Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

ANALISIS KINERJA KEUANGAN, DAMPAK MERGER 3 BANK SYARIAH BUMN DAN STRATEGI BANK SYARIAH (BSI) DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI NASIONAL

Anis Fatinah1), Muhammad Iqbal Fasa2), Suharto3) 1Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Raden Intan Lampung Email: [email protected] 2Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Raden Intan Lampung Email: [email protected] 3Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Raden Intan Lampung Email: [email protected]

Abstract

The writing of this journal is entitled "Financial Performance Analysis, the Impact of the Merger of 3 State-Owned Sharia Banks and the Strategy of Indonesian Sharia Banks (BSI) in National Economic Development". As an effort to develop the market share of the sharia economy in Indonesia, the government combines three state-owned sharia banks, namely BNI Syariah, BRI Syariah and Syariah to expand the Islamic banking market. This raises the question of whether Islamic banking is able to drive the economy or whether economic growth can increase due to Islamic banking. The results of this study were written using a qualitative descriptive approach. Based on the discussion that refers to the data obtained, it is concluded that the existence of a syariah bank merger, the capital problem in Islamic banks has been resolved and Islamic banks will be able to expand more widely to meet and facilitate the needs of the community. The existence of large capital will also encourage Islamic banks to provide greater financing to the public.

Keywords: Merger, Financial Performance, Impact, BSI

Abstrak

Penulisan Jurnal ini berjudul “Analisis Kinerja Keuangan, Dampak Merger 3 Bank Syariah BUMN dan Strategi Bank Syariah Indonesia (BSI) Dalam Pengembangan Ekonomi Nasional”. Sebagai salah satu usaha mengembangkan pangsa pasar ekonomi syariah di Indonesia, pemerintah menggabungkan tiga bank syariah BUMN, yakni BNI Syariah, BRI Syariah dan Bank Mandiri Syariah guna mengekspansi pasar perbankan syariah. Hal tersebut memunculkan pertanyaan apakah perbankan syariah mampu menggerakkan ekonomi ataupun apakah pertumbuhan ekonomi dapat meningkat karena perbankan syariah. Hasil penelitian ini ditulis dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Berdasarkan pembahasan yang mengacu pada data yang diperoleh, disimpulkan bahwa adanya merger bank syariah, masalah permodalan pada bank syariah telah terselesaikan dan bank syariah akan mampu melakukan ekspansi lebih luas untuk memenuhi dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat. Adanya modal yang besar juga akan mendorong bank syariah untuk memberikan pembiayaan yang lebih besar kepada masyarakat.

Kata kunci: Merger, Kinerja Keuangan, Dampak, BSI

1. PENDAHULUAN Perkembangan perbankan syariah di negara-negara Islam kemudian diikuti oleh Indonesia. Lahirnya perbankan syariah di Indonesia diawali dengan berdirinya Indonesia (BMI) pada 1991. Sebelumnya, di Indonesia juga telah didirikan lembaga-perbankan nonbank yang dalam kegiatannya menerapkan sistem syariah. Pemerintah kemudian membuat peraturan untuk pelaksanaan bank syariah melalui

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 23 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan dan dijelaskan pada PP No. 72 tahun 1992. (Hasyim, Tamin Umairoh 2016) Kondisi ekonomi global di bawah sistem ekonomi konvensional yang kurang sejahtera mendorong umat Islam di seluruh dunia untuk mengungkap kearifan ajaran Islam yang berkaitan dengan sistem ekonomi dan menerapkannya sesuai kondisi saat ini. Perkembangan konseptual perbankan syariah awalnya dimulai pada tahun 1940-an sebagai konsep abstrak (Khan, M Mansoor. Bhatti 2008). Industri perbankan syariah telah berkembang pesat dengan 505 bank syariah dari 69 negara yang terlibat dalam industri yang berkembang. Apalagi, industri perbankan syariah global memiliki asset lancar senilai USD 1,7 triliun pada tahun 2017 dan tingkat pertumbuhan rata-rata 5% sejak 2012 yang mewakili 71% asset industri keuangan syariah global. Industri perbankan syariah global diproyeksikan bernilai US $ 2,4 triliun pada 2023 (Indrawan and Rahman 2020). Berdasarkan data Global Islamic Finance Report (GIFR) pada tahun 2019, Indonesia berhasil mendapatkan skor 81,93 pada Islamic Finance Country Index (IFCI). Skor tersebut merupakan skor tertinggi, artinya Indonesia menempati peringkat pertama di pasar keuangan syariah global. Peringkat ini naik lima tingkat, yang mana pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat keenam. Aktivitas perbankan syariah di Indonesia dimulai pada tahun 1991, dengan lahirnya bank syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat dengan modal pertama sebesar 106 milyar rupiah (Nurdany 2016). Ketahanan industri perbankan syariah telah berhasil dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan di tengah ketidakstabilan kondisi ekonomi (Kassim 2016). Selain itu, terdapat empat faktor yang berkontribusi pada pertumbuhan industri perbankan syariah, yaitu: (1) adanya permintaan yang besar dari berbagai negara Islam untuk produk yang sesuai dengan prinsip Islam; (2) adanya penguatan kerangka hukum dan kebijakan di sektor keuangan syariah; (3) adanya peningkatan permintaan dari investor perbankan konvensional, termasuk untuk tujuan diversifikasi produk; dan (4) adanya kapasitas industri untuk mengembangkan sejumlah instrumen keuangan guna memenuhi kebutuhan investor perusahaan ataupun perorangan (Hasan and Dridi 2010). Ketahanan, pertumbuhan, dan stabilitas perbankan syariah masih tetap terjaga di tengah perlambatan laju pertumbuhan ekonomi, sehingga memunculkan pertanyaan besar berkenaan dengan sejauh mana kontribusi perbankan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebuah studi sebelumnya yang dilakukan oleh (Furqani, Hafas. Mulyany 2009); (Majid, M Shabri Abd. Kassim 2015); dan (Kassim 2016) menemukan bahwa terdapat hubungan ekuilibrium dua arah antara perbankan syariah dan pertumbuhan ekonomi pada tingkat agregat. Menariknya, (Kassim 2016) menggarisbawahi aspek pembiayaan perbankan syariah pada temuannya. Meskipun pembiayaan perbankan syariah berkontribusi besar dalam jangka pendek dan jangka panjang, namun jangka panjang terbukti berdampak lebih kuat daripada dampak jangka pendek, sehingga perbankan perlu menyeimbangkan alokasi dana untuk keperluan ekspansi bisnis dan investasi. Perbankan syariah memiliki pangsa pasar yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional. Namun, kontribusi perbankan syariah berdampak lebih besar terhadap perkonomian dari sisi sektor ekonomi yang ada untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan perbankan syariah. Adapun berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2020, jumlah Bank Umum Syariah (BUS) mencapai 14 BUS dan jumlah Unit Usaha Syariah (UUS) mencapai 20 UUS dengan total asset BUS dan UUS sebesar 529.063 milyar rupiah. Dengan jumlah asset yang dimiliki saat ini, BUS dan UUS dinilai belum cukup tangguh untuk bersaing dengan bank konvensional karena market share dari bank syariah masih jauh dibawah bank konvensional, yaitu sebesar 6,18 persen pada Juni 2020 (OJK 2021). Dalam upaya memperbesar market share perbankan syariah yang berdaya saing global, Menteri BUMN – Erick Thohir melebur (merger) bank syariah yang berada di bawah naungan BUMN, yaitu BNI Syariah, BRI Syariah dan Bank Syariah Mandiri. Berdasarkan Laporan Keuangan Tahunan masing-masing bank tersebut, tahun 2020 aset BRIS hanya Rp 49,5 triliun, Bank BNI Syariah dengan aset Rp 50,7 triliun dan BSM menjadi pemilik aset paling besar yaitu mencapai Rp 114,4 triliun. Sehingga dari latar belakang tersebut, penulis merumuskan :

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 24 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

1) Bagaimanakah kinerja keuangan dan dampak adanya peleburan (merger) tiga bank syariah BUMN tersebut? 2) Apakah strategi Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam pengembangan ekonomi nasional

2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatis menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menggunakan data time series selama kurun waktu 2017-2020 dengan data bulanan sebagai basis datanya. Data-data tersebut diperoleh dari Laporan Keuangan Tahunan masing-masing bank tersebut, BRI Syariah, BNI Syariah, BSM dari tahun 2017 sampai 2020. Metode analisis dalam penelitian ini adalah menggunakan rasio Non Performing Financing (NPF), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), Financing to Deposit Ratio (FDR), Net Interest Margin (NIM) dan Beban Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kinerja Keuangan BRIS, BNIS, dan BSM Sebelum Merger a) Net Performing Financing (NPF) Non Performing Financing (NPF) merupakan salah satu indikator dalam menilai kinerja bank syariah, tingkat NPF yang tinggi menunjukkan kinerja bank syariah yang rendah karena banyak terjadi pembiayaan bermasalah. Pembiayaan (kredit) macet pada ketiga bank BUMN syariah ini memiliki kondisi yang berbedabeda setiap tahunnya (Hidayat et al. 2020). Pada tabel di bawah ini, BNI Syariah dalam empat tahun terakhir memiliki rasio NPF yang cenderung stabil, hal tersebut oleh dikarenakan BNI Syariah senantiasa menjaga prinsip prudential atau kehati-hatian dalam memberi pembiayaan kepada nasabah. Dan ditahun 2020 NPF BNI Syariah semakin naik sehingga kinerja bank dinilai sangat baik. Pada Bank Syariah Mandiri (BSM), rasio NPF dalam tiga tahun terakhir semakin menurun, menandakan kredit macet mampu dikendalikan dengan sangat baik, sehingga mampu mencapai angka satu persen saja. Namun ditahun 2020 NPF Bank Syariah Mandiri mulai membaik. Sementara itu, pada Bank BRI Syariah rasio NPF yang dimilikinya berfluktuasi dalam empat tahun terakhir, angka NPF tertinggi terjadi pada tahun 2018 sebesar 4,97 persen yang mana angka ini merupakan presentase NPF tertinggi di antara bank syariah BUMN lainnya.

Tabel 1.1 NPF Net BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah periode 2017-2020 Nama 2017 2018 2019 2020

BRIS 4,75% 4,97% 3,38% 4,45%

BNIS 1,50% 1,52% 1,44% 3,40%

BSM 2,71% 1,56% 1% 1,07%

Sumber: Annual Report PT. BRI Syariah, PT. BNI Syariah, dan PT. BSM 2017-2020 (data diolah April 2021)

b) Capital Adequate Ratio (CAR) Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio kecukupan modal yang menunjukan kemampuan perbankan dalam menyediakan dana yang digunakan untuk mengatasi kemungkinan risiko kerugian (Susilo dan Ratnawati, 2013). Rasio CAR yang dimiliki oleh ketiga bank BUMN syariah ini memiliki angka yang bervariasi. Pada tabel dibawah ini terlihat rasio CAR pada Bank BRI Syariah memiliki tren positif dalam empat tahun terakhir. Adapun pada 2019, CAR BRI Syariah mencapai angka 25,26

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 25 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

persen, yang mana angka ini merupakan presentase tertinggi dari dua bank BUMN syariah lainnya. Artinya, Bank BRI Syariah memiliki dukungan modal yang kuat dari pemerintah sebagai pemilik mayoritas dari bank ini. Namun di tahun 2020 mengalami penurunan tetapi tetap menjadi persentasi tertinggi diantara Bank Syariah lainnya. Sementara itu, rasio CAR BNI Syariah pada 2020 mencapai 18,26 persen mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dan Bank Syariah Mandiri mencapai 19,83 persen mengalamikenaikan dari tahun sebelumnya.

Tabel 1.2 CAR BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah periode 2017-2020 Nama 2017 2018 2019 2020

BRIS 20,05% 29,73% 25,26% 23,77%

BNIS 20,14% 19,31% 18,88% 18,26%

BSM 15,89% 16,26% 16,15% 19,83%

Sumber: Annual Report PT. BRI Syariah, PT. BNI Syariah, dan PT. BSM 2017-2020 (data diolah April 2021) c) Return on Asset (ROA) Guna mengukur keberhasilan menajamen bank syariah dalam menghasilkan laba menggunakan total aset yang tersedia dapat dilihat melalui persentase Tingkat Pengembalian Aset atau ROA yang dimiliki oleh bank syariah tersebut (Hidayat et al. 2020). Pada tabel dibawah ini terlihat ROA dari BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri pada tahun 2020 mencapai 1,60 persen dan 0,90 persen, diikuti dengan tren positif dalam tiga tahun tmenjadikan kedua bank ini memiliki profitabilitas yang semakin baik setiap tahunnya. Sayangnya di tahun 2020 kedua bank tersebut sama-sama mengalami penurunan. Lain halnya dengan BRI Syariah yang memiliki tren negatif dalam tiga tahun terakhir. Pada 2020, ROA BRI Syariah hanya mencapai 0,90 persen. Hal tersebut sejalan dengan NPF dari BRI Syariah yang masih tinggi, sehingga NPF yang tinggi juga dapat mengurangi tingkat return dari bank syariah.

Tabel 1.3 ROA BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah periode 2017-2020 Nama 2017 2018 2019 2020

BRIS 0,51% 0,43% 0,31% 0,90%

BNIS 1,31% 1,42% 1,82% 1,60%

BSM 0,59% 0,88% 1,69% 0,90%

Sumber: Annual Report PT. BRI Syariah, PT. BNI Syariah, dan PT. BSM 2017-2020 (data diolah April 2021) d) Return on Equity (ROE) Sama halnya seperti ROA, Return on Equity (ROE) juga merupakan salah satu alat untuk mengukur profitabilitas pada suatu bank (Sukmana and Suryaningtyas 2016). Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa sejalan dengan ROA, ROE Bank BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri memiliki tren yang positif dalam empat tahun terakhir meskipun terjadi fluktuasi pada Bank Syariah Mandiri tahun 2020 hingga mencapai angka 16,39 persen. Sebaliknya, BRI Syariah memiliki tren menurun dalam tiga tahun terakhir hingga pada tahun 2019 menyentuh angka 1,57 persen, namun

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 26 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

ditahun 2020 mengalami kenaikan 2,03%. Semakin tinggi nilai ROE, maka semakin baik pula kinerja suatu bank dalam menghasilkan laba bersih setelah dikurangi pajak. Pada perbankan, ROE juga mampu mencerminkan ukuran efektivitas manajemen dalam menggunakan biaya ekuitas untuk aktivitas operasi dan pengembangan suatu bank. Dari tabel tersebut bisa dilihat bahwa ROE yang baik ada pada Bank Syariah Mandiri.

Tabel 1.4 ROE BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah periode 2017-2020 Nama 2017 2018 2019 2020

BRIS 4,10% 2,49% 1,57% 3,60%

BNIS 11,42% 10,53% 13,54% 5,40%

BSM 5,72% 8,21% 15,66% 16,39%

Sumber: Annual Report PT. BRI Syariah, PT. BNI Syariah, dan PT. BSM 2017-2020 (data diolah April 2021) e) Financing to Deposit Ratio (FDR) Financing to Deposit Ratio (FDR) menjelaskan bagaimana porsi sebuah bank dalam menyalurkan pembiayaan (kredit) atas Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dimilikinya (Nurhasibah dan Sukmana, 2019). Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa FDR pada BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri sejak 2017 hingga 2020 memiliki tren yang bervariasi bahkan ada yang mengalami penurunan. Penurunan ini menunjukkan bahwa porsi pembiayaan yang disalurkan kepada nasabah mengalami penurunan terhadap DPK yang dihimpun oleh ketiga bank syariah tersebut. Penurunan jumlah pembiayaan yang disalurkan dapat terjadi oleh beberapa sebab, salah satunya adalah keberadaan surat- surat berharga yang diinvestasikan oleh bank tersebut nilainya semakin meningkat (diperlukan penelitian lebih lanjut). Adapun permasalahan lain yang berkaitan dengan financing to deposit ratio (FDR) bank syariah yang berada dibawah batas minimum yaitu 80%. Salah satu faktor penyebabnya adalah pricing pembiayaan bank syariah yang kurang menarik apabila dibandingkan dengan pesaing (KNEKS 2019). Penyaluran pembiayaan yang kurang optimal memiliki berbagai konsekuensi bagi perbankan syariah, seperti: (1) terjadinya kelebihan likuiditas karena DPK tidak terserap secara optimal; (2) terkena disinsentif penambahan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank dengan FDR dibawah 80%; dan (3) performa atau produktivitas perbankan menjadi kurang optimal sehingga return yang diberikan kepada deposan atau pemilik dana menjadi berkurang. Dan dari tabel tersebut bisa dilihat bahwa BRID dan BSM mengalami kenaikan sehingga proses penyaluran pembiayaan dikatakan baik.

Tabel 1.5 FDR BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah periode 2017-2020 Nama 2017 2018 2019 2020

BRIS 71,87% 75,49% 80,12% 82,65%

BNIS 80,21% 79,62% 74,31% 72,43%

BSM 77,66% 77,25% 75,54% 87,11%

Sumber: Annual Report PT. BRI Syariah, PT. BNI Syariah, dan PT. BSM 2017-2020 (data diolah April 2021)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 27 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199 f) Net Interest Margin (NIM) Net Interest Margin (NIM) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba bersih dengan cara membandingkan pendapatan penyaluran dana setelah bagi hasil dikurangi imbalan dan bonus dengan rata-rata aktiva produktif (Olson and Zoubi 2017). Semakin besar rasio NIM suatu bank, maka akan berpengaruh terhadap pendapatan bagi hasil yang diperoleh dari aktiva produktif yang dikelola oleh bank dengan baik. Dengan demikian, risiko yang seringkali menimbulkan masalah dalam bank bisa dihindari (Sukmana and Suryaningtyas 2016). Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa pada tahun 2020 rasio NIM pada BNI Syariah mencapai angka 4,30 persen dan Bank Syariah Mandiri sebesar 4,96 persen. Sementara itu, NIM BRI Syariah hanya mencapai angka 5,60 persen pada 2020. Rasio NIM selama empat tahun terakhir semua bank mengalami angka yang fluktuatif.

Tabel 1.6 NIM BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah periode 2017-2020 Nama 2017 2018 2019 2020

BRIS 5,84% 5,36% 5,72% 5,60%

BNIS 7,58% 7,16% 7,36% 4,30%

BSM 7,35% 6,18% 6,02% 4,96%

Sumber: Annual Report PT. BRI Syariah, PT. BNI Syariah, dan PT. BSM 2017-2020 (data diolah April 2021) g) Beban Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) Rasio ini mengukur bagaimana beban atau pengeluaran dari sebuah bank terhadap pendapatan atau return yang diperolehnya (Hidayat et al. 2020). Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa pada tahun 2020, rasio BOPO dari BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri mencapai 84,10 persen dan 81,81 persen, yang mana hal ini diikuti oleh tren yang menurun selama tiga tahun. Hal tersebut menandakan bahwa BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri memiliki kinerja yang baik pada pengelolaan terhadap beban perusahaan yang mereka keluarkan setiap tahunnya. Namun pada BNI Syariah di tahun 2020 mengalami kenaikan sedikit. Di sisi lain, rasio BOPO dari BRI Syariah pada 2019 sebesar 96,80 persen, tertinggi dari kedua bank BUMN syariah lainnya. Hal tersebut tentunya perlu diperbaiki karena dapat terjadi kerugian atau loss yang dapat menyebabkan turunnya kinerja bank secara keseluruhan dan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat atau investor yang mempercayakan dananya untuk disimpan di BRI Syariah. Di tahun 2020 BRI Syariah mengalami perkembangan yang cukup baik yang diharapkan bisa menyusul kepada dua Bank Syariah lainnya.

Tabel 1.7 BOPO BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah periode 2017-2020 Nama 2017 2018 2019 2020

BRIS 95.24% 95,32% 96,80% 90,39%

BNIS 87,62% 85,37% 81,26% 84,10%

BSM 94,44% 90,68% 82,89% 81,81%

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 28 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

Sumber: Annual Report PT. BRI Syariah, PT. BNI Syariah, dan PT. BSM 2017-2020 (data diolah April 2021) 2. Dampak Merger 3 Bank Syariah BUMN Perbankan merupakan lembaga keuangan yang memiliki fungsi intermediasi dalam menghimpun dana dari pihak yang kelebihan dana dan menyalurkan kembali dana tersebut pada pihak yang membutuhkan (Jaya, Rindayati, and Ali 2015). Secara empiris, bank syariah berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi pada sektor riil. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Levine, Loayza, and Beck 2000) dan (Bencivenga et al. 2003) yang menemukan adanya hubungan positif dalam jangka panjang antara perkembangan perbankan syariah dan pertumbuhan ekonomi. (Furqani, Hafas. Mulyany 2009); (Majid, M Shabri Abd. Kassim 2015); dan (Kassim 2016) menjelaskan bahwa terdapat hubungan keseimbangan dua arah antara perbankan syariah dengan pertumbuhan ekonomi pada tingkat agregat. Peneliti (Indrawan and Rahman 2020) juga menjelaskan bahwa pembiayaan perbankan syariah pada periode kuartal pertama pada tahun 2007 hingga kuartal keempat tahun 2018 memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Malaysia pada tiga sektor utama ekonomi, yaitu pertanian, industri, dan jasa. Menariknya, (Kassim 2016) menggarisbawahi aspek pembiayaan perbankan syariah pada temuannya. Meskipun pembiayaan perbankan syariah berkontribusi besar dalam jangka pendek dan jangka panjang, namun jangka panjang terbukti berdampak lebih kuat daripada dampak jangka pendek, sehingga perbankan perlu menyeimbangkan alokasi dana untuk keperluan ekspansi bisnis dan investasi. Hal tersebut memunculkan pertanyaan apakah perbankan syariah mampu menggerakkan ekonomi ataupun apakah pertumbuhan ekonomi dapat meningkat karena perbankan syariah, meskipun perbankan syariah erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Berkenaan dengan temuan tersebut, untuk menyelesaiakan masalah permodalan pada perbankan syariah, pemerintah Indonesia yang didorong oleh Menteri BUMN yaitu Erick Thohir melebur (merger) bank syariah yang berada di bawah naungan BUMN, yaitu BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri. Upaya peleburan (merger) bank syariah dapat meningkatkan kapasitas perbankan syariah yang seringkali terkendala oleh adanya keterbatasan modal. Peleburan tiga bank syariah BUMN tersebut juga diharapkan mampu menghimpun asset yang besar, sehingga peleburan ini akan mampu menjadikan bank syariah menjadi BUKU IV yang sejajar atau bahkan di atas bank konvensional yang rata-rata sudah menjadi BUKU IV. BUKU bank erat kaitannya dengan tingkat imbal hasil yang diharapkan oleh nasabah pemilik dana. Umumnya, semakin tinggi BUKU suatu bank, maka akan diasumsikan lebih aman, sehingga pemilik dana berkenan untuk menempatkan dananya dengan rate yang lebih rendah. Sedangkan bank dengan BUKU kecil, pada umumnya, memberikan insentif lebih agar pemilik dana menempatkan dananya di bank tersebut. Melalui peleburan ini, maka bank syariah BUMN akan mampu sejajar dengan Bank Mandiri dan BNI 46 yang telah masuk menjadi BUKU IV. Setelah adanya merger bank syariah, masalah permodalan pada bank syariah telah terselesaikan dan bank syariah akan mampu melakukan ekspansi lebih luas untuk memenuhi dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat. Adanya modal yang besar juga akan mendorong bank syariah untuk memberikan pembiayaan yang lebih besar kepada masyarakat. Merger bank syariah juga akan mewujudkan efisiensi arah kebijakan strategis perbankan syariah di masa mendatang. Selain itu, merger bank syariah juga akan menjadikan inklusi perbankan syariah lebih terfokus yang disesuaikan dengan karakteristiknya masing-masing. Apabila perbankan syariah semakin inklusif, maka literasi keuangan syariah pun juga akan semakin meningkat. Selama ini, dalam praktiknya banyak masyarakat yang masih mempertanyakan perbedaan bank syariah dengan bank konvensional, bahkan tidak jarang masyarakat engga menggunakan bank syariah karena biaya layanannya yang masih lebih mahal jika dibandingkan dengan bank konvensional. Bank syariah akan lebih kompetitif jika dana yang dihimpun dari masyarakat lebih banyak. Dampak adanya peleburan (merger) bank syariah selain bertambahnya asset adalah adanya gerakan saling mendukung dan kerja sama antarbank syariah BUMN. Bersatunya bank syariah BUMN akan

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 29 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

menghasilkan sinergi, sehingga mampu menyamai bahkan melebihi bank konvensional. Asset yang bertambah akan mendorong perbankan syariah untuk memberikan pembiayaan lebih banyak kepada masyarakat, sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan semakin meningkat. Adanya peleburan (merger) akan mampu meningkatkan perekonomian Indonesia pasca COVID-19. BSI akan menjadi bank syariah terbesar di Indonesia dan perkiraan kapitalisasi pasarnya mencapai 40% bahkan bisa mencapai 50% apabila Unit Usaha Syariah Bank BTN ikut serta bergabung. kapitalisasi pasar yang besar itu tidak serta merta meningkatkan perekonomian syariah Indonesia, terlebih dalam literasinya karena beban BSI juga akan besar. Total dari aset tiap-tiap bank yang melakukan penggabungan jika ditotal akan setara dengan 46,46% dari total aset perbankan syariah di seluruh Indonesia, sementara sisa asetnya dimiliki oleh bank syariah lain (Anika, Nabilah. Chairunnisa, Nabila Indah. Saputra 2021). Dampak lain dari adanya peleburan (merger) adalah adanya peningkatan aktivitas ekonomi di bidang pasar modal syariah. Adanya kebijakan merger ini akan menjadikan BRI Syariah sebagai survivor entity karena BRI Syariah adalah satusatunya bank syariah yang telah listing dalam pasar modal syariah, yang mana setelah adanya informasi mengenai peleburan ini minat masyarakat untuk membeli sahamnya pun semakin tinggi. Namun, investor juga perlu menganalisa terlebih dahulu apakah tindakan membeli saham di pasar modal merupakan tindakan spontan mengikuti tren ataukah memang tindakan yang sudah diperhitungkan. Karena setelah adanya peleburan (merger) dan BRI Syariah menjadi survivor entity, maka nilai saham tersebut akan terdelusi karena kepemilikannya tidak lagi dimiliki satu bank saja, melainkan tiga bank sekaligus yang disesuaikan dengan persentase asset yang dimiliki. Hasil merger bank juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang halal, keberadaannya secara besar-besaran. Bank syariah akan menjadi pilar penting dalam keberhasilan integrasi keuangan syariah di Indonesia (BNIS 2019). Banyak bank konvensional telah mendukung industri halal karena jangkauan yang lebih luas dan fleksibilitas produk. Potensi industri halal sangat besar. Keberadaan bank syariah yang besar dan kuat dalam likuiditas akan membantu akses dana dari 4,12 juta Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) yang berbadan hukum (BPS 2020). Apalagi, infrastruktur jaringan lebih dari 1.200 kantor bank hasil merger di seluruh Indonesia akan memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi. Industri halal sebagai bagian dari ekosistem ekonomi syariah mendukung perekonomian nasional. Hal tersebut berperan penting dalam mewujudkan aspirasi bangsa sebagai negara yang adil, sejahtera, dan berdaulat (Bappenas 2018). Padahal, efek yang muncul adalah memantau satu sub ekosistem dan banyak sub ekosistem lainnya. Ekosistem ekonomi syariah di Indonesia dapat menjadi penopang utama pembangunan ekonomi nasional. Penggabungan akan menghasilkan modal bank syariah yang kuat, jadilah masuk dalam 10 besar peringkat perbankan nasional, dan bersaing dengan bank nasional lainnya. Modal yang kuat akan menarik sumber daya jangka panjang yang dibutuhkan bank untuk ekspansi bisnis. Bank hasil merger akan lebih efisien secara operasional, memiliki jaringan yang lebih luas, memiliki produk yang beragam untuk melayani segmen korporasi, komersial, konsumer dan UMKM. Potensi pasar global di sektor ekonomi Islam: makanan halal, keuangan Islam, perjalanan, pakaian muslim, farmasi dan kosmetik, media dan rekreasi, menjanjikan peluang untuk menggerakkan perekonomian nasional selama pandemi Covid-19 (Bencivenga et al. 2003). 3. Strategi Bank Syariah Indonesia (BSI) Dalam Pengembangan Ekonomi Nasional Peleburan Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah, dan Bank BNI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) memiliki peran strategis bagi ekonomi syariah di Indonesia. Peran strategis tersebut dapat dilihat dari dua perspektif. Peran strategis yang pertama berkaitan dengan peran dakwah dan syiar syariah Islam yang menghasilkan penguatan muamalah syariah di Indonesia dan memungkinkan pengembangan pasar serta peningkatan akses ekonomi dan keuangan syariah sehingga mengurangi potensi riba, gharar, dan dzalim dalam muamalah di Indonesia. Peran strategis kedua adalah peran ekonomi terkait penguatan ekonomi nasional yang disebabkan oleh perkembangan modal dan dana dari Bank Syariah Indonesia yang mampu meningkatkan pembiayaan dalam usaha dan pembangunan nasional. Pada perspektif muamalah,

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 30 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

keberadaan Bank Syariah Indonesia (BSI) memiliki peran syiar dakwah muamalah syariah yang berlandaskan Al-Quran dan as-Sunnah (Mahargiyantie 2021). Beberapa strategi bisnis bank hasil merger diantaranya: (1) di segmen ritel bank hasil merger akan memiliki ragam solusi keuangan dalam ekosistem islam seperti terkait keperluan ZISWAF, pendidikan, kesehatan, remintasi internasional, dan layanan keuangan lainnya yang berlandaskan prinsip syariah yang didukung oleh kualitas digital banking dan layanan kelas dunia; (2) di segmen korporasi dan wholesale bank akan memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam sektor-sektor industry yang belum terpenetrasi maksimal oleh perbankan syariah; (3) di sektor UMKM dan mikro, bank akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM melalui produk dan layannan keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik secara langsung maupun melalui sinergi dengan bank-bank Himbara dan Pemerintah Indonesia. Bank hasil peleburan tersebut diyakini dapat turut membiayai proyek-proyek infrastruktur yang berskala besar dan sejalan dengan rencana Pemerintah dalam pembangunan infrastuktur di Indonesia. Selain itu, bank hasil peleburan tersebut akan menyasar investor global lewat produk-produk syariah yang kompetitif dan inovatif (Ayu Artanti 2020). Strategi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sebagaimana dinyatakan oleh Bappenas 2019 terdiri atas empat rumusan strategi yaitu (1) penguatan rantai nilai halal, (2) penguatan sektor keuangan Islam, (3) penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah, dan (4) pengembangan dan penguatan ekonomi digital. Keempat strategi tersebut perlu mendapatkan perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam ekonomi dan keuangan syariah agar memberikan kemaslahatan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. (Mahargiyantie 2021). Strategi penguatan sektor keuangan islam dalam pengembangan ekonomi islam di Indonesia meliputi diversifikasi produk dan layanan perbankan syariah, integrasi antar sektor (riil dan keuangan), peningkatan insentif pada perbankan syariah, pendirian Keuangan Halal Nasional (National Halal Fund), penguatan nilai perbankan syariah, serta penguatan proses manajemen perbankan syariah (Bappenas 2019). Untuk mengantisipasi persaingan global, SDM bank syariah harus memiliki kompetensi global dan bersertifikat. Ancaman penggabungan untuk BUS dan UUS lainnya. Menjelang 2023 akan ada banyak proses spin-off, merger, dan akuisisi untuk memenuhi ketentuan OJK dan memperkuat perbankan syariah nasional (OJK 2021). Ekonomi Islam merupakan pasar yang berbeda dengan ekonomi konvensional karena didasarkan pada nilai-nilai universal dan prinsip syariah. Pertumbuhan anorganik ini merupakan lompatan kuantum bagi industri perbankan syariah Indonesia untuk mencapai visi global.(Hartanto and Fatwa 2020)

4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada pembahasan sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: a) Berdasarkan Laporan Keuangan Tahunan masing-masing bank tersebut, tahun 2020 aset BRIS hanya Rp 49,5 triliun, Bank BNI Syariah dengan aset Rp 50,7 triliun dan BSM menjadi pemilik aset paling besar yaitu mencapai Rp 114,4 triliun. b) Bersatunya bank syariah BUMN akan menghasilkan sinergi, sehingga mampu menyamai bahkan melebihi bank konvensional. Asset yang bertambah akan mendorong perbankan syariah untuk memberikan pembiayaan lebih banyak kepada masyarakat, sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan semakin meningkat. Adanya peleburan (merger) akan mampu meningkatkan perekonomian Indonesia pasca COVID-19. c) Strategi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sebagaimana dinyatakan oleh Bappenas 2019 terdiri atas empat rumusan strategi yaitu (1) penguatan rantai nilai halal, (2) penguatan sektor keuangan Islam, (3) penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah, dan (4) pengembangan dan penguatan ekonomi digital. Keempat strategi tersebut perlu mendapatkan perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam ekonomi dan keuangan syariah agar memberikan kemaslahatan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 31 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

5. REFERENSI Anika, Nabilah. Chairunnisa, Nabila Indah. Saputra, Aditya Wahyu. 2021. “Potensi Praktik Monopoli Dalam Merger Bank Syariah Indonesia: Tinjauan Hukum Ekonomi Islam Dan Hukum Larangan Monopoli.” Jurnal Hukum Islam 2 (2): 174–94. Ayu Artanti, Annisa. 2020. “Strategi Merger 3 Bank BUMN Syariah.” Bappenas. 2018. “Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024.” Bappenas. 2019. “Strategi Penguatan Sector Keuangan Islam Dalam Pengembangan Ekonomi Islam Di Indonesia.” Jakarta. Bencivenga, Valerie R, Bruce D Smith, More Finance, Growth More Finance, More Growth, Ross Levine, Peter L Rousseau, et al. 2003. “Federal R Eserve Bank of ST. Louis Review.” Review 85 (4): 1–150. BNIS. 2019. “Laporan Keuangan Juni 2019.” PT. Bank BNI Syariah. BPS. 2020. “Jumlah Perusahaan Menurut 2-Digit KBLI (Unit).” Badan Pusat Statistik. Furqani, Hafas. Mulyany, Ratna. 2009. “Islamic Banking and Economic Growth: Empirical Evidence from Malaysia.” Journal Of Economic Cooperation and Development 2 (30): 59–74. Hartanto, Agus, and Nur Fatwa. 2020. “The Geostrategy of Sharia Banking Merger in Indonesia.” Scientific Research Journal (SCIRJ) 3 (12): 60–66. https://doi.org/10.31364/SCIRJ/v8.i12.2020.P1220829. Hasan, Maher, and Jemma Dridi. 2010. “The Effects of the Global Crisis on Islamic and Conventional Bank: A Comparative Study.” International Monetery Fund 10: 201. Hasyim, Tamin Umairoh, Linda. 2016. “Peran Perbankan Syariah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sektor Riil Di Indonesia.” Jurnal Akuntansi 8 (7): 11–27. Hidayat, Muhamad Manarul, Manajemen Keuangan Syariah, Usep Deden Suherman, Manajemen Keuangan Syariah, and Hendra Safri. 2020. “Analisis Tingkat Kesehatan PT . (BRI) Syariah Berdasarkan Metode RGEC.” Journal of Sharia Financial Management 1 (1): 21–29. Indrawan, Imam Wahyudi, and Maya Puspa Rahman. 2020. “Sectoral Analysis on The Impact of Islamic Banks on The Malaysian Economy.” Journal of Islamic Monetary Economics and Finance 6 (1): 163– 88. Jaya, Yozar Putra, Wiwiek Rindayati, and Khalifah Muhammad Ali. 2015. “The Analysis of Determinant Factors in Islamic Banking on Financing of Transportation and Communication Sectors in Indonesia.” Jurnal Al-Muzara’ah 3 (1): 62–76. Kassim, Salina. 2016. “Islamic Finance and Economic Growth : The Malaysian Experience.” Global Finance Journal 11 (30): 1–11. https://doi.org/10.1016/j.gfj.2015.11.007. Khan, M Mansoor. Bhatti, M Ishaq. 2008. “Islamic Banking and Finance : On Its Way to Globalization” 34 (10): 708–25. https://doi.org/10.1108/03074350810891029. KNEKS. 2019. “Kajian Konversi, Merger, Holding, Dan Pembentukan Bank BUMN Syariah.” Levine, Ross, Norman Loayza, and Thorsten Beck. 2000. “Financial Intermediation and Growth : Causality and Causes.” Journal of Monetary Economics 46: 31–77. Mahargiyantie, Sri. 2021. “Peran Strategis Bank Syariah Indonesia Dalam Ekonomi Syariah Di Indonesia.” Juournal of Islamic Economics 1 (2): 83–94. Majid, M Shabri Abd. Kassim, Salina H. 2015. “Assessing The Contribution of Islamic Finance to Economic Growth Empirical Evidence From Malaysia.” Journal of Islamic Accounting and Business Research 6 (2): 292–310. https://doi.org/10.1108/JIABR-07-2012-0050. Nurdany, Achmad. 2016. “Pengaruh Pembiayaan, Aset, Dan FDR Perbankan Syariah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Di Indonesia.” Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Islam 2 (2): 1–9. https://doi.org/10.20885/JEKI.vol2.iss2.art1. OJK. 2021. “Statistik Perbankan Syariah.” Jakarta. Olson, and Zoubi. 2017. “Convergence in Bank Performance for Commercial and Islamic Banks during and after the Global Financial Crisis.” Quarterly Review of Economics and Finance 65: 71–87. PT. Bank Syariah Mandiri. Laporan Keuangan (Online).

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 32 Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 ISSN: 2622-8351 (Online) ISSN: 1858-3199

PT. BNI Syariah. Laporan Keuangan (Online). PT. BRI Syariah. Laporan Keuangan (Online). Sukmana, Raditya, and Sari Suryaningtyas. 2016. “Determinants of Liquidity Risk in Indonesian Islamic and Conventional Banks.” Juornal of Islamic Economics 8 (4): 187–200. https://doi.org/10.15408/aiq.v8i2.2871.

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb 33