Alcoholic Beverages in Indonesian Movies
Total Page:16
File Type:pdf, Size:1020Kb
Load more
Recommended publications
-
The Cultural Traffic of Classic Indonesian Exploitation Cinema
The Cultural Traffic of Classic Indonesian Exploitation Cinema Ekky Imanjaya Thesis submitted for the degree of Doctor of Philosophy University of East Anglia School of Art, Media and American Studies December 2016 © This copy of the thesis has been supplied on condition that anyone who consults it is understood to recognise that its copyright rests with the author and that use of any information derived there from must be in accordance with current UK Copyright Law. In addition, any quotation or extract must include full attribution. 1 Abstract Classic Indonesian exploitation films (originally produced, distributed, and exhibited in the New Order’s Indonesia from 1979 to 1995) are commonly negligible in both national and transnational cinema contexts, in the discourses of film criticism, journalism, and studies. Nonetheless, in the 2000s, there has been a global interest in re-circulating and consuming this kind of films. The films are internationally considered as “cult movies” and celebrated by global fans. This thesis will focus on the cultural traffic of the films, from late 1970s to early 2010s, from Indonesia to other countries. By analyzing the global flows of the films I will argue that despite the marginal status of the films, classic Indonesian exploitation films become the center of a taste battle among a variety of interest groups and agencies. The process will include challenging the official history of Indonesian cinema by investigating the framework of cultural traffic as well as politics of taste, and highlighting the significance of exploitation and B-films, paving the way into some findings that recommend accommodating the movies in serious discourses on cinema, nationally and globally. -
Preferensi Penonton Terhadap Film Indonesia
PREFERENSI PENONTON TERHADAP FILM INDONESIA Muhammad Yaumul Rizky, Yolanda Stellarosa STIKOM The London School of Public Relations – Jakarta [email protected], [email protected] ABSTRACT This research aims to discover the preference of audiences towards Indonesian movie, located in Jakarta. The purpose of this study is to understand the audience preferences of Indonesia movie through movie attributes such as genre, symbolism, actor, director, sequel, production house, film set, and marketing. Quantitative descriptive research method was used in the research and questionnaire distributed to 200 respondents by applying purposive sampling technique. This research found that the most average of audience preferences from film attributes are: genre, marketing, sequel, symbolism, director, actor, film set and production house. Keywords: Preference, Audience, Indonesian Movie, Quantitative, Uses and Gratification Theory, Film Attribute. ABSTRAK Perkembangan perfilman Indonesia dari tahun ke tahun cenderung lambat. Dikabarkan juga bahwa perfilman Indonesia akan redup. Namun saat ini perfilman Indonesia justru semakin berkembang dan mulai diminati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang preferensi penonton terhadap film Indonesia di Jakarta dilihat dari atribut film seperti genre, karya saduran, pemain, sutradara, sekuel, rumah produksi, latar, dan pemasaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif, kuesioner dibagikan kepada 200 orang responden dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi penonton terhadap film Indonesia cenderung pada atribut film genre film, preferensi kedua adalah pemasaran, preferensi ketiga adalah sekuel, preferensi keempat adalah karya saduran, preferensi kelima adalah sutradara, preferensi keenam adalah pemain, preferensi ketujuh adalah latar dan preferensi terakhir adalah rumah produksi. Kata kunci: Preferensi, Penonton, Film Indonesia, Kuantitatif, Teori Uses and Gratification, Atribut Film. -
Analisis Wacana Dalam Film Titian Serambut Dibelah
ANALISIS WACANA FILM TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH KARYA CHAERUL UMAM Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) Oleh: ZAKKA ABDUL MALIK SYAM NIM: 105051001918 JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M / 1430 H ABSTRAK “Analisis Wacana Film Titian Serambut Dibelah Tujuh karya Chaerul Umam” Oleh : Zakka Abdul Malik Syam 105051001918 Film Titian Serambut dibelah Tujuh merupakan salah satu film ber-genre drama religi, mengusung tema seputar perjuangan sesosok guru muda yang bernama Ibrahim yang telah menimba ilmu dari pesantren. Dalam langkahnya sebagai guru muda yang ingin menerapkan ilmunya di tengah masyarakat ia menemui banyak sekali tantangan dan lika-liku dalam kehidupannya, namun semua itu ia hadapi dengan keikhlasan dan kesabaran serta perjuangan. Kemudian yang menjadi pertanyaan utama adalah bagaimana gagasan atau wacana yang terdapat dalam film Titian Serambut Dibelah Tujuh yang di sutradarai oleh Chaerul umam? Selanjutnya akan melahirkan sub-question mengenai nilai-nilai moral apa saja yang terdapat dalam film titian serambut dibelah tujuh ini? Metode yang digunakan adalah analisis wacana dari model Teun Van Dijk. Dalam model Van Dijk ada tiga dimensi yang menjadi objek penelitiannya, yaitu dimensi teks, kognisi sosial, dan juga konteks sosial adalah pandangan atau pemahaman komunikator terhadap situasi yang melatar belakangi dibuatnya film tersebut. Sedangkan dimensi teks adalah susunan struktur teks yang terdapat dalam film ini. Jika dianalisa, secara umum guru Ibrahim dalam film titian serambut dibelah tujuh ini hendak mengkonstruksi tema besar yakni tentang keikhlasan, kesabaran dan perjuangan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta cobaan yang dihadapinya. -
Halaman Depan
DINAMIKA PERFILMAN INDONESIA (SEJARAH FILM INDONESIA TAHUN 1968-2000) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah OLEH Anselmus Ardhiyoga NIM: 034314001 JURUSAN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2008 ii iii Look, if you had one shot, one opportunity To seize everything you ever wanted, one moment Would you capture it, or just let it slip? You own it; you better never let it go You only get one shot do not miss your chance to blow This opportunity comes once in a lifetime You can do anything You set your mind to (EMINEM) SKRIPSI INI DIPERSEMBAHKAN KEPADA : ¯ TUHAN YESUS KRISTUS ¯ KAKEK DAN PAMANKU YANG TELAH ADA DI SURGA ¯ KELUARGA BESARKU YANG TERCINTA ¯ FITRIA SRI WULANDARI (Thnks Fr Th Mmmrs) ¯ Universitas Sanata Dharma (Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Sejarah) iv ABSTRAK Ardhiyoga, Anselmus. 2008. “Dinamika Perfilman Indonesia (Sejarah Film Indonesia Tahun 1968-2000)”. Skripsi Strata I (SI). Yogyakarta: Prodi Ilmu Sejarah, Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh ideologi pembangunan terhadap perkembangan kebudayaan populer masyarakat. Akan tetapi secara khusus, penelitian ini lebih menyoroti tentang perkembangan film Indonesia karena merupakan film salah satu bagian dari kebudayaan populer dalam masyarakat. Penelitian tentang film, dibagi dalam tiga permasalahan: (1) Bagaimana pengaruh pembangunan terhadap perkembangan film tahun 1968-1980? (2) Bagaimana pengaruh pembangunan terhadap perkembangan film tahun 1980-1990? (3) Bagaimana pengaruh pembangunan terhadap perkembangan film tahun 1990- 2000? Dalam menjawab permasalahan tersebut, Penelitian ini mempergunakan metode penelitian pustaka atau tinjauan/studi pustaka dan menggunakan kritik intren untuk membandingkan data yang diketemukan Dari hasil penelitian tampak bahwa pada tahun 1968-1980, pemerintah ikut campur tangan dalam perkembangan film Indonesia. -
Nilai-Nilai Pendidikan Profetik Dalam Film Sang Pencerah Karya Hanung Bramantyo
NILAI-NILAI PENDIDIKAN PROFETIK DALAM FILM SANG PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Purwokerto Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Oleh: ALFIATIN NIM. 1123301017 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO 2015 i ii MOTTO “Segala yang Aku Tahu, Aku Tahu Hanya Karena Cinta” 1 (Leo Tolstoy) 1 Michael Hoffman, The Last Station, (Hollywood, Egoli Tossel Film Halle, 2009), sebuah film biopic Leo Tolstoy. iii PERSEMBAHAN Terimakasih Tuhan atas segala kasih sayang-Mu, memberikan orang-orang terbaik untuk menemani hidup ini. Karya sederhana ini penulis persembahkan dengan setulus kasih kepada sepasang pahlawan yang telah mengajariku membaca mulai dari Alif-Ba-Ta, A-B-C-D, hingga Ha-Na-Ca-Ra-Ka, Bapak Ikhwan dan Ibu Markhamah. Dan sebagai kado sederhana kepada persyarikatan, selamat Muktamar ke-47 dan selamat milad ke 106 tahun. Selamat Muktamar ke-33 juga, organisasi seperjuangan, Nahdlatul ‘Ulama, semoga terjalin persaudaraan seperti halnya para founding father keduanya. iv v NOTA DINAS PEMBIMBING Kepada Yth. Dekan FTIK IAIN Purwokerto Di Purwokerto Assalamu’alaikum Wr. Wb. Setelah melakukan bimbingan, telaah, arahan, dan koreksi terhadap penulisan skripsi dari Alfiatin, NIM: 1123301017 yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Profetik dalam Film Sang Pencerah Karya Hanung Bramantyo Saya berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Rektor IAIN Purwokerto untuk diujikan dalam rangka memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam (S.Pd.I). Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Purwokerto, Juli 2015 Pembimbing, Dr. H. Moh. Roqib, M.Ag. 19680816 199403 1 004 vi Nilai-nilai Pendidikan Profetik dalam Film Sang Pencerah Karya Hanung Bramantyo Alfiatin NIM: 1123301017 ABSTRAK Penelitian ini meneliti tentang Nilai-nilai Pendidikan Profetik dalam Film Sang Pencerah Karya Hanung Bramantyo. -
Bab Ii Gambaran Obyek Penelitian
BAB II GAMBARAN OBYEK PENELITIAN A. Fenomena Transgender Seks biologisdan gender adalah dua hal yang berbeda. Gender tidak berdasarkan pada anatomi fisik, tetapi berdasar pada apakah seseorang mengidentifikasi dirinya menjadi laki-laki atau perempuan dan bagaimana mereka hidup atau ingin menjalani kehidupan mereka. Di sisi lain, seks biologis melibatkan kromosom, gonad, hormon seks, struktur reproduksi internal dan genital eksternal. Saat lahir, kita mengidentifikasi individu sebagai laki-laki atau perempuan didasarkan pada faktor-faktor ini.Apakah anak-anak akan mengidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan dapat menjadi cerita yang lain. Pada anak-anak, mereka akan menyadari dan mengidentifikasi gendernya pada usia 18 bulan dan 3 tahun. Tentu saja, kebanyakan orang mengembangkan identitas gender sesuai dengan seks biologis mereka. Namun terkadang, gender seseorang tidak sesuai dengan seks biologis mereka. Kondisi inilah yang sekarang diyakini sebagai asal-usul gender terjadi sebelum kelahiran. Kini ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pada anak-anak transgender, bagian dari otak dapat berkembang dengan jalur yang berbeda dari perkembangan seks fisik. Ketika ini terjadi, seorang anak mungkin lahir dengan ketidaksesuaian antara identitas gender dan penampilan seks. Meskipun begitu mungkin ada juga sejumlah faktor yang dapat berkontribusi untuk mengubah perkembangan awal dalam penetapan gender. Genetika, obat, faktor lingkungan, 28 stres atau trauma pada ibu selama kehamilan, semuanya mungkin saja menjadi pemicu perubahan gender. Selama bertahun-tahun, Asosiasi Psikiatrik Amerika, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM, telah menggunakan istilah Kelainan Identitas Gender (Gender Identity Disorder) untuk menggambarkan orang-orang yang transgender. Dengan menggunakan istilah ini adalah bahwa ini dapat mencirikan semua orang-orang yang transgender dimasukkan dalam sakit mental. -
BAB II GAMBARAN UMUM FILM SANG PENCERAH A. Film Sang
BAB II GAMBARAN UMUM FILM SANG PENCERAH A. Film Sang Pencerah Film Sang Pencerah merupakan film karya Hanung Bramantyo yang berangkat dari kisah sejarah perjuangan salah satu tokoh besar K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Kisah ini diadopsi dan dikembangkan oleh Hanung Bramantyo menjadi skenario film yang selanjutnya diproduksi menjadi film yang berjudul “Sang Pencerah”. Film Sang Pencerah berdurasi 112 menit dan menghabiskan biaya 12 Miliyar ini ditulis dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini diproduseri oleh Raam Punjabi di bawah naungan PT Multivision Plus (MVP) dan mendapat dukungan penuh dari PP Muhammadiyah. Pemain film ini diantaranya: Lukman Sardi, Ihsan Taroreh, Slamet Rahardjo, Zazkia Adya Mecca, Yati Surachman, Pangki Suwito, Ikranegara, Sujewo Tejo, Ricky Perdana, Mario Irwansyah, Denis Adhiswara, Abdurrahman Afif, serta penampilan perdana dari Giring Nidji. Syuting perdana Film Sang Pencerah dimulai tanggal 21 Mei 2010 sekaligus menandai rangkaian proses produksi film yang menjadi kado istemewa Milad ke-100 warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Berbicara masalah proses pembuatan film serta sukses atau tidaknya dalam proses produksinya, tentu saja tidak akan pernah lepas dari peran tim kreatif yang terlibat. 30 Berikut beberapa tim kreatif yang terlibat di dalam proses produksi film, diantaranya : (Gambar 2 : Cover Film Sang Pencerah) Sumber: www.wikepedia.com B. Tokoh-tokoh Dalam Film Sang Pencerah Keberhasilan sebuah film ditentukan oleh performa pemain (cast) dan akting, keberhasilan film tentu juga tidak lepas dari orang-orang yang bekerja dibalik layar yang biasa dikenal sebagai crew film (Pratista, 2008: 154). Berikut adalah cast dan crew dalam film sang pencerah yang peneliti kaji. CAST Pemeran Tokoh - Ikhsan Taroreh - Muhammad Darwis - Lukman Sardi - Ahmad Dahlan - Yati Soerachman - Nyai Abubakar - Slamet Rahardjo Jarot - Kyai Penghulu Kamaludiningrat 31 - Giring Nidji - M. -
Indonesian Muslim Youth Identity Construction in Indonesian Religious Films
Indonesian Muslim Youth Identity Construction in Indonesian Religious Films Fadhillah Sri Meutia1, Jalaluddin2 ¹Sociology Department, University of Indonesia 2Islamic Communication and Broadcasting Study Program, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia [email protected] Abstract Keywords popular culture; film industry; This paper seeks to describe the development of cultural sociology studies from a media perspective as a response to technological Indonesian Muslim youth developments and globalization to see today's screen culture. Interestingly, it examines the encounters of American, European, Asian and Muslim cultures through Indonesian screen culture. The researcher chose the film Ayat-Ayat Cinta, as a study material because it got the attention of contemporary Indonesian Muslim audiences, making it interesting to observe. This research examines the workings of Indonesian popular religious films in shaping public opinion regarding the rise of post-Islamism by educated young Indonesian Muslims. The integration between Islam and consumption of popular culture is significantly studied in this study. Through text observation, This research finds that the relationship between religion and popular culture is not a simple cause and effect relationship. Through the perspective of semiotics and the theory of reality construction from Peter L. Berger and Thomas Luckmann, this study suggests that Indonesian Muslim youths shape themselves as subjects of modern Islam. This adjustment is modified from certain values offered by Islamic films very subtly. I. Introduction In this century, religion has become a practice of commodification and commercialization in such a way. This situation is possible because films, music, radio, television, tabloids, and newspapers have become the main concern of contemporary society, which spends most of its time constructing itself in the formation of identity. -
Hak Cipta Dan Penggunaan Kembali: Lisensi Ini Mengizinkan Setiap Orang Untuk Menggubah, Memperbaiki, Dan Membuat Ciptaan Turunan
Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms. Team project ©2017 Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP LAMPIRAN I BIODATA BENNY SETIAWAN 1. Personal Benni Setiawan dikenal sebagai penulis skenario dan sutradara film Indonesia. KARIR kiprahnya dalam dunia perfilman Indonesia dimulai dari tahun 2009, di mana dia menulis skenaro dan menyutradarai film BUKAN CINTA BIASA. Ia kemudian intens menulis skenario dan hingga kini sudah menelurkan lima judul film. Sedangkan sebagai seorang sutradara, Benni telah mengarahkan tiga judul film yang kesemuanya dia juga menulis skenarionya. Suksesnya dalam film 3 HATI DUA DUNIA, SATU CINTA membawa namanya melambung dan semakin dikenal. Selain penghargaan untuk Sutradara Terbaik film tersebut juga mendapat penghargaan sebagai Cerita Skenario dan Adaptasi Terbaik. 2. Pengalaman Sebagai penulis skenario : 2011 - KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP 2010 - 3 HATI DUA DUNIA, SATU CINTA 2010 - CINTA 2 HATI 2009 - SELENDANG ROCKER 2009 - BUKAN CINTA BIASA xv Ananlisis Perbandingan..., Bernadus Anoki, FSD UMN, 2015 3. Pengalaman Sebagai sutradara : a. 2011 - 3 HATI DUA DUNIA b. 2010 - SATU CINTA c. 2010 - CINTA 2 HATI d. 2009 - BUKAN CINTA BIASA 4. Penghargaan - Penghargaan di tahun 2011 : a. Unggulan di Festival Film Bandung, Indonesia Kategori: Sutradara Terpuji Penghargaan: Penghargaan Festival Film Bandung Pada film: 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta b. -
Negotiating Islam with Cinema a Theoretical Discussion on Indonesian Islamic Films
PB Vol. 14 No. 1 (April 2012) AHMADWacana NURIL Vol. HUDA 14 No., Negotiating 1 (April 2012):Islam with1–16 cinema 1 Negotiating Islam with cinema A theoretical discussion on Indonesian Islamic films AHMAD NURIL HUDA Abstract This paper aims at exploring certain negotiations that justify Muslim’s cinematic texts and practices. It focuses on the questions about what is Islamic and un- Islamic about film, who and what decides certain films as Islamic, and what are the meanings of cinematic practices of Islam for Muslim society. Furthermore, this paper tries to investigate these questions from a theoretical basis using concepts of Islamic modernity, Islamic Ummah and Public, in order to shed some light on the idea of how a production of an Islamic film may trigger the creation of a political and religious identity. Keywords Indonesian Islamic film, Islamic modernity, Islamic Ummah and Public. a. Introduction Over the last five years, we have witnessed Islam’s increasing omnipresence in the realm of Indonesian cinema. At present, in Indonesia, Islamic films with a large variety of themes abound using many ways of mediations and practices. Films picturing Islamic symbols, rituals and values, whether in a propagative (dakwah) manner or not, are not only screened in theatres, but also broadcast on TV, available on disks, and may be downloaded from the Internet. As a result, new cinematic practices have emerged in the country. If in the early 1960s many good Indonesian Muslims avoided going to the movies because it was associated with improper behaviour, now a days, even devout Muslims living in pesantren (Islamic boarding house) may attend films screened in theatres and produce films of their own. -
Nilai-Nilai Dakwah Dalam Film Sang Pencerah
Nilai-nilai Dakwah dalam Film Sang Pencerah Edi Amin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Abstract: Religious movies have been largely produced nowadays. One of them is Sang Pencerah, a movie directed by Hanung Bramantyo and sponsored by one of the largest religious organization in Indonesia, Muhammadiyah. This is a biography movie from its founder, KH. Ahmad Dahlan. Since it describes about a religious leaders and his central role in establishing Muhammadiyah, we can find many experiences and facts from Dahlan during his proselytizing. Muhammadiyah is known as a proselytizing organization, with the main principles of amar makruf nahi munkar (call for goodness and forbidden disavowal). This article presents the proselytizing dimensions by Dahlan as seen in the movie. Keywords: Sang Pencerah, film religius, dakwah, KH. Ahmad Dahlan. A. Pendahuluan Tulisan ini melihat pesan-pesan dakwah yang disampaikan dalam film Sang Pencerah (SP). Film religi SP yang mengangkat perjuangan seorang tokoh pendiri organinisasi masa Islam Muhammadiyah, KH. Achmad Dahlan, pada dasarnya merupakan transformasi budaya masa lalu (sejarah). Bangsa besarlah yang mau becermin pada sejarah, dalam arti sejarah masa lalu dijadikan guru bagi menata visi dan misi bangsa ke depan. Film sebagai media komunikasi memiliki peran efektif dalam Kontekstualita, Vol. 25, No. 2, 2010 313 EDI AMIN menyampaikan pesan. Stephen W. Littlejohn dan Kareen A. Foss menyatakan bahwa media merupakan bagian dari kekuatan institusi suatu masyarakat (society’s institutional forces); penyebaran pesan dapat memengaruhi masyarakat sebagai representasi budaya.1 Sayangnya, nilai budaya tidak sepenuhnya dapat ditranformasikan, apalagi jika budaya itu dianggap telah lalu. Banyak kendala, selain persoalan dana atau biaya produksi, karena masih ada anggapan bahwa yang lama telah usang. -
Gelar a Tribute to Teguh Karya Slamet Rahardjo Dan Christine Hakim Kamis, 15 September 2005 Teater Populer Bakal Menggelar a Tr
Gelar A Tribute to Teguh Karya Slamet Rahardjo dan Christine Hakim Kamis, 15 September 2005 Teater Populer bakal menggelar A Tribute to Teguh Karya yang rencananya akan digelar di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Rabu (28/9) mendatang. Sejumlah penyanyi dan musisi akan terlibat dalam kegiatan tersebut. Misalnya, Idris Sardi dan Erros Djarot (komposer musik), Addie MS (konduktor), serta sejumlah penyanyi yang akan diiringi oleh Twilite Orchestra. Dalam konser ini akan ditampilkan original soundtrack film-film karya Teguh Karya seperti film Pacar Ketinggalan Kereta, November 28, Badai Pasti Berlalu, Ibunda, Wajah Seorang Lelaki dan lain-lain. Selain didukung oleh musisi kawakan, acara ini juga akan diramaikan oleh para penyanyi senior seperti Anna Mathovani yang pernah mengisi vokalnya di soundtrack film Cinta Pertama, Berlian Hutahuruk (Badai Pasti Berlalu), Aning Katamsi, Harvey Malaihollo, Ruth Sahanaya, Rafika Duri, Marini, Christopher Abimanyu, Fryda Luciana, serta para aktor kawakan lainnya yang pernah membintangi film-film karya Teguh Karya seperti Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Roy Marten, Leny Marlina, Alex Komang, Jenny Rahman, Niniek L Karim, N. iantiarno, dan Rima Melati. Slamet Rahardjo yang menjadi salah satu penggagas acara ini mengatakan bahwa acara ini bukanlah upaya untuk mengkultuskan seorang Teguh Karya. Tetapi, dalam kegairahan perfilman saat ini perlu diberikan sebuah keteladanan yang bisa dipetik dari sosok Teguh Karya. "Kegiatan ini juga didasari oleh pengertian bahwa film bukan hanya sekedar akting saja, melainkan di dalamnya ada juga unsur musik yang mempengaruhi sebuah karya film," ujar Slamet Rahardjo di sanggar Teater Populer, Jalan Kebon Pala, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Slamet mengatakan, A Tribute to Teguh Karya adalah salah satu wasiat yang diamanahkan kepada dirinya setahun sebelum Teguh Karya meninggal pada 11 Desember 2001 lewat ungkapan Teguh yang berbunyi "kreativitas tidak boleh mati".