Oktober 2015 Kinoprogramm Filmmuseum
Total Page:16
File Type:pdf, Size:1020Kb
Load more
Recommended publications
-
Thesis Introduction
View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk brought to you by CORE provided by espace@Curtin School of Media, Culture and Creative Arts Faculty of Humanities The Representation of Children in Garin Nugroho’s Films I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa This thesis is presented for the Degree of Master of Creative Arts of Curtin University of Technology November 2008 1 Abstract The image of the child has always been used for ideological purposes in national cinemas around the world. For instance, in Iranian cinema representations of children are often utilized to minimise the political risk involved in making radical statements, while in Brazilian and Italian cinemas children‟s portrayal has disputed the idealized concept of childhood‟s innocence. In Indonesian cinema, internationally acclaimed director Garin Nugroho is the only filmmaker who has presented children as the main focus of narratives that are oppositional to mainstream and state-sponsored ideologies. Yet, even though his films have been critically identified as key, breakthrough works in Indonesian cinema, no research so far has specifically focused on the representation of children in his films. Consequently, because Garin Nugroho has consistently placed child characters in central roles in his films, the discussion in this thesis focuses on the ideological and discursive implications of his cinematic depiction of children. With the central question regarding the construction of children‟s identities in Garin‟s films, the thesis analyzes in detail four of these films, dedicating an entire chapter to each one of them, and with the last one being specifically addressed in cinematic essay form. -
The Cultural Traffic of Classic Indonesian Exploitation Cinema
The Cultural Traffic of Classic Indonesian Exploitation Cinema Ekky Imanjaya Thesis submitted for the degree of Doctor of Philosophy University of East Anglia School of Art, Media and American Studies December 2016 © This copy of the thesis has been supplied on condition that anyone who consults it is understood to recognise that its copyright rests with the author and that use of any information derived there from must be in accordance with current UK Copyright Law. In addition, any quotation or extract must include full attribution. 1 Abstract Classic Indonesian exploitation films (originally produced, distributed, and exhibited in the New Order’s Indonesia from 1979 to 1995) are commonly negligible in both national and transnational cinema contexts, in the discourses of film criticism, journalism, and studies. Nonetheless, in the 2000s, there has been a global interest in re-circulating and consuming this kind of films. The films are internationally considered as “cult movies” and celebrated by global fans. This thesis will focus on the cultural traffic of the films, from late 1970s to early 2010s, from Indonesia to other countries. By analyzing the global flows of the films I will argue that despite the marginal status of the films, classic Indonesian exploitation films become the center of a taste battle among a variety of interest groups and agencies. The process will include challenging the official history of Indonesian cinema by investigating the framework of cultural traffic as well as politics of taste, and highlighting the significance of exploitation and B-films, paving the way into some findings that recommend accommodating the movies in serious discourses on cinema, nationally and globally. -
Journal Template
GSJ: Volume 7, Issue 10, October 2019 ISSN 2320-9186 1240 GSJ: Volume 7, Issue 10, October 2019, Online: ISSN 2320-9186 www.globalscientificjournal.com THE COMPARISON OF INDIGENOUS AND NON-INDIGENOUS MSMES TOWARD MARKETING STRATEGY (CASE OF SMES SOUVENIRS FOR MINANG AUTHENTIC FOOD IN PADANG CITY) Albert Agiza Agustian S.E M.M1, Retno Melani Putri S.E M.M2, Dr. Yulia Hendri Yeni S.E M.T Ak3 1) Student of Andalas University, Faculty of Economi, Padang Indonesia 2) Student of Andalas University, Faculty of Economi, Padang Indonesia 3) Lecturer of Andalas University, Faculty of Economi, Padang Indonesia Email : [email protected] KeyWords : Indigenous, Marketing, Marketing Strategy, MSMEs, Positioning, Segmentation, Targeting ABSTRACT Many MSMEs souvenirs of West Sumatra specialty food that have sprung up in West Sumatra make not all businesses run well because of business competition, where there are differences between MSMEs both in terms of quality and quantity. MSMEs food souvenirs in West Sumatra, especially in the city of Padang are usually dominated by non-native people who are non-native people of Padang who have long lived in the city of Padang. Therefore in this study, we want to find out how marketing is compared to native and non-native MSMEs in the city of Padang. Are there differences in activities and marketing strategies in native and non-indigenous MSMEs. In collecting data the method used by interviewing informants directly. The type of interview used in this study is a semi-structured interview which means the researcher already has a guideline regarding what information will be collected. -
Analisis Wacana Dalam Film Titian Serambut Dibelah
ANALISIS WACANA FILM TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH KARYA CHAERUL UMAM Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) Oleh: ZAKKA ABDUL MALIK SYAM NIM: 105051001918 JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M / 1430 H ABSTRAK “Analisis Wacana Film Titian Serambut Dibelah Tujuh karya Chaerul Umam” Oleh : Zakka Abdul Malik Syam 105051001918 Film Titian Serambut dibelah Tujuh merupakan salah satu film ber-genre drama religi, mengusung tema seputar perjuangan sesosok guru muda yang bernama Ibrahim yang telah menimba ilmu dari pesantren. Dalam langkahnya sebagai guru muda yang ingin menerapkan ilmunya di tengah masyarakat ia menemui banyak sekali tantangan dan lika-liku dalam kehidupannya, namun semua itu ia hadapi dengan keikhlasan dan kesabaran serta perjuangan. Kemudian yang menjadi pertanyaan utama adalah bagaimana gagasan atau wacana yang terdapat dalam film Titian Serambut Dibelah Tujuh yang di sutradarai oleh Chaerul umam? Selanjutnya akan melahirkan sub-question mengenai nilai-nilai moral apa saja yang terdapat dalam film titian serambut dibelah tujuh ini? Metode yang digunakan adalah analisis wacana dari model Teun Van Dijk. Dalam model Van Dijk ada tiga dimensi yang menjadi objek penelitiannya, yaitu dimensi teks, kognisi sosial, dan juga konteks sosial adalah pandangan atau pemahaman komunikator terhadap situasi yang melatar belakangi dibuatnya film tersebut. Sedangkan dimensi teks adalah susunan struktur teks yang terdapat dalam film ini. Jika dianalisa, secara umum guru Ibrahim dalam film titian serambut dibelah tujuh ini hendak mengkonstruksi tema besar yakni tentang keikhlasan, kesabaran dan perjuangan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta cobaan yang dihadapinya. -
34 4. ANALISIS DATA 4.1. Gambaran Umum Film Cek Toko Sebelah
4. ANALISIS DATA 4.1. Gambaran Umum Film Cek Toko Sebelah Gambar 4.1 Poster Film “Cek Toko Sebelah” (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Cek_Toko_Sebelah) Film drama komedia “Cek Toko Sebelah” diproduksi oleh Starvision Plus yang dirilis pada 28 Desember 2016 dan berdurasi 98 menit. Film ini ditulis oleh Ernest Prakasa dan Jenny Jusuf dengan pengembangan cerita dari Meira Anastasia. Selain menjadi penulis naskah, Ernest juga menjadi sutradara dan berperan sebagai tokoh utama. Film “Cek Toko Sebelah” banyak diserbu penonton. Sampai dengan hari ke-21 penayangannya, film garapan Ernest Prakasa tersebut sudah menggaet sebanyak 2.101.170 penonton (Cumicumi.com, 2017). “Cek Toko Sebelah” berada di peringkat empat dan lima film terlaris dengan penjualan di atas dua juta tiket (Qubicle.id, 2017). Meski debut Ernest Prakasa sebagai sutradara masih terbilang baru, melalui film keduanya “Cek Toko Sebelah” telah mampu memborong 6 penghargaan di ajang Indonesian Box Office Movie Awards 2017. 6 penghargaan tersebut adalah Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Poster Terbaik, Pendatang Baru Terbaik, Skenario Terbaik, Film Box Office Terbaik (Tribunstyle.com, 2017). 34 Universitas Kristen Petra Gambar 4.2 Pemain Film “Cek Toko Sebelah” (Sumber: http://solo.tribunnews.com/2016/12/31/pemain-film-komedi-cek-toko- sebelah-targetkan-25-juta-penonton) Beberapa tokoh yang terlibat dalam pembuatan film ini adalah Ernest Prakasa (penulis dan sutradara), Chand Parwez Servia dan Fiaz Servia (produser), Andhika Triyadi (penata musik), Dicky R. Maland (penata gambar) dan lain-lain. Selain itu, ada beberapa pemain yang diceritakan di dalam film ini, seperti Ernest Prakasa (Erwin), Dion Wiyoko (Yohan), Chew Kinwah (Koh Afuk), Adinia Wirasti (Ayu), Gisella Anastasia (Natalie); dan ada beberapa tokoh tambahan lainnya seperti Asri welas (ibu sonya) menjadi atasan Erwin, Dodit Mulyanto (Kuncoro) sebagai pegawai Koh Afuk, Kaesang Pangarep (Tukang Taksi) dan lain-lain. -
Bab Ii Gambaran Obyek Penelitian
BAB II GAMBARAN OBYEK PENELITIAN A. Fenomena Transgender Seks biologisdan gender adalah dua hal yang berbeda. Gender tidak berdasarkan pada anatomi fisik, tetapi berdasar pada apakah seseorang mengidentifikasi dirinya menjadi laki-laki atau perempuan dan bagaimana mereka hidup atau ingin menjalani kehidupan mereka. Di sisi lain, seks biologis melibatkan kromosom, gonad, hormon seks, struktur reproduksi internal dan genital eksternal. Saat lahir, kita mengidentifikasi individu sebagai laki-laki atau perempuan didasarkan pada faktor-faktor ini.Apakah anak-anak akan mengidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan dapat menjadi cerita yang lain. Pada anak-anak, mereka akan menyadari dan mengidentifikasi gendernya pada usia 18 bulan dan 3 tahun. Tentu saja, kebanyakan orang mengembangkan identitas gender sesuai dengan seks biologis mereka. Namun terkadang, gender seseorang tidak sesuai dengan seks biologis mereka. Kondisi inilah yang sekarang diyakini sebagai asal-usul gender terjadi sebelum kelahiran. Kini ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pada anak-anak transgender, bagian dari otak dapat berkembang dengan jalur yang berbeda dari perkembangan seks fisik. Ketika ini terjadi, seorang anak mungkin lahir dengan ketidaksesuaian antara identitas gender dan penampilan seks. Meskipun begitu mungkin ada juga sejumlah faktor yang dapat berkontribusi untuk mengubah perkembangan awal dalam penetapan gender. Genetika, obat, faktor lingkungan, 28 stres atau trauma pada ibu selama kehamilan, semuanya mungkin saja menjadi pemicu perubahan gender. Selama bertahun-tahun, Asosiasi Psikiatrik Amerika, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM, telah menggunakan istilah Kelainan Identitas Gender (Gender Identity Disorder) untuk menggambarkan orang-orang yang transgender. Dengan menggunakan istilah ini adalah bahwa ini dapat mencirikan semua orang-orang yang transgender dimasukkan dalam sakit mental. -
BAB II GAMBARAN UMUM FILM SANG PENCERAH A. Film Sang
BAB II GAMBARAN UMUM FILM SANG PENCERAH A. Film Sang Pencerah Film Sang Pencerah merupakan film karya Hanung Bramantyo yang berangkat dari kisah sejarah perjuangan salah satu tokoh besar K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Kisah ini diadopsi dan dikembangkan oleh Hanung Bramantyo menjadi skenario film yang selanjutnya diproduksi menjadi film yang berjudul “Sang Pencerah”. Film Sang Pencerah berdurasi 112 menit dan menghabiskan biaya 12 Miliyar ini ditulis dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini diproduseri oleh Raam Punjabi di bawah naungan PT Multivision Plus (MVP) dan mendapat dukungan penuh dari PP Muhammadiyah. Pemain film ini diantaranya: Lukman Sardi, Ihsan Taroreh, Slamet Rahardjo, Zazkia Adya Mecca, Yati Surachman, Pangki Suwito, Ikranegara, Sujewo Tejo, Ricky Perdana, Mario Irwansyah, Denis Adhiswara, Abdurrahman Afif, serta penampilan perdana dari Giring Nidji. Syuting perdana Film Sang Pencerah dimulai tanggal 21 Mei 2010 sekaligus menandai rangkaian proses produksi film yang menjadi kado istemewa Milad ke-100 warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Berbicara masalah proses pembuatan film serta sukses atau tidaknya dalam proses produksinya, tentu saja tidak akan pernah lepas dari peran tim kreatif yang terlibat. 30 Berikut beberapa tim kreatif yang terlibat di dalam proses produksi film, diantaranya : (Gambar 2 : Cover Film Sang Pencerah) Sumber: www.wikepedia.com B. Tokoh-tokoh Dalam Film Sang Pencerah Keberhasilan sebuah film ditentukan oleh performa pemain (cast) dan akting, keberhasilan film tentu juga tidak lepas dari orang-orang yang bekerja dibalik layar yang biasa dikenal sebagai crew film (Pratista, 2008: 154). Berikut adalah cast dan crew dalam film sang pencerah yang peneliti kaji. CAST Pemeran Tokoh - Ikhsan Taroreh - Muhammad Darwis - Lukman Sardi - Ahmad Dahlan - Yati Soerachman - Nyai Abubakar - Slamet Rahardjo Jarot - Kyai Penghulu Kamaludiningrat 31 - Giring Nidji - M. -
Hak Cipta Dan Penggunaan Kembali: Lisensi Ini Mengizinkan Setiap Orang Untuk Menggubah, Memperbaiki, Dan Membuat Ciptaan Turunan
Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms. Team project ©2017 Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP LAMPIRAN I BIODATA BENNY SETIAWAN 1. Personal Benni Setiawan dikenal sebagai penulis skenario dan sutradara film Indonesia. KARIR kiprahnya dalam dunia perfilman Indonesia dimulai dari tahun 2009, di mana dia menulis skenaro dan menyutradarai film BUKAN CINTA BIASA. Ia kemudian intens menulis skenario dan hingga kini sudah menelurkan lima judul film. Sedangkan sebagai seorang sutradara, Benni telah mengarahkan tiga judul film yang kesemuanya dia juga menulis skenarionya. Suksesnya dalam film 3 HATI DUA DUNIA, SATU CINTA membawa namanya melambung dan semakin dikenal. Selain penghargaan untuk Sutradara Terbaik film tersebut juga mendapat penghargaan sebagai Cerita Skenario dan Adaptasi Terbaik. 2. Pengalaman Sebagai penulis skenario : 2011 - KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP 2010 - 3 HATI DUA DUNIA, SATU CINTA 2010 - CINTA 2 HATI 2009 - SELENDANG ROCKER 2009 - BUKAN CINTA BIASA xv Ananlisis Perbandingan..., Bernadus Anoki, FSD UMN, 2015 3. Pengalaman Sebagai sutradara : a. 2011 - 3 HATI DUA DUNIA b. 2010 - SATU CINTA c. 2010 - CINTA 2 HATI d. 2009 - BUKAN CINTA BIASA 4. Penghargaan - Penghargaan di tahun 2011 : a. Unggulan di Festival Film Bandung, Indonesia Kategori: Sutradara Terpuji Penghargaan: Penghargaan Festival Film Bandung Pada film: 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta b. -
Bab Ii Deskripsi Komunitas Rumah Kartini Dan Sinopsis Film Kartini
BAB II DESKRIPSI KOMUNITAS RUMAH KARTINI DAN SINOPSIS FILM KARTINI A. Komunitas Rumah Kartini 1. Latar Belakang dan Sejarah Rumah Kartini adalah komunitas yang didirikan sejak 21 April 2008, Rumah Kartini didirikan dari latar belakang pendidikan yang mempunyai pemikiran dan semangat untuk ikut berkonstribusi mengumpulkan, mempelajari data-data sejarah yang berhubungan dengan seni, budaya dan pusaka juga berkeseniaan. Melalui pendekatan yang dikemas dalam kegiatan yang unik inilah, Rumah Kartini bisa diterima diberbagai kalangan, khususnya anak muda dan masyarakat umum. Banyak sekali cerita dan pengalaman Rumah Kartini dalam melakukan kegiatan, mulai dari riset, mengumpulkan data data sejarah kartini dan Japara lebih luasnya juga mengemas seni dan budaya secara konseptual. Selain itu Komunitas Rumah Kartini mempunyai sosial yang mempelajari dan mengumpulkan data-data sejarah Jepara untuk edukasi semua masyarakat. Selain pengarsiapan data sejarah Jepara, komunitas Rumah Kartini pun berkaya untuk Jepara. Dimana saat beberapa kawan– kawan mengobrol tentang hiruk pikuk kesenian dan sosial di Jepara. 33 Sampai saat ini Rumah kartini sudah mengumpulkan ± 300 arsip, asli maupun salinan digital (resolusi tinggi) dan karya reproduksi yang berhubungan dengan Kartini dan Japara. Data-data ini kami dapatkan dari hasil proses riset Rumah Kartini, hibah dari lembaga peneliti Belanda, dari keluarga besar Kartini dan dan masyarakat. Komunitas Rumah Kartini terbentuk di mulai dengan kegiatan mural yang mengenalkan tokoh Pahlawan wanita Jepara yaitu Raden Ajeng Kartini dan kritikan tentang tidak adanya Musium ukir di Jepara (yang konon terkenal dengan ukiranya) kegiatan–kegiatan Rumah Kartini pun berjalan seperti seminar sosial pameran sejarah dan lain sebagainya. Rumah Kartini mengawali mengkumpulkan data tentang R.A Kartin, salah satu pahlawan nasional Indonesia yang saat itu masyarakat Jepara sangat minim mengetahui tentang sejarah Kartini. -
Alcoholic Beverages in Indonesian Movies
Ashdin Publishing Journal of Drug and Alcohol Research ASHDIN Vol. 7 (2018), Article ID 236062, 09 pages publishing doi:10.4303/jdar/236062 Research Article Alcoholic Beverages in Indonesian Movies Redi Panuju and Daniel Susilo* Faculty of Communications Science, Dr Soetomo University, Indonesia Address correspondence to Daniel Susilo, [email protected] Received 28 August 2018; Revised 08 November 2018; Accepted 14 November 2018 Copyright © 2018 Daniel Susilo, et al. This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Abstract The State prohibition on free circulation of liquor Alcoholic beverages, or what is often referred to as liquor is a threat to is related to consequences of excessive consumption. people's lives due to destructive effects when consumed in excess. In Excessive consumption of liquor can lead to disruption Indonesia, the prohibition on using alcoholic beverages is regulated in of liver function, which can lead to hepatitis, gastric Criminal Code (KUHP). Dealers who cause drunkenness and anyone who makes children under the age of 16 drunk are subject to prison damage, damage to body tissues, increased risk of breast sentences. However, as a life story, the phenomenon of using alcoholic cancer, damage to brain function, and damage to the heart beverages is fascinating and because of that, many works of art such as and kidneys. This could result in a stroke, nerve paralysis movies make use of the phenomenon of using alcoholic beverages as and organ failure, which could lead to disability and even a story. -
Nilai-Nilai Dakwah Dalam Film Sang Pencerah
Nilai-nilai Dakwah dalam Film Sang Pencerah Edi Amin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Abstract: Religious movies have been largely produced nowadays. One of them is Sang Pencerah, a movie directed by Hanung Bramantyo and sponsored by one of the largest religious organization in Indonesia, Muhammadiyah. This is a biography movie from its founder, KH. Ahmad Dahlan. Since it describes about a religious leaders and his central role in establishing Muhammadiyah, we can find many experiences and facts from Dahlan during his proselytizing. Muhammadiyah is known as a proselytizing organization, with the main principles of amar makruf nahi munkar (call for goodness and forbidden disavowal). This article presents the proselytizing dimensions by Dahlan as seen in the movie. Keywords: Sang Pencerah, film religius, dakwah, KH. Ahmad Dahlan. A. Pendahuluan Tulisan ini melihat pesan-pesan dakwah yang disampaikan dalam film Sang Pencerah (SP). Film religi SP yang mengangkat perjuangan seorang tokoh pendiri organinisasi masa Islam Muhammadiyah, KH. Achmad Dahlan, pada dasarnya merupakan transformasi budaya masa lalu (sejarah). Bangsa besarlah yang mau becermin pada sejarah, dalam arti sejarah masa lalu dijadikan guru bagi menata visi dan misi bangsa ke depan. Film sebagai media komunikasi memiliki peran efektif dalam Kontekstualita, Vol. 25, No. 2, 2010 313 EDI AMIN menyampaikan pesan. Stephen W. Littlejohn dan Kareen A. Foss menyatakan bahwa media merupakan bagian dari kekuatan institusi suatu masyarakat (society’s institutional forces); penyebaran pesan dapat memengaruhi masyarakat sebagai representasi budaya.1 Sayangnya, nilai budaya tidak sepenuhnya dapat ditranformasikan, apalagi jika budaya itu dianggap telah lalu. Banyak kendala, selain persoalan dana atau biaya produksi, karena masih ada anggapan bahwa yang lama telah usang. -
Reconfiguring Ideal Masculinity: Gender Politics in Indonesian Cinema
Reconfiguring Ideal Masculinity: Gender Politics in Indonesian Cinema Evi Eliyanah A thesis submitted for the degree of Doctor of Philosophy Australian National University February 2019 © Copyright Evi Eliyanah All Rights Reserved I declare that the work presented in this thesis is my own. Where information has been derived from other sources, I confirm that this has been indicated in the thesis. Signed: 12 February 2019 Word Count: 77,081 Two roads diverged in a wood, and I— I took the one less travelled by, And that has made all the difference. Robert Frost, The Road Not Taken For Fadli. Thanks for being with me in travelling the less trodden path. Acknowledgements Praise to Allah, the Lord Almighty that I can finally get to the end of the tunnel. This thesis will never be in its final version without the constant support, confidence, and intellectually rigorous feedback and inspiration from my supervisor: Prof Ariel Heryanto. He was the one who convinced me that I could do a PhD, something previously unthinkable. He was also the one who convinced me to work in an area which I had never trodden before: masculinities. But, Robert Frost said that the road less travelled has ‘made all the difference’. It did and will always do so. My most sincere appreciation also goes to my two other highly supportive supervisors: Dr Ross Tapsell and Dr Roald Maliangkaij. Their confidence in me, intellectual insights and support have helped me build my self-confidence. They are just exceptionally kind and supportive. I would also like to thank Prof Kathryn Robinson for countless hours of fruitful discussion on masculinities in Indonesia and theories of masculinities.