Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8), Juni 2018

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KAPEHU (Guioa diplopetala)

Elizabeth B. E Kristiani1), Sri Kasmiyati2), Naomi Y. C. Palekalehu3) 1,2,3,)Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana E-mail: [email protected] (correspondence author)

ABSTRAK

Guioa diplopetala yang dikenal masyarakat Sumba dengan nama Kapehu, biasa digunakan sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit, tetapi laporan ilmiah kemampuan tersebut belum banyak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak daun, serta menganalisis korelasi antara kandungan fenol, tanin dan flavonoid terhadap kedua aktivitas farmakologi tersebut. Ekstrak daun Guioa diplopetala diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut metanol (MD) dan etanol (ED). Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram kertas sedangkan aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH (1,1- diphenyl-2-picrylhidrazil). Skrining fitokimia senyawa bioaktif ditentukan secara kualitatif. Aktivitas antioksidan ekstrak MD lebih kuat dibandingkan ED yaitu berturut-turut 82,33 dan 59,58 mg AEAC/g. Ekstrak etanol daun Guioa diplopetala tidak menunjukkan kemampuan antibakteri sedangkan ekstrak metanol mampu menghambat pertumbuhan bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus masing-masing dengan nilai DDH 6,1 dan 5,7 mm. Skrining fitokimia menunjukkan kedua jenis ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, terpenoid/steroid, tanin, saponin dan antrakuinon. Kandungan fenol, flavanoid, dan tannin berkorelasi positif dengan aktivitas antibakteri dan antioksidan ekstrak daun Guioa diplopetala.

Kata kunci : Guioa diplopetala , antioksidan, antibakteri, fitokimia

PENDAHULUAN Tumbuhan Kapehu (Guioa diplopetala) antioksidan dan antibakteri. Kemampuan antioksidan termasuk dalam divisi Magnoliophyta, kelas dan antikbakteri daun Guioa diplopetala yang tumbuh Magnoliopsida, ordo dan suku di daerah Sumba perlu dibuktikan secara ilmiah. Oleh (Astuti 1999). Tumbuhan ini dilaporkan karena itu, kadar fenol, flavonoid dan tanin total yang terdapat di daerah Kalimantan (Yusuf & terkandung dalam daun Kapehu perlu diukur agar Purwaningsih, 2012), Gunung Kelud Jawa Timur diperoleh hasil kuantitatif dari senyawa tersebut dan (Larashati, 2011), juga di daerah Bogor (Putri, dkk., dapat dianalisis korelasi antara senyawa tersebut 2017). Tumbuhan ini biasa dimanfaatkan sebagai dengan aktivitas antioksidan dan antibakteri. penghasil buah oleh masyarakat suku Dayak Penan Beberapa peneliti melaporan aktivitas (Yusuf & Purwaningsih, 2012). Sedangkan, fitofarmakan tumbuhan suku Sapindaceae ini. Arora, masyarakat Sumba biasa memanfaatkan sebagai obat dkk. (2012) menyatakan bahwa senyawa metabolit tradisional. sekunder pada Sapindus emarginatus (Sapindaceae) Sejauh ini belum ditemukan laporan ilmiah memiliki berbagai aktivitas farmakologi antara lain aktivitas fitofarmaka tumbuhan ini terutama aktivitas anti-inflamasi, antipiretik, antihiperlipidemia,

266 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8), Juni 2018

antimikrobia, dan lain-lain. Senyawa tersebut meliputi bertingkat selama 3 x 24 jam dengan sesekali digojog. alkaloid, fenolik, flavonoid, saponin, juga karbohidrat. Dua jenis pelarut untuk ekstraksi yaitu dengan pelarut Ekstrak metanol C. canescens mengindikasikan metanol (Merck) dan etanol (Merck). adanya aktivitas antioksidan tinggi (Udhayasankar, Aktivitas antioksidan diukur menggunakan dkk., 2013). Cardoso, dkk. (2013) melaporkan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazil) (Blois, aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun dan akar 1958; dan Kubo, dkk. 2002). Aktivitas antibakteri Serjania erecta Radlk. dan antibakteri terhadap S. diukur menggunakan metode difusi cakram (Garriga, aureus, P. aeruginosa, S. setubal, C. albicans, S. dkk.,1993). Bakteri uji meliputi Escherichia coli dan cerevisiae and E. coli. Ekstrak A. africanus and Staphylococcus aureus. Asam askorbat digunakan Cardiospermum grandiflorum mampu menghambat sebagai senyawa standar (kontrol positif) pada uji pertumbuhan bakteri Allophylus africanus, C. antioksidan dan tetrasiklin pada uji antibakteri. grandiflorum, Blighia sapida, Blighia unijugata, Screening fitokimia meliputi analisis kualitatif Deinbollia pinnata and golungensis tetapi kandungan senyawa alkaloid, flavonoida, kemampuan antioksidan terbaik hanya oleh A. terpenoid/steroid, tanin, saponin dan antrakuinon africanus (Sofidiya, dkk., 2012). Hasil kajian Arora, menggunakan metode Harbone, (1987). Setiap dkk., (2012) menyatakan bahwa ekstrak metanol dan pemeriksaan dilakukan dalam 3 kali ulangan. Tiga etanol daun Sapindus emarginatus menunjukkan senyawa dianalisis secara kuantitatif menggunakan potensial penghambatan terhadap E. coli dan spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu UV 1280) Psuedomonas aeruginosa. Selain itu, ekstrak daun meliputi total senyawa fenol (McDonald, dkk., 2001), tanaman tersebut bersifat antioksidan sedang yang flavonoid (Pourmorad, dkk., 2006), dan tanin bergantung pada konsentrasi ekstrak. Senyawa fenolik (Polshettiwar et al.,, 2007). merupakan fitokimia yang terutama berperan dalam Data dianalisis secara statistik dengan aktivitas antioksidan. program SPSS. Uji homogenitas ragam (Uji Levene) Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan Normalitas (Uji Shapiro–Wilk) dilakukan aktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak metanol sebelum analisis sidik ragam (ANOVA). Jika terdapat dan etanol daun Kapehu (Guioa diplopetala) serta pengaruh signifikan perlakuan terhadap aktivitas uji menganalisis korelasi antara kandungan fenol, tanin maka dilanjutkan dengan uji Tukey. Adanya korelasi dan flavonoid terhadap kedua aktivitas farmakologi fenol, flavonoid atau tanin total terhadap aktivitas tersebut. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini antioksidan dan antibakteri dianalisis dengan diharapkan dapat memberi informasi ilmiah khasiat menggunakan analisis korelasi Pearson. farmakologi tumbuhan Kapehu (Guioa diplopetala). HASIL DAN PEMBAHASAN METODE PENELITIAN Screening Fitokimia daun G. diplopetala Desain penelitian menggunakan Rancangan Screening fitokimia digunakan sebagai uji Acak Lengkap. Sampel diambil dari dari daerah kualitatif untuk mengetahui senyawa yang terkandung Waingapu Kabupaten Sumba Timur pada bulan dalam ekstrak daun Kapehu (G. diplopetala). September tahun 2013. Sebelum diekstraksi, daun Berdasarkan Tabel 1 tampak bahwa daun Kapehu Guioa diplopetala dikeringkan dan dihaluskan. mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi tidak terpenoid/steroid, tanin, saponin dan antrakuinon.

267 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8), Juni 2018

Perbedaan tersebut disebabkan oleh kemiripan polaritas antara metanol dengan Kadar Total Fenol, Tanin dan Flavonoid senyawa ketiga senyawa yang diukur. Sifat Kadar total fenol, tanin dan flavonoid polar pada metanol dapat menarik senyawa fenolik seperti tanin dan flavonoid yang pada ekstrak etanol dan metanol daun Kapehu memiliki gugus fungsi hidroksil dalam berbeda-beda (Gambar 1). Pada setiap senyawa uji jumlah yang banyak sehingga kadar total yaitu total fenolik, total tanin, dan total flavonoid kadar fenol, tanin dan flavonoid pada ekstrak metanol lebih besar dibanding pada ekstrak senyawa pada ekstrak metanol (berturut-turut 77,93; etanol. 36,82; 36,67 satuan uji) lebih besar secara nyata (p<0,05)) daripada ekstrak etanol (berturut-turut 18,50; 6,69; 7,96 satuan uji).

Tabel 1. Hasil Screening fitokimia daun Kapehu (G. diplopetala) Hasil Uji Senyawa Metode Pengujian Penanda Hasil sampel Alkaloid Bouchardat Endapan coklat tua + Mayer Endapan putih + Wagner Endapan coklat + Flavonoid NaOH 10% Biru + FeCl3 1% Hitam + H2SO4 pekat Hijau kekuningan + Terpenoid/steroid H2SO4 pekat Hijau kemerahan + Tanin FeCl3 1% Hitam kehijauan + Saponin Uji Forth Terbentuk busa + Antrakuinon Uji Brontrager Merah + Keterangan : (+) = ada

Gambar 1. Kadar total fenol, tanin dan flavonoid ekstrak etanol dan metanol daun Kapehu (G. diplopetala) Keterangan: Satuan kadar total fenol yaitu mg kuivalen asam galat/g serbuk kering; kadar total tanin yaitu mg ekuivalen asam tanat/g serbuk kering; total flavonoid yaitu mg EK/g serbuk kering. Uji statistik menggunakan ANOVA dilanjutkan uji Tukey dengan tingkat kepercayaan 5%. Angka yang diikuti huruf (superscrip) yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna pada konsentrasi ekstrak yang sama antar konsentrasi.

Tabel 2. Korelasi aktivitas antioksidan dengan komponen fenolik pada ekstrak etanol daun Kapehu (Guioa diplopetala) berdasarkan analisis korelasi Pearson Senyawa uji Total Fenol Total Tanin Total Flavonoid Kapasitas

268 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8), Juni 2018

Antioksidan Total Fenol 1 0.997 0.994 0.947 Total Tanin 0.997 1 0.982 0.918 Total Flavonoid 0.994 0.982 1 0.976 Kapasitas Antioksidan 0.947 0.918 0.976 1 * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Tabel 3. Korelasi aktivitas antioksidan dengan komponen fenolik pada ekstrak metanol daun Kapehu (Guioa diplopetala) berdasarkan analisis korelasi Pearson Kapasitas Senyawa uji Total Fenol Total Tanin Total Flavonoid Antioksidan Total Fenol 1 0.999* 0.999* 0.945 Total Tanin 0.999* 1 1.000* 0.926 Total Flavonoid 0.999* 1.000* 1 0.934 Kapasitas Antioksidan 0.945 0.926 0.934 1 * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Tabel 4. Korelasi aktivitas antibakteri dengan total fenol, flavonoid dan tanin pada Staphylococcus aureus berdasarkan analisis korelasi Pearson Total Total Aktivitas Senyawa uji Total Fenol Tanin Flavonoid Antibakteri Total Fenol 1 0.999* 0.999* 0.926 Total Tanin 0.999* 1 1.000* 0.905 Total Flavonoid 0.999* 1.000* 1 0.914 Aktivitas Antibakteri 0.926 0.905 0.914 1 * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Tabel 5. Korelasi aktivitas antibakteri dengan total fenol, flavonoid dan tanin pada Escherichia coli berdasarkan analisis korelasi Pearson Total Total Total Aktivitas Senyawa uji Fenol Tanin Flavonoid Anttibakteri Total Fenol 1 0.999* 0.999* 0.945 Total Tanin 0.999* 1 1.000* 0.961 Total Flavonoid 0.999* 1.000* 1 0.955 Aktivitas 0.945 0.961 0.955 1 Anttibakteri * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).`

Korelasi Kadar Senyawa Fenolik, total fenol, flavonoid dan tanin dengan Flavanoid, dan Tanin dengan Kapasitas aktivitas antioksidan. Antioksidan Korelasi Kadar Senyawa Fenolik, Kemampuan antioksidan ekstrak Flavanoid, dan Tanin dengan Kapasitas metanol lebih besar secara nyata daripada Antibakteri ekstrak etanol pada signifikansi p<0,05 yaitu Berdasarkan nilai diameter daya berturut-turut 82,33 dan 59,22 mg ekuivalen hambat, ekstrak metanol daun Guioa asam askorbat/g serbuk kering. Hasil diplopetala memiliki kemampuan analisis korelasi (Tabel 2 dan 3) antibakteri bakteri yaitu 6,1 ± 1,07 mm menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif terhadap Escherichia coli dan 5,7 ± 1,45 mm tetapi tidak signifikan antara total fenol, terhadap Staphylococcus aureus sedangkan flavonoid dan tanin dengan aktivitas ekstrak etanol tidak. Kemampuan antioksidan pada ekstrak etanol maupun penghambatan ektrak metanol terhadap metanol. Ekstrak etanol terdapat korelasi kedua bakteri uji tidak berbeda signifikan yang positif, tetapi tidak signifikan antara tetapi masih dibawah kemampuan obat antibakteri standart tertrasiklin yaitu 19,1 ±

269 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8), Juni 2018

0,00 mm terhadap Escherichia coli dan 12,0 dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol ± 2,99 mm terhadap Staphylococcus aureus. secara signifikan lebih tinggi dari ekstrak Hasil analisis korelasi menunjukkan etanol. Adanya hidrogen fenol yang dapat bahwa kandungan total fenolik pada ekstrak menangkap radikal bebas menyebabkan metanol daun Kapehu (Guioa diplopetala) mayoritas senyawa fenolik memiliki berkorelasi signifikan dengan kemampuan aktivitas antioksidan. Gugus hidroksil dapat antibakteri ekstrak terhadap kedua bakteri berfungsi sebagai penyumbang atom uji (Tabel 4 dan Tabel 5). Berdasarkan hidrogen ketika bereaksi dengan senyawa analisis korelasi, total fenol, flavonoid dan radikal melalui mekanisme transfer elektron tanin dengan aktivitas antibakteri pada sehingga proses oksidasi dihambat (Rafi, metanol terlihat korelasi yang positif, tetapi dkk., 2012). tidak signifikan baik itu pengujian pada Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri Escherichia coli maupun kandungan senyawa fenolik, tanin, dan Staphylococcus aureus. Hasil analisis flavonoid berkorelasi dengan aktivitas menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri antioksidan dan antibakteri. Cardoso, dkk. daun Kapehu berkorelasi dengan kandungan (2013) mengisolasi senyawa fenolik pada total fenol, flavonoid dan tanin dalam daun ekstrak etanol daun Serjania erecta Kapehu, terlihat juga bahwa total fenol (Sapindaceae) meliputi epicatechin, memiliki korelasi yang signifikan dengan kaempferol aglycone dan derivat glikosida total tanin dan flavonoid. yaitu kaempferol-3-O-a-l-rhamno- Suatu bahan alam memiliki pyranoside, kaempferol-3-O-a-l-rhamno- kemampuan farmakologis biasanya pyranosyl-(1→6)-b-d-glucopyranoside, disebabkan oleh kandungan senyawa kaemp ferol 3,7-di-O-a-L- metabolit sekunder (Arullappan, dkk., 2013; rhamnopyranoside, vitexin, dan isovitexin. Prakash & Gupta, 2013; Almehdar dkk., Ekstrak tersebut menunjukkan aktivitas 2012; Kashani dkk.., 2012). Penggunaan antioksidan rendah tetapi kuat dalam pelarut mempengaruhi jenis senyawa yang kemampuan menghambat pertumbuhan akan terbawa dalam suatu ekstrak. Hasil uji bakteri S. aureus, P. aeruginosa, S. setubal, fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak C. albicans, S. cerevisiae and E. coli. etanol dan metanol daun Guioa diplopetala Ekstrak kasar daun Alstonia macrophylla mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, memiliki kandungan flavonoid tinggi dan terpenoid/steroid, tanin, saponin dan menunjukkan aktivitas penghambatan antrakuinon. Penggunaan pelarut alkohol signifikan terhadap S. aureus, S. faecalis dan rantai pendek akan mengekstrak senyawa E. coli (Chattopadhyay, dkk., 2001). Ekstrak kelompok terpenoid atau terpenoid saponin, etanol daun Kapehu pada penelitian ini tidak senyawa fenolik dan flavanoid (Lalee, dkk., menunjukkan aktivitas antibakteri walaupun 2012; Wu, dkk., 2011; Sowemimo, dkk., mengandung senyawa fenolik, tanin, dan 2009; Yoo, dkk., 2006). Hasil ini memberi flavonoid. Hal tersebut kemungkinan karena dukungan ilmiah praktik masyarakat Sumba konsentrasi senyawa tersebut yang terlalu dalam menggunakan tumbuhan ini sebagai kecil dalam ekstrak (lebih kecil secara obat tradisional. signifikan dibandingkan ekstrak metanol) Berkenaan dengan aktivitas antioksidan sehingga aktivitas penghambatan banyak laporan ilmiah menyatakan pertumbuhan bakteri uji tidak terdeteksi. keberadaan senyawa fenolik (fenol Noor, dkk., (2006), melaporkan bahwa sederhana atau polifenol) yang dimiliki oleh flavonoid menyebabkan terjadinya suatu ekstrak tumbuhan berkorelasi tinggi kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri, dengan aktivitas antioksidan. Asam fenolat mikrosom, dan lisosom sedangkan senyawa merupakan senyawa fenol sederhana tanin diduga berhubungan dengan sedangan flavonoid, antosianin, dan tanin kemampuannya dalam menginaktivasi merupakan senyawa polifenol. Hasil enzim, dan protein transpor pada membran penelitian ini sejalan dengan pernyataan sel mikroba. tersebut yaitu bahwa kadar total senyawa Kemampuan penghambatan ekstrak fenolik, tanin, dan flavonoid pada ekstrak metanol daun Kapehu masih lebih rendah metanol lebih besar daripada ekstrak etanol dibandingkan tetrasiklin dan masih

270 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8), Juni 2018

tergolong belum memuaskan. Menurut Cardoso, C. A. L., Coelho, R.G., Honda, Ditjen POM, (1995) diameter daya hambat N.K., Pott, A., Pavan, F.R., & Leite, suatu senyawa tergolong memuaskan C.Q.F. (2013). Phenolic compounds apabila menunjukkan diameter daya hambat and antioxidant, antimicrobial and 14 – 16 mm. antimycobacterial activities of Serjania erecta Radlk. (Sapindaceae). KESIMPULAN Brazilian Journal of Pharmaceutical Ekstrak metanol dan etanol daun Sciences, 49(4), 775-782. Kapehu (Guioa diplopetala) mengandung Chattopadhyay, D., Maiti, K., Kundu, A.P., senyawa alkaloid, flavonoid, Chakraborty, M.S. Bhadra, R. terpenoid/steroid, tanin, saponin dan S.CMandal, & S.C. Mandal, A.B. antrakuinon. Kemampuan antioksidan (2001). Antimicrobial activity of ekstrak metanol yaitu 82,33 mg ekuivalen Alstonia macrophylla: a folklore of asam askorbat/g serbuk kering lebih besar bay islands. Journal of secara nyata (p<0,5) daripada ekstrak etanol Ethnopharmacology, 77(1), 49-55. yaitu 59,22 mg ekuivalen asam askorbat/g Garriga, M., Hugas, M., Aymerich, T., serbuk kering. Kemampuan antibakteri Monfort, J.M. (1993). ekstrak metanol sebesar 6,1 ± 1,07 mm Bacteriocinogenic Activity of terhadap Escherichia coli dan 5,7 ± 1,45 mm Lactobacili from Fermentation terhadap Staphylococcus aureus. Ekstrak Sausage. Journal of Applied etanol tidak terdeteksi menghambat Microbiology, 7, 142-148. pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. Harbone, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Kandungan senyawa fenolik, tanin, dan Terjemahan Kosasih Padmawinata flavonoid berkorelasi dengan aktivitas dan Iwang Sudiro, Bandung: ITB antioksidan dan antibakteri. Press. Kashani, H. H., Hoseini, E.S., Nikzad, H., & DAFTAR PUSTAKA Aarabi, M.H. (2012). Almehdar, H.M., Abdallah, H.M., Abdallah, Pharmacological properties of A.M. Osman, E.A., & Abdel, S. medicinal herbs by focus on (2012). In vitro cytotoxic Screening secondary metabolites, Life Science of selected Saudi medicinal . Journal, 9(1), 509-520. Journal of Natural Medicines, 66 (2), Kubo, I., Masuda, N., Xiao, P., & 406–412. Haraguchi, H. (2002). Antioxidant Arullappan, S., Muhamad, S., & Zakaria, Z. activity of deodecyl gallate. Journal (2013). Cytotoxic activity of the of Agricultural and Food Chemistry, and stem extracts of Hibiscus 50, 3533-3539. rosa sinensis (Malvaceae) against Lalee, A., Pal, P., Bhattacharaya, B., & leukaemic cell line (K-562). Tropical Samanta, A. 2012. Evaluation of Journal of Pharmaceutical Research. anticancer activity of Aevera 12 (5), 743-746. sanguinolenta (L.) (Amaranthaceae) Arora, B., Bhadauria, P., Tripathi, D. & on ehrlich cell induced Swiss Mice. Sharma, S. (2012). Sapindus Inernational. Journal of Drug emarginatus: Phytochemistry & Development dan Research, 4 (1): Various Biological Activities. Indo 203-209. Global Journal of Pharmaceutical Larashati, I. (2011). Jenis–jenis anak pohon Sciences, 2(3), 250-257. di Gunung Kelud Jawa Timur. Astuti, I.P. (1999). Upaya Konservasi Tiga Berkala Penelitian Hayati, 17, 109– Jenis Tumbuhan Hutan Berpotensi di 114. Lahan Kering Desa Pabera Manera, McDonald, S., Prenzler, P.D., Autolovich, Kecamatan Paberiwai, Kabupaten M., & Robards, K. (2001). Phenolic Sumba Timur. Bogor: UPT. Balai Content and Antioxidant Activity of Pengembangan Kebun Raya – LIPI Olive Extract. Food Chemistry. 73, Bogor. 73–84.

271 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8), Juni 2018

Polshettiwar, S.A., Ganjiwale, R.O., Prakash, E., & Gupta D.K. (2013). In vitro Wadher, S.J., & Yeole, P.G. (2007). study of extracts of Ricinus Spectrophotometric Estimation of communis Linn on human cancer cell Total Tanin in Some Ayurvedic Eye lines. Journal of Medical Sciences Drop. Indian Journal of Pharma- and Public Health. 2(1), 15-20. ceutical Science, 69, 574–576. Rafi, M., Widyastuti, N., Suradikusumah, Pourmorad, F., Hosseinimehr, S.J., & E., & Darusman, L. K. (2012). Shahabimajd, N. (2006). Antioxidant Aktivitas Antioksidan, Kadar Fenol activity, phenol, and flavonoid dan Flavonoid Total dari Enam ontents of some selected Iranian Tumbuhan Obat Indonesia. Jurnal medicinal plants. African Journal of Bahan Alam Indonesia, 8(3), 159- Biotechnology, 5, 1142-1145. 165. Putri, W.U., Qayim, I., & Qadir, A. (2017). Sofidiya, M. O., Jimoh, F. O., Aliero, A. A., Soil Seed Bank of Two Karst Afolayan, A. J., Odukoya, O. A., & Ecosystems in Bogor, Indonesia: Familoni, O. B. (2012). Evaluation of Similarity with the Aboveground antioxidant and antibacterial Vegetation and Its Restoration properties of six Sapindaceae Potential. The Journal of Tropical members. Journal of Medicinal Life Science, 7(3), 224 – 236. Plants Research, 6(1), 154-160. Sowemimo, A., van de V, M., Baatjies, L., Udhayasankar, M.R., Danya, Punitha, D., & & Koekemoer, T. (2009). Cytotoxic Arumugasamy, K. (2013). activity of selected Nigerian plants. Antioxidant activity of Affrican Journal Tradisional: cardiospermum canescens wall. Complementary and Alternative (sapindaceae)- a wild edible Medicines, 6(4), 526-528. from western ghats. International Yoo, H. H., Kwon, S.W. & Park, J.H. Journal of Pharmacy and (2006). The Cytotoxic saponin from Pharmaceutical Sciences, 5, 322-324. heat-processed Achyranthes faurei Yusuf, R., & Purwaningsih. (2012). roots. Biological and Keanekaragaman jenis tumbuhan Pharmaceutical Bulletin, 29(5), hutan sekunder pada berbagai 1053-1055. tingkatan umur di kuala ran, kab. Wu, Q., Wang, Y., & Guo, M. (2011). Bulungan-kalimantan timur. Jurnal Triterpenoid saponin from the seeds Teknologi Lingkungan, Edisi of Celosia Argentea and antitumor Khusus,“Hari Bumi”, 41- 52. activity. Chemical and Pharma- ceutical Bulletin, 59(5), 666-671.

272