JOGJA! Worldwide, Said Mr
Total Page:16
File Type:pdf, Size:1020Kb
Load more
Recommended publications
-
Indoconnect0003.Pdf
CHRIS MERRY DIDIET JOHN RIANA MAULANA Undefeated Women’s Full Fashionably Champion Potential Traditional 10 18 32 IndoCONNECTING INDONESIANSConnect IN SINGAPORE // MARCH 2013 Youth Ambassadors For Indonesian Arts & Culture New Look! SHOPPING SPLASHING ISGC 2013: FUN: GLOBAL FOR SOLID MARINE SPlusTUDENT FURNITURE, LIFE PARK POWER NATURALLY LOOKING FOR 30%-200% YIELD ON YOUR INVESTMENT? SINGAPORE A Great Place to INVEST in REAL ESTATE Today we are living in uncertain times. While businesses and stock markets around the world remain unpredictable, real estate remains a safe and rewarding option, especially in Singapore where land is scarce. Considered by many as the ‘Little Red Dot’ of Asia’, Singapore is as an ideal place to invest. This peaceful, cosmopolitan city with its continual increase in population, political stability, well-regulated commercial environment and excellent infrastructure has been giving good returns to countless investors for decades. However, being a foreigner who stay overseas or a busy entrepreneur who constantly travel, looking for a trustworthy partner to provide profitable investment opportunities as well as to help manage your asset securely till liquidation can be a challenge. Don’t let your busy schedule delay you from investing in this booming ‘Lion City’. At Hong Lee Property Investments Pte Ltd, we have professionals with more then 20 years experience to open golden doors for you to play in our local lucrative property fields. Fully committed to integrity and client service, we assist our investors in the Sales and Lease of Realty, Property Development & Project Management, Consultancy & Research. Depending on our investors’ financial goals, *capital outlay and desired time frame, we constantly seek out strategic investments that have the highest potential returns to offer our investors at a secured and transparent level. -
Tokoh Pada Film “Cinderella” Versi Live Action Tahun
Sense Vol 1 | No 1 | Mei 2018 KOMPARASI KOSTUM DAN TATA RIAS DALAM MEMBANGUN 3 DIMENSI TOKOH – TOKOH PADA FILM “CINDERELLA” VERSI LIVE ACTION TAHUN 2015 DENGAN FILM VERSI ANIMASI TAHUN 1950 Elzha Noer Oktaviani Nanang Rakhmad Hidayat Agnes Widyasmoro Jurusan Film & Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis km. 6.5 Yogyakarta Telp. (0274) 381047 ABSTRAK Kostum dan tata rias menjadi alat komunikasi terhadap kepribadian tokoh pada film melalui peradaban kehidupan dan budaya manusia untuk memberikan ciri khas pada masing- masing tokoh. Keberadaan kostum dan tata rias dalam membangun 3 dimensi tokoh pada industri perfilman melalui genre bertajuk film fantasi menggunakan fenomena kultural sebagai inspirasi dalam menghasilkan prestasi dan apresiasi di tingkat Internasional. Salah satu keberhasilan tersebut terlihat pada Film “Cinderella” versi live action tahun 2015 yang diproduksi oleh Walt Disney. Film “Cinderella” versi live action tahun 2015 merupakan hasil remake film versi animasi pada tahun 1950 yang sama-sama diproduksi oleh Walt Disney, sebagai film adaptasi dari dongeng “Cinderella” karya penulis terkenal dari Perancis bernama Charles Perrault. Film “Cinderella” versi live action tahun 2015 dengan film versi animasi tahun 1950 mampu memberikan gambaran secara umum terhadap setting (waktu dan tempat) sebagai dunia imajinasi dan rekaan terinspirasi melalui tren gaya masyarakat Eropa. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif menggunakan metode kualitatif dengan pemaparan secara deskriptif. -
CHAPTER IV FINDING and ANALYSIS A. the Succession of the Governor in Yogyakarta Special Region 1. the Governor's Election Syste
CHAPTER IV FINDING AND ANALYSIS A. The Succession of the Governor in Yogyakarta Special Region 1. The Governor's Election System in DIY According to the Indonesian Government system, the system of Indonesian Government consists of three levels, namely: central government, regional government consisting of provincial and district/ city, and village government.53 The regional government is the Head of Region and the Vice Head of Region as an element of the regional government which guarantees the implementation of the government affairs which is the authority of the autonomous region.54 Article 18 of 1945 Constitution determines that the territory of Indonesia is divided into provincial areas, and the provinces are divided into districts and cities. Each province, district, and city have local government as determined by Law. In regulating the form and structure of regional government, the state recognizes and respects to the special regional government units which will be regulated by Law.55 Before the amendment of 1945 Constitution or since the proclamation of independence on August 17th, 1945, there are at least some provinces 53 Suharizal, Muslim Chaniago, 2017, Hukum Pemerintahan Daerah Setelah Perubahan UUD 1945, Yogyakarta: Thafa Media, p. 52 54 Andi Pangerang Moenta, Syafa‟at Anugrah Pradana, 2018, Pokok-Pokok Hukum Pemerintahan Daerah, Depok: Rajawali Pers, p. 26. 55 Ibid., p. 50. 22 with special status or special region, namely: DIY, Nanggroe Aceh Darussalam, and Jakarta.56 The Governor, the Regent, the Mayor, and the regional apparatus are the element of local government administration. Each region is led by the Head of Government called the Head of Region. -
Umum – Juara II – Dasasila Bandung #3
Perkembangan Pola Pikir dan Kepribadian Wanita Asia-Afrika dalam Mewujudkan Kesetaraan melalui Ajang Miss Universe Oleh: Ulfah Mawaddah - Kategori Umum Berdasarkan Tema: Dasasila Bandung dan Relevansinya dengan Kehidupan Masa Kini Subtema: Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil Pada 18 April 1955 Konferensi Asia Afrika (KAA) dibuka Presiden Soekarno di Gedung Merdeka, Bandung. Kini, Asia Afrika sudah memasuki 65 tahun. Pengalaman yang menimbulkan perasaan senasib dan sepenanggungan itu akhirnya melahirkan persatuan tindakan, yang berhasil mewujudkan solidaritas rakyat Asia dan Afrika yang lahir 65 tahun silam. Berdasarkan catatan sejarah Kementerian Luar Negeri RI, dikutip republika.co.id, Sabtu (18/4), diadakannya KAA tidak lain karena dilandasi oleh gagasan dari lima negara yakni Burma (Myanmar), India, Indonesia, Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka). Pertemuan ini melibatkan 24 negara lainnya dari Asia dan Afrika yang berlangsung selama sepekan (18-24 April 1955). Yang paling membanggakan, kini, setelah Arsip VOC, puisi kuno La Galigo, kitab Negarakertagama, dan Babad Diponegoro, kini giliran Arsip Konferensi Asia Afrika ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of World). Berbicara mengenai Dasasila Bandung yang merupakan hasil kesepakatan dari dilangsungkannya Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 tersebut, tentu tidak akan terlepas begitu saja dari isu-isu seputar kesetaraan gender yang bahkan masih diperjuangkan hingga sekarang. Tidak sedikit pula wanita di Indonesia, bahkan di Asia dan Afrika sekalipun, yang belum mendapatkan hak mereka yang seutuhnya. Sebagian dari mereka masih terjebak dalam pusaran human trafficking, 1 rasisme, peperangan tak berkesudahan, dan masih banyak lagi hambatan dalam mencapai title sebagai manusia merdeka. Puluhan tahun berselang sejak diselenggarakannya KAA, persoalan pelik semacam itu masih belum dapat terselesaikan secara holistik. -
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Popularitas Kontes
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Popularitas kontes kecantikan yang diawali di Eropa telah merambah ke banyak negara termasuk Indonesia. Sejumlah kontes kecantikan meramaikan industri pertelevisian, salah satunya adalah kontes kecantikan Puteri Indonesia yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1992. Ajang Puteri Indonesia digagas oleh pendiri PT Mustika Ratu, yaitu Mooryati Soedibyo. Di tahun 2020, kompetisi Puteri Indonesia kembali digelar dan ditayangkan di stasiun televisi SCTV. Penyelenggaraan kontes, melibatkan 39 finalis yang berlomba menampilkan performa terbaik untuk memperebutkan gelar dan mahkota Puteri Indonesia. Pemilihan 39 finalis yang berkompetisi di panggung Puteri Indonesia melalui proses yang tidak mudah. Yayasan Puteri Indonesia (YPI) menjelaskan bahwa perempuan yang berhasil menjadi perwakilan provinsi dipilih melalui seleksi ketat. YPI membebankan syarat utama bagi calon peserta untuk memenuhi kriteria “Brain, Beauty, Behavior”. Secara spesifik YPI mematok kontestan harus memiliki tinggi minimal 170 cm, berpenampilan menarik, dan pernah atau sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Nantinya, apabila berhasil terpilih sebagai pemenang, maka 3 besar Puteri Indonesia akan mengikuti ajang kecantikan internasional yaitu, 1 2 Miss Universe, Miss International, dan Miss Supranational (www.puteri- indonesia.com, 2019). Konstruksi ideal “Brain, Beauty, Behavior” atau 3B telah melekat dengan kontes Puteri Indonesia, dan menjadi harapan bagi masyarakat untuk melihat figur perempuan ideal. Namun, penyelenggaraan kontes di tahun 2020 mendapat sorotan terkait dengan performa finalis saat malam final. Salah satu finalis yang menjadi perbincangan hangat adalah Kalista Iskandar, perwakilan dari Provinsi Sumatera Barat. Langkahnya terhenti di babak 6 besar setelah gagal menjawab pertanyaan terkait Pancasila. Kegagalannya dalam sesi tanya-jawab, menghiasi pemberitaan media massa hingga menjadi topik yang paling banyak dibicarakan (trending topic) di media sosial Twitter. -
Faisal Basri Selaku Pengamat Ekonomi Untuk Mengkaji
EMPOWERING ENTREPRENEUR Money&IVol. 80 OCT-NOV ’16 Interview Faisal Special Report Indonesia Basri Dimana, Mau Kemana? “Ini Ganjil, Negara Kita Tumbuh, Memetakan Posisi Tapi Penerimaan Perekonomian Pajaknya Turun? Indonesia Wiwin Gunawasika Konduktor Bisnis Event Organizer “Kalau sudah passion income, kita akan happy dan klien pun akan happy” Rp. 28.500 WWW.THE-MNI.COM MONTHLY MAGAZINE MONEY&I MAGAZINE ISSN: 2087-5975 Vol. 80 | Oct - Nov 2016 1 2 Vol. 80 | Oct - Nov 2016 Vol. 80 | Oct - Nov 2016 3 FROM THE EDITOR Arif Rahman @arif_journal Dari Gerakan Cinta Rupiah, sampai Tax Amnesty mapan babak belur, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sistem kapitalisme mendapat cobaan dahsyat. Kondisi ini juga akhirnya ‘membangkrutkan’ sejumlah negara, dan puncak drama terjadi ketika Inggris keluar dari Uni Eropa, yang keren dalam pemberitaan dengan istilah Brexit. Di Indonesia sendiri, sejak tahun 2008 mengalami pertumbuhan yang signifikan, sekalipun belakangan melambat, namun masih jauh lebih baik dari sejumlah emerging market lainnya yang ekonominya terjun bebas. Belakangan, Indonesia membuat kebijakan Tax Amnesty. Program ini sudah kali sebelumnya dilakukan, namun gagal di program perdana ditahun 1964 karena peritiwa G30S PKI. Gagal kembali pada tahun 1984 karena pada saat itu booming batu bara dan kayu, yang ditenggarai wajib pajak malas untuk melapor. Dan jika kali ini agi kalangan akademisi, terlebih dibidang Tax Amnesty berhasil, maka akan menjadi sejarah sendiri yang ekonomi, maka sejumlah peristiwa di Indonesia bukan tidak mungkin akan membelokkan sejumlah strategi baru selama 20 tahun terakhir bak ladang ilmu yang dalam menggenjot perbaikan ekonomi tanah air. Bmengalir deras. Ada berbagai peristiwa ‘baru’ yang menambah khasanah keilmuan. Mulai dari krisis Semua ini menjadi potret Indonesia Baru yang masih punya moneter tahun 1998 yang merobohkan pondasi ekonomi peluang besar untuk lebih baik dari kondisi hari ini. -
Lista Ofrecida Por Mashe De Forobeta. Visita Mi Blog Como Agradecimiento :P Y Pon E Me Gusta En Forobeta!
Lista ofrecida por mashe de forobeta. Visita mi blog como agradecimiento :P Y pon e Me Gusta en Forobeta! http://mashet.com/ Seguime en Twitter si queres tambien y avisame que sos de Forobeta y voy a evalu ar si te sigo o no.. >>@mashet NO ABUSEN Y SIGAN LOS CONSEJOS DEL THREAD! http://blog.newsarama.com/2009/04/09/supernaturalcrimefightinghasanewname anditssolomonstone/ http://htmlgiant.com/?p=7408 http://mootools.net/blog/2009/04/01/anewnameformootools/ http://freemovement.wordpress.com/2009/02/11/rlctochangename/ http://www.mattheaton.com/?p=14 http://www.webhostingsearch.com/blog/noavailabledomainnames068 http://findportablesolarpower.com/updatesandnews/worldresponsesearthhour2009 / http://www.neuescurriculum.org/nc/?p=12 http://www.ybointeractive.com/blog/2008/09/18/thewrongwaytochooseadomain name/ http://www.marcozehe.de/2008/02/29/easyariatip1usingariarequired/ http://www.universetoday.com/2009/03/16/europesclimatesatellitefailstoleave pad/ http://blogs.sjr.com/editor/index.php/2009/03/27/touchinganerveresponsesto acolumn/ http://blog.privcom.gc.ca/index.php/2008/03/18/yourcreativejuicesrequired/ http://www.taiaiake.com/27 http://www.deadmilkmen.com/2007/08/24/leaveusaloan/ http://www.techgadgets.in/household/2007/06/roboamassagingchairresponsesto yourvoice/ http://blog.swishzone.com/?p=1095 http://www.lorenzogil.com/blog/2009/01/18/mappinginheritancetoardbmswithst ormandlazrdelegates/ http://www.venganza.org/about/openletter/responses/ http://www.middleclassforum.org/?p=405 http://flavio.castelli.name/qjson_qt_json_library http://www.razorit.com/designers_central/howtochooseadomainnameforapree -
Download Download
Vol. 15, 2021 A new decade for social changes ISSN 2668-7798 www.techniumscience.com 9 772668 779000 Technium Social Sciences Journal Vol. 15, 602-610, January, 2021 ISSN: 2668-7798 www.techniumscience.com Jemparingan as a source of local wisdom in Mataram: the role of Indonesian traditional arrows in forming the character of nationality Aziz, Abd.1, Winarsih, Nining2 1The chancellor of university, Islamic University of Zainul Hasan, Indonesia, 2College of Social Education, Islamic University of Zainul Hasan, Indonesia [email protected] Abstract. This article aims to examine the role of natural nails VIII in the development of Indonesian archery sport. The method used is the historical research method which includes heuristic, criticism, interpretation and historiography stages. This study describes the philosophical aspects of the typical Mataram archery sport known as jemparingan. the role of Paku Alam VIII in thearrow sport jemparingan, as well as the character value of the jemparingan and its implementation for the younger generation. This paper will provide insight to the public to get to know more about the jemparingan and portrait of the struggle of natural nail VIII in historical studies in Indonesian history. Keywords. Jemparingan, archery sport, character value, history 1. Introduction Bows and arrows have a long history in the world (Okawa et al., 2013). Archery is the oldest weapon used by humans to protect themselves. Archaeologists estimate that from the cave paintings, arrows were used since 50,000 years ago(Zhang, 2018). Archery is a symbol of strength and power. Countries in the world that are known as reliable archers are from England and France who use a crosbow or crossbow during the war in Hasing and Roses(Alofs, 2014; Crombie, 2011; Ganter et al., 2010). -
Edisi 6 / 2018 Buletin Pelestarian Warisan Budaya Dan Cagar Budaya MAYANGKARA Edisi 6 / 2018
ISSN 2502-1567 Buletin Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya MAYANGKARA Edisi 6 / 2018 Buletin Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya MAYANGKARA Edisi 6 / 2018 Sampul Depan: Gedhong Purwaretna, Pura Pakualaman Rubrik Uneg-uneg Redaktur KORI: rubrik pembuka berisi informasi mengenai sejarah dan penjelasan tema buletin edisi kali ini. SUSUNAN REDAKSI PENDHAPA: tajuk utama dalam buletin. PENANGGUNG JAWAB: Drs. Umar Priyono, M. Pd. PLATARAN: rubrik ringan yang berisi perjalanan ataupun informasi situs warisan budaya di berbagai tempat, khususnya Salam Budaya, di DIY. PEMIMPIN REDAKSI: Dian Lakshmi Pratiwi, S.S.,, M.A PRINGGITAN: rubrik berisi kajian maupun penelitian yang membahas mengenai tema Buletin Mayangkara edisi kali ini. Perkembangan pembangunan modern yang terjadi di Yogyakarta khususnya di Kawasan REDAKTUR: EMPU: rubrik wawancara interaktif dengan tokoh-tokoh yang Cagar Budaya Pakualaman membawa berbagai dampak salah satunya identitas kawasan yang Aris Wityanto, S.IP berpengaruh dalam pelestarian warisan budaya dan cagar tergerus. Oleh sebab itu, sebagai salah satu Kawasan Cagar Budaya yang diprioritaskan oleh budaya. pemerintah, perlu adanya langkah khusus dalam mempertahankan karakter Kawasan Cagar EDITOR: PAWARTOS: rubrik berisi berita-berita pelestarian warisan Joy Jatmiko Abdi, S.S. budaya dan cagar budaya. Budaya Pakualaman sebagai salah satu bentuk pelestarian kota heritage. Anglir Bawono, S.S. PAGELARAN: rubrik mengenai kegiatan masyarakat dalam Edisi ke 6 buletin Mayangkara akan membahas lebih dalam mengenai Pelestarian Warisan upaya pelestarian terhadap warisan budaya dan cagar budaya REPORTER: di Kotabaru. Budaya dan Cagar Budaya serta nilai-nilai penting yang terkandung di dalam Kawasan Cagar Ria Retno Wulansari, S.S Budaya Pakualaman. Pembaca akan menemukan rubrik-rubrik yang menambah wawasan SRAWUNG: rubrik berisi serba-serbi mengenai warisan budaya FOTOGRAFER: dan cagar budaya. -
Religious Identification and Social Distance Between Religious Groups in Yogyakarta
HUMANIORA VOLUME 27 No. 2 Juni 2015 Halaman 141-155 RELIGIOUS IDENTIFICATION AND SOCIAL DISTANCE BETWEEN RELIGIOUS GROUPS IN YOGYAKARTA Cahyo Pamungkas* ABSTRAK Artikel ini menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan politik, keagamaan, dan ekonomi di Yogyakarta berpengaruh terhadap proses pembentukan identitas agama dan penciptaaan jarak sosial antar kelompok umat beragama di daerah tersebut. Fenomena menguatnya identitas agama di daerah ini terjadi pada masa Perang Diponegoro (1825-1830) ketika isu agama digunakan dalam mobilisasi masa untuk melawan kekuasaan kolonial. Penyebaran agama Nasrani pada akhir abad ke- 19 telah menimbulkan ketegangan antara misionaris dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam, namun tidak berkembang menjadi konflik kekerasan. Walaupun kota Yogyakarta berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, hubungan antar kelompok agama atau suku di daerah ini relatif harmonis. Namun, sejak tahun 1980-an, identitas agama kembali menguat baik di kalangan perkotaan maupun perdesaan seiring dengan proses modernisasi kehidupan masyarakat. Lembaga-lembaga dakwah kampus menjadi penggerak kehidupan keagamaan di perkotaan. Reformasi 1998 justru menandai bangkitnya gerakan-gerakan fundamentalisme keagamaan yang pada tingkatan tertentu berkontribusi pada penciptaan jarak sosial antar umat beragama. Kata kunci: perubahan sosial, identitas agama dan suku, jarak sosial ABSTRACT This paper explains how political, religious, and economic changes in Yogyakarta affect the formation of religious identity and social distance between different religious groups. The strengthening of religious identity in this area took place in the period of the Diponegoro War (1825- 1830) when religious issues were used in the mobilization against the Dutch colonialist. Then, the spread of Christianity in Java at the end of 19th led to several tensions between missionaries and several Islamic organizations, but never developed into communal violence. -
Volume Xi / No. 108 / September 2016
VOLUME XI / NO. 108 / SEPTEMBER 2016 VOL. XI / NO. 108 / SEPTEMBER 2016 1 ISSN 1907-6320 Daftar Isi FIGUR 32 Pulang Kampung EKONOMI TERKINI 36 Belanja Dipangkas Demi Anggaran Berkualitas KOLOM EKONOM 40 Beras: Dulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang GENERASI EMAS 44 Cinta Ataka pada Dunia Robotika OPINI 5 DARI LAPANGAN LAPORAN UTAMA 46 Mitigasi Risiko Foto Cover BANTENG 13 Membangun Negeri Amnesti Pajak Anas Nur Huda dengan Uang Kita 6 EKSPOSUR Sendiri REGULASI 16 Infografis 48 Ragam Investasi 10 LINTAS PERISTIWA 18 Amnesti untuk Negeri untuk Menampung 21 Kembali Untuk Dana Repatriasi Indonesia 23 Tak Ada yang Perlu INSPIRASI Diterbitkan oleh: Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Pelindung: Menteri Keuangan Ditakutkan 50 Kisah Peneliti Sri Mulyani Indrawati. Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo. Pengarah: Penanggung Jawab: Pecinta Kopi Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto. Pemimpin Umum: REPORTASE Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Neneng Euis Fatimah. Pemimpin Redaksi: Moh. Firdaus Rumbia. Redaktur Pelaksana: Dianita Suliastuti. Dewan Redaksi: Rizwan Pribhakti, 25 Indonesia Sukses RENUNGAN Rezha S. Amran, Hadi Siswanto,Titi Susanti, Budi Sulistyo, Yeti Wulandari, Pilar Wiratoma, Purwo Selenggarakan WIEF 52 Prioritas, Waktu, dan MEDIA KEUANGAN adalah majalah resmi Widiarto, Dendi Amrin, Sri Moeji S., Muhammad Hijrah, Adya Asmara Muda, Hadi Surono, Ali Ridho, ke-12 Masa Depan Kementerian Keuangan. Memberikan Agung Sudaryono, R. Mukiwihando. Tim Redaksi: Irma Kesuma Dewi, Iin Kurniati, Farida Rosadi, 26 Menkeu Buka Masa informasi terkini seputar kebijakan fiskal Pradany Hayyu, Dwinanda Ardhi, Bagus Wijaya, Eva Lisbeth, Danik Setyowati, Novita Asri, Amelia Safitri, Faisal Ismail, Krisna Pandu Pradana, Joko Triharyanto, Adik Tejo Waskito, Cahya Setiawan, Penawaran Sukuk BUKU didukung oleh narasumber penting dan Akbar Saputra, Arif Nur Rokhman, Panji Pradana Putra, Ferdian Jati Permana, Sugeng Wistriono, Tabungan Seri ST-001 53 Memilih untuk kredibel dibidangnya. -
1 Metonymy of the Word 'Indonesia' in Phrases
ELTR Journal, e-ISSN 2579-8235, Vol. 3, No. 1, January 2019, pp. 1-19 English Language Teaching and Research Journal http://apspbi.or.id/eltr English Language Education Study Program Association, Indonesia METONYMY OF THE WORD ‘INDONESIA’ IN PHRASES ‘PROUD OF INDONESIA’ USED ON FACEBOOK Jennifer, Paulus Tri Nugroho Putro and Victory Cahya Adi Sanata Dharma University, Indonesia [email protected], [email protected], [email protected] DOI: doi.org/10.37147/eltr.2019.030101 received 26 September 2018; accepted 15 December 2018 Abstract Simply defined, metonymy is a phenomenon in which two things are associated, so that one thing stands for the other, i.e. the source stands for the target. (Evans and Green, 2006, p. 314; Barcelona, 2003) The example from Evans and Green (2006, p. 312) is “England beat Australia in the 2003 rugby World Cup final.” In that example, England and Australia stand for their own national football teams. The example is whole-for-part metonymy. Generally classified, the types of metonymy are whole for part and part for whole. (Barcelona, 2003, p. 239) What it means by “whole for part” is a general thing represents a specific thing. It goes the other way around for “part for whole”. As everyone uses metonymy very often, it is everyone’s awareness towards metonymy that should be increased. Metonymy is a powerful tool (Guan, 2009, p. 179). It is a “cognitive tool for people’s conceptualization of the world” (Guan, 2009, p. 179) and particularly “for guiding inferencing in the interpretation of spoken discourse” (Kriskovic & Tominac, 2009, p.