanyalah pada sifat penataan, hirarki kejayaannya pernah menguasai sebagian besar dan morfologinya. wilayah saat ini, Selain itu, kurun waktu pemerintahan yang sangat lama, menanamkan Implementasi konsep mancapat-mancalima dalam budaya yang cukup kuat. Surakarta merupakan salah struktur kota kerajaan Mataram Islam, terpancang satu kota kerajaan Mataram Islam, yang tumbuh pada sejarahnya dan dalam latar budayanya berkembang bersamaan dengan kolonial Hindia (Murtiyoso, 1993). Kajian terhadap implementasi Belanda. Penelusuran konsep kosmologi mancapat- konsep ini dan maknanya, sangat penting bagi upaya mancalima di kota Surakarta, yang berlatar spiritual pemahaman karakter kota-kota bersejarah tersebut.

110 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

Dengan mengetahui struktur kota awal terbentuknya tersebut membentuk suatu lingkaran, sekaligus suatu kota, akan menentukan arah perkembangan menjadi ciri kota Surakarta. kota tersebut kemudian hari. Kolase unsur-unsur Kosmologi keraton Surakarta, secara imajiner kota dalam strukturnya, dapat dibaca sebagai latar berupa lingkaran-lingkaran, dengan pusatnya adalah budaya dan dalam konteks unsur-unsur kota keraton (Behrend, 1982). Lingkaran-lingkaran tersebut. Berdasarkan hal tersebut, terdapat tersebut secara konsentrik menunjukkan tingkatan permasalahan yang menarik untuk dikaji, yaitu : area yang hirarkis. Keraton dianggap sebagai pusat pertama, struktur kota kerajaan Mataram Islam, ‘dunia’ atau makrokosmos. Bangsal Prabayasa tersusun dari unsur-unsur apa saja (?); kedua, apa sebagai tempat kedudukan raja, berbentuk bangunan makna konsep mancapat-mancalima dalam struktur Joglo, melambangkan Meru, dan raja dianggap kota tersebut (?). sebagai titisan dewa berperan menjaga KOTA KERAJAAN MATARAM ISLAM keseimbangan alam. Konsep tersebut sejaran Fenomena sebuah kota, terlebih berlatar sejarah dengan kajian Santoso (1984) perihal tata ruang kerajaan besar, merupakan hal yang komplek dan ‘negara’ Mataram Islam. Ruang kota Surakarta memerlukan kajian dari bebagai disiplin ilmu. Dalam berdasar konsep kosmologi, terbagi menjadi dua kajian sejarah, Suratman (1989) meneliti kehidupan kutub yang bersifat sakral dan profan (Santoso, dunia keraton Surakarta antara tahun 1830-1939. 1984). Daerah di sebelah utara alun-alun Utara Penelitian disertasi tersebut, mengungkap gambaran dianggap bersifat profan, sedangkan daerah di kehidupan orang-orang di dalam keraton dan juga sebelah selatan alun-alun Utara bersifat sakral. masyarakat Surakarta yang terkait dalam sistem Konsep mancapat-mancalima dalam struktur kota kehidupan kehidupan keraton tersebut. Dalam kerajaan Mataram Islam pada kajian ini, merupakan kajian ini, dipaparkan berbagai aspek kehidupan, content analysis terhadap makna struktur kota awal meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, kultural dan yang berlatar magis sakral. Unsur-unsur kota yang juga unsur-unsur kotanya. Pola komunitas keraton, tersusun berdasar konsep kosmologi, menunjukkan terjadi struktur yang menyangkut berbagai dimensi. penggambaran budaya yang bernilai historis tinggi. Dalam bidang Arkeologi, Sumarlina (1993) meneliti Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pola tata kota Surakarta, pada awal berdiri dan makna konsep mancapat-mancalima dalam struktur perkembangannya. Dalam kajian tersebut, kota kerajaan Mataram Islam, sekaligus menjadi ciri digambarkan bahwa pola tata kota Surakarta khasnya. Penelitian yang mendasari kajian ini, direncanakan berdasarkan konsep kosmologi. bersifat mendeskripsikan latar belakang budaya Keraton sebagai pusat, dikelilingi oleh permukiman terjadinya tata fisik struktur kota bekas pusat yang menyebar ke arah empat mata-angin. Pola kerajaan Mataram Islam. Mendeskripsikan atau

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 111

menggambarkan, merupakan keinginan untuk Daerah lingkaran kedua ini, sering disebut ‘negara’, melihat fenomena pada keseluruhan latar yang sebagai tempat bermukim kaum bangsawan, pejabat menjadi kasus penelitian (Muhadjir, 1990:138). tinggi keraton, Masjid, Alun-alun, serta bangunan- bangunan penting lainnya. Lingkaran ketiga, disebut Penataan ruang pada masa kerajaan Mataram Islam, negara agung (tanah suci). Wilayah negara agung dibagi mengenal suatu hubungan yang mempunyai struktur menjadi sejumlah tanah gadhuh yang berstatus hak tertentu antara negara agung (pusat) dan guna pakai. Lingkaran ke-empat dalam sistem hirarki mancanegara. Penerapan secara ketat perihal tata ruang negara Mataram, disebut daerah penataan tersebut, terjadi pada masa abad ke-16 mancanegara. Wilayah mancanegara ini, dipimpin oleh hingga abad ke-18 (Santoso, 1984). Tata ruang beberapa orang bupati yang merupakan bawahan ‘negara’ Jawa masa kerajaan Mataram Islam, terbagi langsung dari Patih Dalem (Santoso, 1984). dalam sistem lingkaran, dengan empat radius berbeda secara hirarkis (Soemardjan, 1991). Raja Pengertian “lingkaran pusat” dalam hirarki tata berkedudukan sebagai pusat sistem, secara simbolik ruang kerajaan Mataram tersebut, lebih bersifat sebagai satu-satunya segala kekuasaan dan ruang kosmis yang abstrak. Semua kekuatan magis kewibawaan. Raja dianggap memiliki segala dan kosmis, dilambangkan dalam bentuk pusaka sesuatunya di dalam ‘negara’. Kehormatan dan kerajaan. Pusat kosmis, dengan demikian memiliki kedudukan, keadilan dan wibawa, kebijaksanaan dan arti kekuatan magis (pusaka) tersebut. Lingkaran kesejahteraan, kesemuanya menjelma dalam diri pusat, berupa ‘Dalem’ (Keraton) diartikan sebagai sang raja. tempat pusaka, bukan sekedar tempat tinggal raja. Pemisahan keruangan antara Dalem Keraton dengan Secara keruangan, raja identik dengan Keraton, yang bagian-bagian lainnya di dalam negara, didasari oleh secara kosmologis merupakan lingkaran pusat bagi sifat kesakralan tersebut. Berdasar konsep demikian, ‘negara’. Dalam lingkaran pusat tersebut, menjadi kedudukan Keraton, Alun-alun dan Masjid, tempat tinggal raja bersama keluarganya. Keraton merupakan bagian yang sakral dari wilayah negara. selain berfungsi sebagai tempat tinggal raja. Juga Dalam wilayah negara, pada bagian lainnya bersifat sebagai tempat kedudukan administrasi dalam profan duniawi. Dalam wilayah profan ini, terdapat (parentah jero). Administrasi dalam merupakan antara lain Kepatihan, pasar, permukiman abdi-dalem lembaga pengatur lingkungan di dalam benteng termasuk prajurit, serta permukiman penduduk. Keraton dan juga sekaligus menjadi penghubung antara raja dengan administrasi luar atau parentah jaba Penataan ruang ‘negara’ Mataram Islam, dapat (Junianto, 2016). dianggap sebagai dua sistem hirarkis yang tumpang tindih (superimposed). Sistem lingkaran yang pertama, Dalam struktur tata ruang ‘negara’ Mataram Islam, terdiri dari tiga garis imajiner keruangan yang sebagai ibukota berada di lingkaran (imajiner) kedua.

112 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

dianggap sakral, yaitu lingkaran batas Dalem, KEHIDUPAN DAN SIMBOLISME lingkaran batas komplek Keraton dan batas negara MASYARAKAT JAWA agung. Sistem lingkaran kedua, juga terdiri dari tiga Pada masa kerajaan Mataram islam, masyarakatnya garis imajiner keruangan, bersifat profan duniawi. kental dengan latar budaya Jawa, yang merupakan Lingkaran profan ini, meliputi lingkaran batas kulturasi sejak lama, sebelum kerajaan Islam. komplek Keraton (parentah jero), lingkaran batas Masyarakat Jawa beranggapan bahwa kehidupan di ‘negara’ (pusat birokrasi kerajaan) dan lingkaran batas dunia merupakan bagian dari kesatuan eksistensi, mancanegara. Superposisi dari kedua sistem lingkaran yang mencakup segalanya. Dalam kesatuan tersebut, tersebut, melambangkan azas penataan ruang negara semua gejala mempunyai tempat dan berada dalam Mataram Islam (Santoso, 1984). hubungan yang saling melengkapi dan terkoordinasi satu sama lain (Mulder, 1985:19). Keyakinan masyarakat Jawa ini, menjadi konsep dasar dalam upaya masyarakat menuju keselarasan tatanan. Keselarasan tersebut, tidak hanya manusia (mikrokosmos) dengan makrokosmos, tetapi juga keselarasan di dalam diri manusia itu sendiri. Kegiatan manusia, diutamakan untuk mempertahankan keselarasan ini di dalam lingkungan hidupnya. Gangguan terhadap mikrokosmos dan makrokosmos, dianggap juga sebagai gangguan atas alam semesta. Dalam ajaran-ajaran Jawa, dikenal penuh dengan simbolisme, yang memacu angan dan renungan. Ajaran tersebut, juga terkandung dalam mitologi wayang purwa, yang diilhami oleh Mahabarata. Kehidupan di dunia dianggap hanya merupakan pencerminan semata. Kehidupan harafiah, diyakini sebagai suatu bayangan dari kebenaran dan kejadian- Gambar 1 : Lingkaran Tata Ruang Negara Mataram kejadian yang lebih tinggi. Dalam konsepsi tatanan Sumber : Santoso, 1984 kehidupan di ’dunia’ tersebut, berkaitan dengan tatanan kehidupan negara (Mangunwijaya, 1988:129).

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 113

Negara dalam pandangan masyarakat Jawa pada mengenal sistem klasifikasi simbolik. Sistem-sistem masa kerajaan, dapat berarti Keraton. Negara klasik tersebut, adalah seperti dikenal dengan klasifikasi semacam ini, menurut Gesick (1989), tidak simbolik berkategori dua, tiga, empat, lima, tujuh diperintah atau diatur dengan sangat sistematik. dan sembilan. Sistem klasifikasi simbolik dalam Masyarakat hidup dalam kekuatan alam simbolik, kehidupan masyarakat Jawa, dapat ditelusuri demi menjaga keutuhan tatan negara. Tatanan berdasarkan pada sistem kategori dua, tiga, lima dan kehidupan masyarakat tradisional Jawa, juga sembilan (Ronald, 1988 : 65). Disisi lain, manusia dipengaruhi oleh sistem religi yang bersumber dari Jawa mengenal juga sistem klasifikasi simbolik yang Keraton. Pandangan masyarakat Jawa terhadap berdasarkan pada kategori empat, enam dan delapan. masalah-masalah dasar dalam hidupnya, senantiasa Sistem klasifikasi simbolik berkategori dua, dalam dikaitkan dengan sistem religiusnya. Masyarakat pandangan manusia Jawa, menggambarkan adanya Jawa, sebelum masuknya Hindu dan Budha, telah hal-hal berlawanan. Sifat-sifat berlawanan dapat meyakini adanya kekuasaan di luar matra dirinya. berupa antara lain baik-buruk, keras-lemah, positip- Keyakinan ini seringkali dinamakan Agama asli yang negatip, dan sebagainya. Sistem simbolik berkategori bersifat animisme. Segala keberhasilan dan dua ini, seringkali digunakan dalam perwujudan kegagalan dalam hidup, diyakini sebagai karunia atau bangunan. Sistem klasifikasi simbolik berkategori kemurkaan dari kekuasaan tersebut. tiga merupakan pengembangan kategori dua. Sifat- Kekuasaan tersebut, seringkali dilaitkan dengan sifat berlawanan yang terdapat dalam kategori dua, kekuasaan alam. Dengan alasan ini, masyarakat Jawa dikembangkan dengan penambahan di pusatnya. beranggapan bahwa manusia hidup harus berusaha Keberadaan pusat tersebut dimaksudkan sebagai untuk membina hubungan harmonis dengan alam penetral terhadap sifat berlawanan, agar tercapai (Koentjaraningrat, 1992). Dalam menjalani hidup keseimbangan. dengan keyakinan tersebut, masyarakat Jawa

114 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

Gambar 2. : Sistem Klasifikasi Simbolik Tradisional Jawa. Sumber : Tanudjaya, 1991: 40.

Sistem klasifikasi simbolik berkategori empat, Sistem klasifikasi simbolik berkategori enam berasal menunjuk kepada arah mata angin. Dalam dari kepercayaan Islam. Hal ini menyangkut enam masyarakat Jawa, sistem simbolik ini sering dasar kepercayaan, yakni kepercayaan terhadap dipadukan dengan sistem simbolik berkategori lima, Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari kiyamat, dan dikenal dengan nama mancapat dan mancalima. Sistem Takdir. Klasifikasi simbolik berkategori enam ini, klasifikasi simbolik ini dikembangkan dari tidak banyak dipergunakan oleh masyarakat Jawa pandangan manusia Jawa akan kosmos. Keempat tradisional umumnya. Sistem klasifikasi simbolik penjuru mata angin, diyakini sebagai tempat berkategori tujuh, berkaitan dengan sistem simbolik bertahtanya para dewa. Sistem klasifikasi simbolik berkategori enam, dengan tambahan satu unsur berkategori lima, mengandung arti kemantapan dan sebagai pusatnya. keselarasan dunia. Klasifikasi simbolik berkategori Sistem klasifikasi simbolik berkategori delapan, lima ini, dalam masyarakat Jawa dikenal sebagai merupakan pengembangan kategori empat. Sistem konsep mancalima. Mancalima merupakan ini dikembangkan dari konsep empat mata-angin, pengembangan sistem klasifikasi simbolik dengan penambahan kombinasi arah antaranya. berkategori empat, dengan penambahan satu titik Sistem seperti ini, banyak ditemukan pada pusat (Tjahjono, 1988 : 40). masyarakat Jawa, yang dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Budha, serta budaya Cina. Ajaran Hindu

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 115

mengenal pola Mandala, yang terdiri atas delapan tempat tinggal Raja. Raja dengan Keraton-nya, kali delapan divisi. Budaya Cina mengenal delapan secara simbolis dianggap sebagai tempat penjuru mata angin. Sistem klasifikasi simbolik mengikatkan diri. Masyarakat Jawa tradisional, berkategori sembilan, dikembangkan dari konsep merasa tidak mempunyai eksistensi diri, jika tidak empat mata angin. Dari konsep empat mata angin, mengikatkan diri dengan kerajaan. Kerajaan dalam berkembang dengan penambahan kombinasi arah ikatan demikian, sering disebut sebagai pusat antaranya, serta penambahan satu unsur sebagai kebudayaan. pusatnya. Konsep ini dipakai juga dalam masyarakat Bentuk pengikatan diri masyarakat Jawa tersebut, tradisional Bali. Masyarakat Jawa, banyak adalah dengan mengikuti segala sesuatu yang dianut, mempergunakan konsep simbolik berkategori dilakukan, dan menjadi tata hidup serta tata nilai, di sembilan ini, sebagai simbolisasi konsep wali sanga. lingkungan kerajaan. Sebagai contoh adalah bahasa, PROSES PEMBENTUKAN UNSUR-UNSUR tata cara adat memperingati kelahiran, perkawinan KOTA KLASIK JAWA serta kematian, pakaian, dan bahkan membangun Kota-kota pada masa kerajaan, yang menjadi pusat- rumah tinggal. Dengan berlatar belakang keyakinan pusat kerajaan Mataram Islam, pada umumnya tersebut, terjadi “permukiman” Jawa yang memiliki mempunyai sifat a-historis. Bentuk inti kota pusat secara imajiner (Junianto, 2016). Sebagai semacam ini, tidak terdiri atas sejumlah rumah atau pusatnya adalah raja, atau manifestasi simbolik dari kelompok rumah yang terkonsentrasi pada suatu raja. tempat. Kota juga bukan sekedar terdiri atas rumah Dalam implementasi tata permukiman masyarakat dan gedung-gedung, jalan dan taman yang terencana Jawa, dikenal hirarki ruang. Tempat tinggal dalam kaidah seni bangunan. Sebuah kota klasik seseorang yang menjadi menifestasi dari raja, Jawa pada masa kerajaan Mataram Islam, tersusun menjadi pusat kesatuan permukiman, berstatus atas bangunan dan taman yang diatur berlandaskan paling tinggi. Ruang-ruang lainnya, membentuk adat-istiadat yang bersumber dari Keraton (Santoso, lingkaran-lingkaran imajiner, secara berhirarkis 1984). berstatus semakin rendah. Sistem tata nilai tersebut, dalam permukiman Jawa, kemudian dikenal bentuk Dalam masyarakat Jawa tradisional, masih meyakini Magersari, yang secara harafiah berarti mengindung adanya kekuatan “pusat” berupa Keraton, yakni kepada “sesembahan” (Junianto, 2016)..

116 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

Gambar 3. : Pola hunian Magersari pada Rumah Tinggal Bupati Pada masa Pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Sumber : Kartodirdjo, 1993

METODE PENELITIAN ideographik, bertujuan menggambarkan makna Kajian ini bersifat kualitatif, berdasarkan penelitian susunan unsur-unsur (struktur) kota yang dijadikan dengan menggunakan metode deskriptif- latar penelitian, yakni jejak kota kerajaan Mataram ideographik. Penggunaan metode deskriptif- Islam. Data-data akan dikumpulkan melalui

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 117

berbagai sumber data, untuk kemudian dirumuskan HASIL DAN PEMBAHASAN deskipsi dan selanjutnya disusun suatu eksplanasi. Peradaban Islam-Jawa yang dikembangkan oleh para Penelitian ini dimulai dengan melihat keseluruhan ‘wali’, dalam banyak hal merupakan kelanjutan dan ‘latar’ yang ada, sebagai kajian historis. Setelah pembaruan Hindu-Jawa kuno. Hal tersebut terbukti melalui kajian historis, ditemukan unsur-unsur dari kisah kehidupan dan perekonomian rakyat Jawa pembentu struktur kota yang menggambarkan ciri di daerah pedesaan pada awal jaman Islam, sekitar kerajaan Mataram Islam. Untuk mendapatkan abad ke-16, yang ditemukan di dalam kisah orang- makna dari konsep mancapat-mancalima dalam orang saleh (Graaf, 1989). Dalam keterangan kisah- struktur kota kerajaan Mataram Islam, ditelusur dari kisah tersebut, berkaitan pula dengan keberadaan masing-masing tempat, mulai Pajang, Kotagede, para pedagang Cina, yang pada umumnya hingga Surakarta. mempunyai hubungan akrab dengan keraton- keraton pribumi. Dalam perekonomian rakyat dan Proses pembahasan dilakukan melalui dua tahapan pergaulan masyarakat desa, para Cina-Indo waktu berbeda, namun secara komprehensif. Dalam rangka itu, seperti juga kemudian hari, mempunyai menelusuri susunan (struktur) unsur-unsur fisik kedudukan tersendiri. pembentuk kota pada masa kerajaan Mataram Islam di Jawa, dilakukan dengan menganalisis data dan Golongan masyarakat menengah beragam Islam, keterangan sejarah. Data-data tersebut, berupa menempati kedudukan penting dalam struktur dokumen peta, denah, toponim dan peninggalan masyarakat pada masa kerajaan. Mereka berbeda fisik seperti ruang terbuka, bangunan, jalan, sungai, dari golongan Keraton disatu pihak, dan berbeda serta tanda-tanda lainnya. Keterangan sejarah adalah dari golongan tani di pihak lain (Soeratman, 1989). gambaran kehidupan masyarakat dan penguasanya, Golongan menengah Islam, cukup beralasan untuk pada jaman kerajaan Mataram Islam tersebut. dianggap banyak berperan dalam pembaruan Keterangan sejarah dipergunakan untuk peradaban Jawa, di wilayah perdagangan dan di memberikan makna terhadap implementasi konsep lingkungan spiritual luar Keraton. Pada masa itu, mancapat-mancalima dalam struktur kota kerajaan sekitar abad ke-16, perekonomian dan pergaulan Mataram Islam. Untuk mengkaji konsep mancapat- rakyat di luar Keraton terpengaruh oleh agama Islam mancalima dalam struktur kota peninggalan kerajaan yang cenderung egaliter. Hal demikian berbeda Mataram Islam tersebut, dilakukan dengan dengan masyarakat pra-Islam di Jawa yang berkasta gambaran lima kasus. Kelima kasus tersebut, yakni sakral dan berjiwa ningrat. Pajang, Kotagede, Plered, Kartasura dan Surakarta, Pada awal abad ke-16, ibukota keraton Majapahit menggambarkan implementasi unusr-unsur kotanya. yang menganut Hindu-Jawa, direbut oleh pasukan Islam fanatik dari Jawa Tengah. Beberapa waktu

118 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

kemudian, penguasa Islam dari Demak, seorang bangsawan, kemudian para abdi dalem, para pengiring keturunan Cina, diakui sebagai Sultan. Setelah dan para abdi (Soeratman,1989). kekuasaan Sultan Demak diambil alih oleh raja Kota Kerajaan Pajang Pajang, titik berat ketatanegaraan bergeser di Jawa Kerajaan Pajang terletak di wilayah Surakarta, Pedalaman. Sejak abad ke-17, pedalaman Jawa tepatnya berada di tepi sebelah barat kota Surakarta Tengah menjadi pusat politik dan kebudayaan saat ini. Kraton Pajang dilingkungi oleh tembok Keraton Jawa. keliling yang meliputi istana kerajaan dan alun-alun. Kaitan sejarah yang cukup berarti terhadap Di sebelah kanan istana terdapat bangunan rumah pembentukan kerajaan Mataram Islam, dimulai sat tinggal untuk kesatuan pengawal istana dan serdadu. berdirinya keraton Pajang, di sebelah barat kota Tatanan ini menunjukkan areal yang bersifat profan Surakarta. Pada masa pemerintahan kerajaan Pajang, dan bersifat sakral. Dapat diartikan bahwa penguasa sekitar tahun 1550, daerah Surakarta masih dikenal (raja) memegang kedua sumber kekuasaan tersebut, sebagai desa Sala, berperan sebagai penghasil beras yaitu berupa keagamaan dan militer. Raja menjadi yang cukup besar, untuk konsumsi masyarakat dan pimpinan agama, sekaligus pemimpin bala Keraton. Setelah pemerintahan keraton Pajang tentaranya. berakhir, kemudian berpindah ke Kotagede. Setelah Tumenggung sebagai pimpinan pemerintahan atas keraton Mataram di Kotagede berakhir, untuk nama raja, berada di sebelah barat kota (kraton). sementara pindah di Kerta, dan selanjutnya Tempat tinggal putra mahkota berlokasi di depan berpindah di Plered pada tahun 1613. Pada tahun pasar. Unsur-unsur lain seperti kepatihan, pasar, pos 1679, keraton Mataram di plered pindah ke pengawas pasar, terletak di sebelah utara alun-alun. Kartasura. Kegiatan ekonomi semakin ramai, karena beberapa unsur asing terlibat dengan berbagai Pusat kerajaan mmenjadi pusat keramaian dan kepentingan. Unsur asing tersebut adalah bangsa kegiatan kota. Unsur-unsur kota yang menonjol di Belanda (VOC) dan Cina. Setelah kerajaan di kota kerajaan Pajang ini, berkaitan dengan kegiatan Kartasura mengalami beberapa pemberontakan, dan pemerintahan kerajaan, ekonomi dan permukiman. terakhir pemberontakan Cina, akhirnya berpindah di Pola jalan berfungsi menghubungkan Sala (th.1744). Pembangunan kraton di Sala yang masing-masing kegiatan tersebut. Peran sungai selesai pada tahun 1746, merubah sistem kehidupan dalam aktifitas perdagangan, sangat besar. Ciri-ciri masyarakat Sala. Semula, berupa sebuah desa Sala pada keadaan kota tersebut antara lain : dengan pimpinan masyarakatnya Kiai Sala, berubah  Terjadi pertukaran (perdagangan) hasil bumi menjadi kerajaan dengan masyarakat tersusun secara dan barang, baik intern dengan desa-desa di hirarkis. Raja sebagai puncaknya, diikuti lapisan

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 119

sekitar kerajaan maupun ekstern dengan daerah Setelah berdirinya kerajaan Pajang pada akhir abad lain. ke-16, sekaligus merupakan tanda berakhirnya kerajaan Islam yang berpusat di pesisir Utara Jawa  Kegiatan (kehidupan) masyarakat lebih (Demak), yang kemudian bergeser masuk ke mengutamakan keagamaan, dalam hal ini agama daerah pedalaman dengan kehidupan masyarakat Islam, sehingga bangunan kerajaan tidak bercorak agraris. Seperti pada umumnya kerajaan menonjol (gigantik). dengan masyarakat agraris, sehingga penghasilan  Masyarakat di dekat pusat kerajaan bekerja utama masyarakatnya merupakan aspek-aspek sebagai pengrajin tenun, yaitu di Laweyan, pertanian. Pada masa kerajaan Pajang tersebut, berperan mendukung perdagangan kerajaan kehidupan dalam sistem ekonomi mereka sudah Pajang. menggunakan uang dalam proses jual beli. Wilayah kerajaan Pajang, merupakan lahan subur,  Perdagangan intern terjadi di Pasar, sedangkan mengingat letak geografis kerajaan ini, berada perdagangan diantara dua aliran sungai, yaitu sungai Pépé dan ekstern terjadi di Bandar sungai Bengawan Sala, Déngké. Keadaan tersebut mendukung kesuburan yaitu di Semanggi. tanah wilayah Pajang dan menjadi faktor  Kehidupan desa (desa Sala) sebagai penunjang pendukung berkembangnnya sistem Agraris di kehidupan ekonomi kerajaan, yaitu dari hasil kerajaan ini. Pada masa pemerintahan Pajang buminya. sekitar abad ke 16-17 M, kerajaan ini menjadi salah satu lumbung padi terbesar dan sudah meng- ekspor beras keluar wilayah mereka (Graaf, 1989)

120 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

Gambar 4. : Peta orientasi kerajaan Pajang terhadap Desa Sala (Surakarta) Sumber : http//wawasansejarah.com/kerajaan-pajang/

Keterangan: 1.Alun-alun 2.Masjid 3.Pasar 4.Siti Inggil 5.Dalem Keraton 6.Rumah Pangeran 7.Rumah Pejabat Keraton 8.Rumah Abdi-Dalem.

Gambar 5. : Peta Kota kerajaan Pajang Sumber : Museum Radya Pustaka Surakarta.

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 121

Pos Penjaga Pasar Pasar Masyarakat Masyarakat Pengrajin / Petani Pedagang

Masjid Alun-Alun Rumah Pangeran

Rumah Rumah Dalem Keraton Pejabat Keraton Pegawai Keraton

0

1 2 0 = Dalem 1 = Komplek Keraton 2 = Negara

Gambar 6. : Lingkaran Tata Ruang kota kerajaan Pajang. Sumber : hasil analisis.

Kota Kerajaan Kotagede Pada tahun 1586 Panembahan Senopati, putra Kyai Kotagede merupakan ibu kota kerajaan Mataram Ageng Pamanahan, memproklamirkan kedudukan Islam yang pertama kali. Kota ini didirikan pada sebagai raja. Setelah berhasil menundukkan masa kekuasaan kerajaan Pajang (sebelum th.1586), pemerintahan Pajang, kadaulatan sebagai raja oleh Kyai Ageng Pamanahan. Pendiri Kotagede ini Mataram diakui. Kedudukan Kotagede sebagai pusat adalah seorang pegawai pemerintah yang pemerintahan kerajaan Mataram, berlangsung hanya terpandang, di kerajaan Pajang. Karena dianggap sampai tahun 1625. Terletak di sebelah tenggara berjasa, ia mendapat kepercayaan mengurus daerah (sekitar 4 km) dari kota Yogyakarta sekarang. Mataram. Pada awalnya Kotagede ini berfungsi Kotagede sebagai ibukota kerajaan menunjukkan sebagai pusat administrasi, sehubungan dengan struktur kota yang berciri organis (tidak teratur). tugas Kyai Ageng Pamanahan. Jaringan jalan yang tidak teratur (organis) merupakan

122 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

ciri utama permukiman di daerah pedesaaan. pengrajin. Masyarakat pengrajin tersebut banyak Kondisi demikian berkaitan dengan Kotagede bukan yang bermukim di sekitar Keraton. sebagai ibu kota kerajaan, pada awalnya. Hal yang Pola jalan yang berarah ke timur dan barat, berperan menunjukkan orientasi secara jelas hanyalah jalur utama secara ekonomis, menghubungkan jalan Utara-Selatan. Pasar terletak di sebelah selatan permukiman masyarakat pedagang, pengraiin dan jalur jalan arah Timur-Barat, hal ini berbeda dengan petani. Pola jalan kearah utara berperan utama secara kota Mataram-lainnya. Komplek masjid (dengan administratip, menghubungkan Kotagede dengan makam, dan pemandian) terletak di sebelah barat keraton Pajang. Pasar sebagai pusat kegiatan kampung Alun-alun sekarang. Letak kraton yang perekonomian kota. Kraton dikelilingi oleh tembok, diperkirakan sebagai kampung Kedaton sekarang, sedangkan permukiman para abdi-dalem berada di berada di sebelah selatan alun-alun. Sebelah barat luar tombok keraton. Rumah-rumah para abdi-dalem pasar, tardapat komplek permukiman dan pejabat tinggi keraton tersebut, banyak terdapat pedagang/pengrajin. Masyarakat Kotagede pada di dekat keraton. masa kerajaan, benyak yang berprofesi sebagai

Keterangan: 1.Alun-alun 2.Masjid 3.Pasar 4.Dalem Keraton 5.Permukiman Abdi-dalem 6.Permukiman Pengrajin 7.Permukiman Pedagang 8.Kebonan.

Gambar 7. : Peta Kota kerajaan Kotagede Sumber : Nakamura, 1983:234.

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 123

Pasar Masyarakat Masyarakat Pengrajin / Petani Pedagang

Masjid Alun-Alun

Rumah Dalem Keraton Abdi Dalem 0 1 Kebonan 2 0 = Dalem 1 = Komplek Keraton 2 = Negara

Gambar 8. : Lingkaran Tata Ruang kota kerajaan Kotegede. Sumber : hasil analisis.

Kota Kerajaan Plered pemerintahan Sultan Agung, kerajaan Mataram yang memperluas pengaruh sampai Jawa Timur, Plered sebagai ibu kota kerajaan Mataram, dibangun memindahkan pusat kekuasaan dari Kotagede ke pada masa kejayaan Sultan Agung, sekitar tahun Kerto. Setelah kekuasaan diperintah Amangkurat I, 1625. Terletak sekitar 5-7 km sebelah Timur anak Sultan Agung, kemudian memindahkan Yogyakarta. Bersamaan dengan pembangunan Keraton dari Kerto ke Pleret pada tahun 1647. keraton di Plered, dibangun pula komplek makam di . Imogiri terletak sekitar 3 km sebelah selatan Gambaran kota Plered dijelaskan dengan rinci dalam Plered, merupakan daerah perbukitan. Pada masa laporan perjalanan Van Goens pada tahun 1655

124 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

(dalam: Jo Santoso, 1984: --- ), dari ke sekitar 300 x 400 m, dengan Masjid di sebelah Plered. baratnya. Didalam komplek masjid terdapat makam. Dalam perjalanan menuju Plered sekitar 18 - 19 mil Desa Kauman yang sekarang ada di sekitar masjid, dari kota pelabuhan Semarang, terletak pintu gerbang diperkirakan dihuni oleh para pemuka agama dan pertama, disebut Selimbi. Pada pintu gerbang ini pegawai masjid. Rumah-rumah para pangeran terletak terdapat sebuah benteng, yang dihuni sekitar di sebelah utara alun-alun, menuju gerbang Kaliajir. Di 1500 - 1600 orang. Dengan dijaga oleh para prajurit sekitar desa Segarayasa, dulu terdapat danau buatan, keraton, semua yang lewat gerbang dicatat oleh juru tulis. terletak di sebelah selatan keraton. Di tengah danau Sekitar 1 - 1,5 mil dari gerbang Selimbi, terbentang (Segarayasa) tersebut terdapat sebuah pulau, daerah Mataram yang subur, sawah sangat luas hingga dipergunakan untuk meditasi dan sembahyang raja. batasnya tidak tampak. Desa-desa sangat subur banyak

ditemui sepanjang jalan. Diantara sawah-sawah ditemui perbukitan yang ditanami pohon buah-buahan. Diperkirakan pintu gerbang Selimbi merupakan pintu

masuk wilayah negara agung Mataram. Jalan antara gerbang Selimbi dan gerbang Tadie (gerbang masuk kedua), berjarak sekitar 7 mil. Setelah gerbang kedua terlihat pegunungan mengitari pusat kerajaan Plered. Digambarkan oleh Van Goens bahwa desa-desa diantar kedua pintu gerbang tersebut, padat penghuni. Setiap desa berpenduduk sekitdr 100 - 150 orang, bahkan ada yang berpenghuni sekitar 1000 - 1500 orang. Pusat kerajaan dicapai setelah melalui garbang ketiga, yang dinamakan Kaliajir. Dari gerbang ini terdapat jalan Gambar 9: Batu Umpak di Situs Plered,

menuju istana raja, sepanjang 2 mil. Antara gerbang bekas umpak bangunan Keraton Kaliajir dan istana raja, banyak ditemui rumah para Sumber: https://www.thearoengbinangproject.com/jejak- pangeran dan berbagai residen. Pagar kota diperkirakan mataram-di-situs-kerto-pleret/

berukuran luas 2 x 2 mil, dengan ketinggian tembok sekitar 6 – 7 meter. Di dalam tembok keraton terdapat bangsal kencana, rumah jaga Gedong Kemuning, masjid

keraton Suranata, Gedong Kedondong dan sumur Guleng tempat memandikan keris pusaka. Di sebelah utara komplek keraton terdapat alun-alun berukuran

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 125

Keterangan: 1.Alun-alun 2.Masjid 3.Pasar 4.Siti Inggil 5.Dalem Keraton 6.Rumah Pangeran 7.Rumah Pejabat Keraton 8.Segarayasa 9.Permukiman Abdi- dalem

Gambar 10. : Peta Kota kerajaan Plered Sumber : Museum Radya Pustaka Surakarta

126 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

Pasar

Rumah Pejabat Masjid Alun-Alun Rumah Pangeran

Permukiman Dalem Keraton Keputran Abdi Dalem 0 1 Segarayasa 2 0 = Dalem 1 = Komplek Keraton 2 = Negara

Gambar 11. : Lingkaran Tata Ruang kota kerajaan Plered. Sumber : hasil analisis.

Kota Kerajaan Kartasura Seperti halnya masa kerajaan sebelumnya, pusat kegiatan berada di sekitar keraton. Kartasura terletak Pada tahun 1674 teriadi pemberontakan di Plered di bagian barat, luar kota Surakarta sekarang. oleh pasukan daerah pesisir dan Madura. Kegiatan ekonomi semakin ramai, karena beberapa Pemberontakan dipimpin oleh Trunojoyo. Raja unsur asing terlibat, dengan berbagai Amangkurat I yang memerintah waktu itu melarikan kepentingannya. Unsur-unsur asing tersebut adalah diri hingga meninggal di Tegalwangi. Amangkurat II Kolonial (Belanda), Cina dan Arab. Perkembangan sebagai putra mahkota dibantu oleh Belanda, berha- selanjutnya, yang berperan kuat adalah bangsa sil mengalahkan pemberontak. Selanjutnya ia Belanda, dengan pemerintahan Kolonialnya. dinobatkan sebagai raja, dengan membangun ibu Unsur-unsur kota masih diwarnai oleh kegiatan kota baru di Kartasura. ekonomi, pemerintahan dan permukiman. Diantaranya yang paling berkembang adalah

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 127

pusat-pusat kegiatan ekonomi. Peran sungai Segarayasa bermakna simbolis sebagai sumber Bengawan Solo masih sangat berarti, dalam kehidupan. Alun-alun selatan sebagai pengganti perdagangan internal maupun eksternal. Pasar yang Segarayasa, bersifat profan. Alun-alun utara, yang terletak di bagian utara alun-alun, berfungsi utama menjadi satu kesatuan dengan masjid, dianggap dalam perdagangan internal. bersifat sakral. Keraton dengan demikian mempunyai dua orientasi, yaitu orientasi yang Unsur-unsur kota di Kartasura lebih banyak bersifat sakral dan bersifat profan. Poros jalan berkembang daripada kota-kota kerajaan utara - selatan bersifat sakral, sedangkan pola jalan sebelumnya. Di sebelah luar Keraton terdapat arah timur - barat bersifat profan. Jaringan jalan yang banyak rumah-rumah pangeran dan pejabat tinggi terbentuk, lebih dominan kearah timur - barat, Keraton. Pada masa kerajaan Kartasura ini, mulai menghubungkan tempat-tempat ekonomis seperti terdapat alun-alun Selatan sebagai pengganti Pajang, Laweyan, Sala, hingga Bandar Semanggi Segarayasa.

Keterangan: 1.Alun-alun Utara 2.Masjid 3.Pasar 4.Siti Inggil 5.Dalem Keraton 6.Rumah Pangeran 7.Rumah Pejabat Keraton 8.Alun-alun Selatan 9.Benteng Belanda 10.Pecinan 11.Permukiman Abdi-dalem

.Gambar 12.: Peta Kota Kerajaan Kartasura Sumber: Museum Radya Pustaka Surakarta.

128 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

Benteng Belanda

Pasar Pecinan

Alun-Alun Masjid Utara Rumah Rumah Siti Inggil Pangeran Pejabat Keraton

Permukiman Dalem Keraton Abdi Dalem 0 Alun-Alun 1 Selatan 0 = Dalem 2 1 = Komplek Keraton 4 Gambar 13: Benteng Keraton Kartasura 2 = Negara 4 = Mancanegara Sumber: http://tarabuwana.blogspot.co.id/2012/01 /petilasan-kraton-kartosuro

Gambar 14. : Lingkaran Tata Ruang kota kerajaan Kartasura. Sumber : hasil analisis.

Kota Surakarta Masa Kerajaan Setelah Kartasura yang memiliki dua buah alun-alun, Perpindahan kerjaan Mataram dari Kartasura ke demikian juga Surakarta. Kedua alun-alun di Surakarta akibat adanya pemberontakan orang Surakarta, yaitu Utara dan Selatan, memiliki luas Tionghoa melawan Belanda tahun 1740. sama besar, sekitar 400 x 300 meter. Alun-alun Pemberontakan ini hingga merusak keraton. Dengan tersebut berupa lapangan pasir halus, masing-masing bantuan Belanda, Paku Buwana berhasil merebut di tengahnya ditanami dua buah pohon Beringin. kembali keraton. Sebagai imbalan, Belanda minta Komplek keraton terletak diantara kedua alun-alun (dengan perjanjian) penempatan tentaranya, tersebut. sehingga benteng Belanda (Vastenberg) turut Keraton bagian dalam (Dalem) terpisah oleh tembok direncanakan di Surakarta. setinggi 3 m, dengan tembok keraton yang kedua (benteng). Di dalam benteng keraton ini, Dalem

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 129

terpisah dengan bangunan keraton lainnya. Di antara Komplek keraton beserta alun-alun menunjukkan tembok keraton yang pertama dan kedua, dihuni ciri bagian kota yang sakral. Di bagian ini kekuasaan oleh para pangeran yang duduk dalam pemerintahan raja (susuhunan Paku Buwana) merupakan dan para abdi dalem. Ciri menonjol dalam struktur kekuasaan yang absolut. Permukiman orang asing kota Surakarta pada masa ini adalah peralihan daerah yang beragama lain dan daerah eksteritorial seperti perkotaan dan daerah pedesaan, yang begitu Mangkunegaran dan 'kota Eropa' terdapat di bagian menyatu. Informasi tentang batas awal kota pada belahan utara kota. Kedudukan Mangkunegaran masa itu memang belum ada. Diduga akibat dari menunjukkan pengakuannya atas status raja ketidak jelasan batas kota, sehingga kota Surakarta Mataram, yaitu Paku Buwana dan Hamengku berkembang secara tidak teratur (organis). Dua buah Buwana. Hal ini terlihat dari struktur tata ruang jalan yang cukup lebar, memanjang kearah Mangkunegaran yang berbeda dengan struktur Timur - Barat, membelah kota Surakarta menjadi kerajaan Mataram (Kasunanan). belahan Selatan dan Utara. Istana (keraton), masjid

Agung, dan rumah para pangeran, terletak di sebelah selatan kota. Bagian selatan dari belahan ini berkembang ke arah barat.

Di bagian utara dari belahan jalan tersebut, terdapat sarana-sarana profan, seperti Kepatihan dan pasar. Di sebelah kanan dari poros jalan Utara - Selatan, ditempatkan permukiman orang asing (Cina, Belanda dll). Bagian ini selanjutnya berkembang ke arah timur. Juga di belahan utara ini, Yang berada di bagian barat poros jalan Utara-Selatan, terdapat permukiman orang Bali (Kebalen). Keberadaan istana Mangkunegaran merupakan hal Yang khusus, mengingat pendiriannya berdasarkan perjanjian tahun 1757 antara Paku Buwana III dan Raden Mas Said. Dalam perjanjian ini Mas Said bersedia menghentikan pemberontakan, dengan imbalan mendapat wilayah seluas 4000 cacah, serta ijin Gambar 15.: Peta Kota Kerajaan Surakarta membangun istana di Surakarta. Sumber: Museum Radya Pustaka Surakarta

130 MINTAKAT Jurnal Arsitektur, Volume 20 Nomor 2, September 2019, 107-131, p-ISSN 1411-7193|e-ISSN 2654-4059

Benteng Kepatihan Belanda

Pasar Pecinan

Kampung Alun-Alun Masjid Arab Utara Rumah Siti Inggil Pejabat Keraton

Rumah Permukiman Dalem Keraton Pangeran Abdi Dalem

0 Alun-Alun 1 Selatan 0 = Dalem 2 1 = Komplek Keraton 2 = Negara 4 4 = Mancanegara

Gambar 16.: Lingkaran Tata Ruang Kota Kerajaan Surakarta Sumber: hasil analisis.

KESIMPULAN permukiman Abdi-dalem dan Pasar. Unsur- unsur kota tersebut, tersusun dalam Dari hasil kajian dan pembahasan tersebut, dapat konsepsi tradisional sakral dan profan. diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut: 2. Transformasi konsep mancapat-mancalima 1. Terdapat unsur-unsur yang utama dalam struktur kota kerajaan Mataram pembentuk struktur kota kerajaan Islam, tersusun dalam superposisi antara Mataram Islam, berupa : Dalem Keraton, pola grid sumbu “Utara-Selatan” dan Alun-alun, Masjid, tempat tinggal “Timur-Barat”, dengan lingkaran- Pangeran dan pejabat Keraton,

Junianto, Konsep Mancapat-Mancalima dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam 131

lingkaran imajiner. Sumbu “Utara-Selatan” Muhadjir, N. (1990) Metode Penelitian Kualitatif bersifat sakral, sedangkan sumbu “Timur- (Yogyakarta: Rake Sarasin). Barat” bersifat profan. Sebagai pusat Santoso, J. (1984), Konsep Struktur dan Bentuk Kota di adalah Dalem Keraton, yang bermakna Jawa s/d Abad XVIII (Disertasi). simbolik sebagai pengendalidan sekaligus Soeratman, D. (1989), Kehidupan Dunia Kraton penyelaras tatanan kehidupan di “Negara Surakarta 1830-1939 (Yogyakarta: Tamansiswa). Agung”. Sumarlina, N.S. (1993) Pola Tata Kota Surakarta Awal dan Perkembangannya (Yogyakarta: Fakultas Sastra

UGM). DAFTAR PUSTAKA Tanudjaja, C.J.S. (1991) Suatu Telaah Tentang Saka Bangunan Tradisional Jawa di Kotamadya Yogyakarta Behrend, T.E. (1982), Kraton and Cosmos in Traditional (Bandung: Pasca Sarjana S2 Arsitektur, ITB). Java (Tesis: ---) Tjahjono, G. (1988) Cosmos, Center, and Duality in Catanese, A.J dan Snyder, J.C. (1986) Pengantar Javanese Architectural Tradition: The Symbolic Perencanaan Kota (Jakarta: Terjemahan, Erlangga). Dimensions of House Shapes in Kotagede and Graaf, H.J.D dan Pigeaud, Th.G.Th (1989) Kerajaan Surroundings (Berkeley: University of California). Kerajaan Islam di Jawa (Jakarta: Grafiti Pers). Gesick, L. (1989) Pusat, Simbol dan Hirarki Kekuasaan (Jakarta: terjemahan Ongkhokham, Yayasan Obor) Junianto (2017) Pengaruh Kerajaan Islam Terdahap Pola Bentuk Kota Pasuruan (Makassar: Jurnal Plano Madani, Volume 6 Nomor 1). Koentjaraningrat (1992) Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama). Kartodirdjo, S. (1993) Perkembangan Peradaban Priyayi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press). Mangunwijaya (1988), Wastu Citra (Jakarta: Gramedia). Murtoyoso, S. (1993) Sejarah Arsitektur Kota di Kawasan Budaya Pesisir (: Seminar Pelestarian Arsitektur Kota).