Political Journalism in Media Convergence Era
Total Page:16
File Type:pdf, Size:1020Kb
Load more
Recommended publications
-
Transformational Communication and the 'New Asia'
AMIC 22ND INTERNATIONAL CONFERENCE 4TH-7TH JULY, 2013 Melia Purosani Hotel, Yogyakarta, Indonesia in partnership with the Department of Communication, Faculty of Social and Political Sciences Universitas Gadjah Mada Transformational communication and the ‘New Asia’ CONFERENCE PROGRAMME Day 1 (Thursday) 4th July 2013 1200 Registration of Participants (tables outside Melia Ballroom) 1400 Inaugural Session, welcome remarks and keynote address Venue: Ballroom Chair: Assoc. Prof. Martin Hadlow Secretary-General, AMIC, Singapore Speakers: Dr. Ang Peng Hwa Chairman, AMIC, Singapore Welcome address Dr. Pratikno Rector, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Special Message Hon. Roy Suryo Notodiprodjo Minister of Youth and Sports, Indonesia Keynote Address Hon. Tifatul Sembiring Minister of Information and Communication, Indonesia 1500 – 1530 Coffee break 1530 – 1700 AMIC DISTINGUISHED FORUM Transformation of Indonesian media: challenges and opportunities Venue: Ballroom Chair: Dr. Ang Peng Hwa, Chairman, AMIC, Singapore Mr. Ishadi S.K., Founder and Commissioner, Trans TV Indonesia Ms. Rosarita Niken Widiastuti, President, Radio Republik Indonesia Mr. Jakob Oetama, President, Kompas Gramedia Group, Indonesia Mr. Edward Ying, Director of Planning & Transformation, PT Telkomsel Indonesia Dr. Kuskridho Ambardi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 1900 – 2100 Gala Dinner and AMIC Asia Communication Awards 2013 Venue: Ballroom End of Day 1 Day 2 (Friday) 5th July 2013 0800-0900 Registration of Participants 0900-1030 UNESCO EMERITUS DIALOGUE Development -
Who Owns the Broadcasting Television Network Business in Indonesia?
Network Intelligence Studies Volume VI, Issue 11 (1/2018) Rendra WIDYATAMA Károly Ihrig Doctoral School of Management and Business University of Debrecen, Hungary Communication Department University of Ahmad Dahlan, Indonesia Case WHO OWNS THE BROADCASTING Study TELEVISION NETWORK BUSINESS IN INDONESIA? Keywords Regulation, Parent TV Station, Private TV station, Business orientation, TV broadcasting network JEL Classification D22; L21; L51; L82 Abstract Broadcasting TV occupies a significant position in the community. Therefore, all the countries in the world give attention to TV broadcasting business. In Indonesia, the government requires TV stations to broadcast locally, except through networking. In this state, there are 763 private TV companies broadcasting free to air. Of these, some companies have many TV stations and build various broadcasting networks. In this article, the author reveals the substantial TV stations that control the market, based on literature studies. From the data analysis, there are 14 substantial free to network broadcast private TV broadcasters but owns by eight companies; these include the MNC Group, EMTEK, Viva Media Asia, CTCorp, Media Indonesia, Rajawali Corpora, and Indigo Multimedia. All TV stations are from Jakarta, which broadcasts in 22 to 32 Indonesian provinces. 11 Network Intelligence Studies Volume VI, Issue 11 (1/2018) METHODOLOGY INTRODUCTION The author uses the Broadcasting Act 32 of 2002 on In modern society, TV occupies a significant broadcasting and the Government Decree 50 of 2005 position. All shareholders have an interest in this on the implementation of free to air private TV as a medium. Governments have an interest in TV parameter of substantial TV network. According to because it has political effects (Sakr, 2012), while the regulation, the government requires local TV business people have an interest because they can stations to broadcast locally, except through the benefit from the TV business (Baumann and broadcasting network. -
BAB II GAMBARAN UMUM A. SURAT KABAR TRIBUN JOGJA 1. Sejarah
BAB II GAMBARAN UMUM A. SURAT KABAR TRIBUN JOGJA 1. Sejarah Tribun Jogja PT. Media Tribun Jogja merupakan salah satu anak perusahaan dari Group of Regional News Papper Kompas Gramedia (KG). Perusahaan Kompas Gramedia (KG) didirikan oleh Petrus Kanisius Ojong dan Jacob Oetama pada tanggal 20 Juni 1965. Tribun Jogja merupakan salah satu anggota dari Tribun Network. Tribun Network sendiri memiliki surat kabar yang tersebar luas di 18 propinsi di Indonesia, yaitu di Sumatra terdapat Serambi Indonesia (Aceh), Sriwijaya Pos (Palembang), Bangka Pos (Bangka Belitung), Tribun Batam (Batam), Tribun Pekan Baru (Riau), Tribun Jambi (Jambi), dan Tribun Lampung (Lampung). Di Pulau Jawa terdapat Tribun Jabar (Bandung), Harian Surya (Surabaya) dan Tribun Jogja (Yogykarta). Di Kalimantan terdapat Bnajarmasin Post (Kalimantan Selatan). Tribun Kaltim (Kalimantan Timur) dan Tribun Pontianak (Kalimantan Barat). Di Sulawesi yaitu Tribun Menado (Sulawesi Utara), dan yang terakhir adalah Nusa Tenggara Timur yaitu Pos Kupang (Kupang). PT. Media Tribun Jogja adalah koran ke 16 dari Group of Regional News Papper Kompas Gramedia. Koran ini hadir menyapa warga 39 Yogyakarta dan sekitarnya pertama kali pada tanggal 11 april 2011, dengan tampilan 20 halaman, yang terbagi dari dua sesi yang masing-masing sesi terdapat dua web. Sebelum terbit dalam tampilan media cetak, pada tahun 2010 telah hadir versi online yakni Tribun Jogja Online. Bagi Tribun Jogja masyarakat ditempatkan sebagai orang spesial di panggung kehormatan. Hal ini dikarenakan nama Tribun yang diartikan panggung kehormatan dan menjadi tempat untuk memberitahu, memperlihatkan dan menunjukan hal- hal speSial yang dilakukan oleh insan tersebut. Oleh karena itu nama Tribun Jogja dipakai karena koran ini ingin menempatkan pembaca sebagai orang yang terhormat dan menyajikan berita dengan lengkap. -
Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah Dan Pendidikan Sejarah Pemikiran Kebangsaan Jakob Oetama Pada Surat Kabar Kompas 1970-2001
Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan https://e-journal.hamzanwadi.ac.id/index.php/fhs/index ISSN: 2549-5585 (online), Vol. 5 No. 1 Juni 2021, hal 89-102 Sejarah Pemikiran Kebangsaan Jakob Oetama Pada Surat Kabar Kompas 1970-2001 Annida Allim Nusaibah1*, Abrar2, Sri Martini3 1 Universitas Negeri Jakarta; [email protected] 2 Universitas Negeri Jakarta; [email protected] 3 Universitas Negeri Jakarta; [email protected] *Korespondensi Dikirim: 03-06-2021; Diterima: 16-07-2021; Diterbitkan: 19-07-2021 Abstract: Nationality is needed by every Indonesian as one of the efforts to continue maintaining the unity and integrity of the nation. One of the national press figures who seriously think about the issue of nationality is Jakob Oetama. One of the ways Jakob Oetama channeled national ideology was through the press media named the Kompas. The purpose of this study was to find out how Jakob Oetama ideology about nationality in Kompas newspaper. The period is from 1970 to 2001. The research method uses historical research methods consisting of four stages; heuristics, verification, interpretation and historiography. The results showed that Jakob Oetama's national ideology in the first Kompas daily newspaper was Bhinneka Tunggal Ika and national ideology, national integration and disintegration, religious issues, knowing the homeland, and the principle of transcendental humanism. Keyword: ideology; Jakob Oetama; nasionality Abstrak: Pemahaman kebangsaan sangat diperlukan oleh setiap rakyat Indonesia sebagai salah satu upaya untuk terus mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu tokoh pers nasional yang serius memikirkan persoalan tentang kebangsaan adalah Jakob Oetama. Cara Jakob Oetama menyalurkan pemikiran kebangsaan salah satunya yaitu lewat media pers yang diberi nama surat kabar Kompas. -
Bab Ii Deskripsi Pt. Sirkulasi Kompas Gramedia
BAB II DESKRIPSI PT. SIRKULASI KOMPAS GRAMEDIA A. Sekilas Perkembangan Kompas Gramedia A.1. Kompas Gramedia Kompas Gramedia (KG) merupakan sebuah perusahaan inti yang membawahi sirkulasi kompas gramedia dan beberapa unit bisnis di Indonesia yang bekerja sama secara langsung dengan Kompas Gramedia. Beranjak dari sejarahnya, Kompas Gramedia sebagai salah satu perusahaan yang terkemuka di Indonesia memiliki peristiwa-peristiwa penting yang menjadi tonggak perjalanan dari sejak berdiri sampai perkembangannya saat ini. Pada tanggal 17 Agustus 1963 terbitlah majalah bulanan intisari oleh Petrus Kanisius dan Jakob Oetama bersama J. Adisubrata dan Irawati SH. Majalah bulanan intisari bertujuan memberikan bacaan untuk membuka cakrawala bagi masyarakat Indonesia. pada saat itu, intisari terbit dengan tampilan hitam putih, tanpa sampul berukuran 14 x 17,5 cm dengan tebal halaman 128 halaman dan majalah ini mendapat sambutan baik dari pembaca dan mencapai oplah 11.000 eksemplar. Pada perkembangan industri printing di masa kini yang bersaing dengan waktu dan teknologi, Kompas Gramedia siap menerima tuntutan dan tantangan dunia sebagai penyedia jasa informasi dengan menyediakan berbagai sarana media seperti surat kabar, majalah, tabloid, 46 buku, radio, media on-line, televisi, karingan toko buku, dan sarana pendidikan. Kompas Gramedia juga hadir di usaha lain seperti jaringan hotel, jaringan percetakan, tempat pameran, kegiatan kebudayaan, pelaksana acara, properti, dan manufaktur (pabrik tissue dan popok). Semua itu menyatu dalam sebuah jaringan media komunikasi terpadu yang pada saat ini sedang melakukan transformasi bisnis berdasarkan nilai-nilai yang diwariskan para pendirinya yang dimanifestasikan dalam KG Values, yaitu 5C : Caring, Credible, Competent, Competitive, Customer Delight untuk menggapai visi dan misi : “Menjadi perusahaan yang terbesar, terbaik, terpadu, dan tersebar di Asia Tenggara melalui usaha berbasis pengetahuan yang menciptakan masyarakat terdidik, tercerahkan, menghargai kebhinekaan dan adil sejahtera”. -
BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN A. Deskripsi SKH
BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN A. Deskripsi SKH Kompas Informasi media tempat penelitian ini dilaksanakan berguna untuk mengetahui latar belakang pemikiran pekerja media serta alur kerja yang terjadi di media tersebut. Data mengenai surat kabar harian Kompas peneliti dapatkan dalam company profile yang diperoleh pada pusat data Kompas, Lantai 4 Gedung Kompas Gramedia Jalan Palmerah Jakarta Selatan. Beberapa data juga didapat dari sumber buku St. Sularto. A.1. Sejarah Berdirinya SKH Kompas Harian Kompas diterbitkan pada tahun 1960 atas prakarsa dua orang yakni Petrus Kanisius Ojong (atau yang biasa disingkat PK Ojong) dan Jakob Oetama. Kedua orang ini memiliki kesamaan yakni pernah menjadi guru dan memiliki minat di bidang sejarah. PK Ojong adalam pemmpin redaksi Star Weekly dan Jakob Oetama pada saat itu adalah pemimpin redaksi majalah Penabur. Keduanya bertemu dan membahas mengenai kesulitan masyarakat Indonesia dalam membaca format media majalah terutama yang berasal dari luar negri. Keduanya memprakarsai berdirinya majalah Intisari yang menjadi tonggak awal berdirinya kerajaan Gramedia Majalah dan juga koran Kompas. 39 Kompas dalam sejarah pendiriannya juga melibatkan Presiden Soekarno. Pada saat itu Presiden meminta Jakob dan PK Ojong mendirikan sebuah surat kabar untuk menampung aspirasi masyarakat. Awal mula nama yang akan digunakan adalah “Bentara Budaya”, namun Presiden Soekarno lebih memilih “Kompas” karena berfilosofi sebagai penunjuk arah bagi masyarakat. Maka didirikanlah harian umum Kompas yang kala itu dicap sebagai medianya partai Katolik. Saat ini Kompas berada dalam satu struktur manajemen Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Inti dari bisnis perusahaan ini adalah media. Pertama adalah majalah kemudian merambah ke koran dan saat ini juga merambah pada media siaran dan internet. -
Jacob Oetama
www.rajaebookgratis.com JACOB OETAMA Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas dan Chief Executive Kelompok Kompas-Gramedia, melampiaskan keharuannya pada saat Universitas Gadjah Mada, Kamis, 17 April 2003, secara resmi memberinya anugerah kehormatan berupa gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi. Dia adalah salah satu raksasa jurnalis di negeri ini yang menawarkan jurnalisme damai dan berhasil membuka horizon pers yang benar-benar modern, bertanggung jawab, non-partisan, dan memiliki perspektif jauh ke depan. Bulir air mata perlahan menetes di pipi tuanya yang mengeriput. Suaranya yang semula berat dan membahana di seisi ruangan, kontan berubah serak dan parau. Laki- laki tua yang siang itu berdiri di podium terhormat, tak lagi kuasa menahan rasa haru yang luar biasa. Dia menangis. Jakob Oetama, laki-laki tua itu, Pemimpin Umum Harian Kompas dan Chief Executive Kelompok Kompas-Gramedia, melampiaskan keharuannya. Pada saat Universitas Gadjah Mada, Kamis, 17 April 2003, secara resmi memberinya anugerah kehormatan berupa gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi. Dalam pidato promosi untuk memperoleh gelar doktor honoris causa (HC) itu, ia mengemukakan bahwa pencarian makna berita serta penyajian makna berita semakin merupakan pekerjaan rumah dan tantangan media massa saat ini dan di masa depan. http://rajaebookgratis.wordpress.com 1 www.rajaebookgratis.com Jurnalisme dengan pemaknaan itulah yang diperlukan bangsa sebagai penunjuk jalan bagi penyelesaian persoalan-persoalan genting bangsa ini. Jakob Oetama adalah penerima doktor honoris causa ke- 18-yang dianugerahkan UGM-setelah pekan lalu gelar yang sama dianugerahkan UGM kepada Kepala Negara Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah. Promotor Prof Dr Moeljarto Tjokrowinoto dalam penilaiannya menyatakan, jasa dan karya Jakob Oetama dalam bidang jurnalisme pada hakikatnya merefleksikan jasa dan karyanya yang luar biasa dalam bidang kemasyarakatan dan kebudayaan. -
43 Bab Iii Gambaran Umum Harian Kompas Dan Data
BAB III GAMBARAN UMUM HARIAN KOMPAS DAN DATA PEMBERITAAN 3.1. Gambaran Umum Harian Kompas 3.1.1. Sejarah Harian Kompas Harian Kompas lahir tanggal 28 Juni 1965, tiga bulan sebelum peristiwa politik G 30 S PKI meletus. Lahirnya Kompas tersebut diprakarsai oleh tokoh-tokoh Katholik dengan motto ‘Amanat Hati Nurani Rakyat.’ Hati nurani adalah wujud semangat hidup tidak pantang menyerah terhadap segala macam tekanan hidup, keesokan harinya barulah Kompas mulai dipasarkan (Kasman, 2010: 154- 155). Surat kabar Kompas dalam sejarah pers Indonesia menduduki tempat yang unik, karena Kompas hidup dalam tiga periode yang berlainan, yaitu masa Orde Lama, Orde Baru, dan era reformasi. Nama Kompas sering diplesetkan dengan banyak istilah seperti, ‘Komando Pastur,’ ‘Komando Pas Seda,’ ‘Komando Pasukan,’ dan ‘Komt Pas Morgen.’ Hal ini tentu ada dasarnya yakni ketika Kompas lahir, tiap-tiap surat kabar mempunyai afiliasi politik mengharuskan Kompas memiliki afiliasi politik juga. Harian Kompas pun berafiliasi dengan Partai Katholik, yang diketuai oleh Frans Seda. Para Jenderal, seperti A.H. Nasution dan Ahmad Yani mendukung 43 44 gagasan tersebut, mereka mengangkat Petrus Kanisius Ojong yang memilih Jacob Oetomo sebagai rekanya (Kasman, 2010: 146-147). Kehadiran surat kabar Kompas tidak lepas kaitanya dengan kelompok militer dan aktivis Katholik saat itu. Awal tahun 1965, Letjen Ahmad Yani selaku Menteri/Panglima TNI-AD menelepon rekanya yang sekabinet, Drs. Frans Seda. Yani melemparkan ide menerbitkan koran untuk membangkitkan semangat republik bagi rakyat juga tentara untuk melawan pers komunis. Frans Seda menanggapi ide tersebut dan membicarakannya dengan Ignatus Josef Kasimo sesama rekan di Partai Katholik dan dengan rekannya yang memimpin majalah Intisari, Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetomo. -
Title Pages Acknowledgements Contents
Cover Page The handle http://hdl.handle.net/1887/68274 holds various files of this Leiden University dissertation. Author: Wijayanto, W. Title: Between fear and power : Kompas, Indonesia's most influential daily newspaper, 1965-2010 Issue Date: 2019-01-17 Note: The cover photograph is taken from the book Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama [Endless gratitude, Footsteps of Jakob Oetama], written by Kompas senior journalist St. Sularto (2011). The photo appeared on page 622 of the book, with the following caption: “[Jakob Oetama] receiving the Bintang Mahaputera Utama (Star of the Great Son) from the Indonesian government. The Star was awarded by President Suharto at the presidential palace on May 21, 1973.” ii Between Fear and Power: Kompas, Indonesia’s Most Influential Daily Newspaper, 1965-2015 PROEFSCHRIFT ter verkrijging van de graad van Doctor aan de Universiteit Leiden op gezag van Rector Magnificus prof. mr. C.J.J.M. Stolker volgens besluit van het College voor Promoties te verdedigen op donderdag 17 januari 2019 klokke 16.15 door Wijayanto geboren te Demak (Indonesië) in 1983 iii Promotor: Prof. dr. D.E.F. Henley (Universiteit Leiden) Copromotor: Dr. W. Berenschot (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land –en Volkenkunde) Promotiecommissie : Prof. dr. A.W. Bedner (Universiteit Leiden) Dr. D. Dhakidae (Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) Prof. dr. T. Hanitzsch (Ludwig-Maximilians-Universität München) Dr. R. Saptari (Universiteit Leiden) Prof. dr. H. Schulte Nordholt (Universiteit Leiden) iv Acknowledgements I would like to express my gratitude to my supervisors: Professor David Henley and Dr. Ward Berenschot, for their instrumental role in guiding me at every stage of my research project. -
Islamic Hypnotherapy to Reduce Parent's Anxiety Towards the Future of Children with Autistic Spectrum Disorders
Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 5, No. 1, January – June 2020, pp. 1 - 26, DOI: https://doi.org/10.22515/al-balagh.v5i1.1953 ISSN: 2527-5704 (P) ISSN: 2527-5682 (E) http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/al-balagh ISLAMIC HYPNOTHERAPY TO REDUCE PARENT'S ANXIETY TOWARDS THE FUTURE OF CHILDREN WITH AUTISTIC SPECTRUM DISORDERS Tri Winarsih Zahro Varisna Rohmadani Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Abstract Keywords: Parents of children with autism spectrum disorder (ASD) have anxiety about anxiety about their children’s future. This anxiety affects the the child's future; Islamic psychological well-being of parents. Therefore, parents need hypnotherapy; advice to reduce their stress level. Hypnotherapy methods have parents with autistic children been proven that those are able to reduce anxiety in various cases. For this reason, this study aims to determine the effectiveness of Islamic hypnotherapy in overcoming the fear of parents with ASD children. This study employs a pre-experimental method consisting of one group which takes treatment with the Islamic hypnotherapy method. The measurement of anxiety about the child’s future was conducted by giving a scale of stress to child’s future, before and after providing an intervention.The results were tested by using SPSS with Wilcoxon Signed Rank Test Z = -2.251 and Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.024 (p<0.05), which mean that Islamic hypnotherapy can reduce the anxiety faced by parents who have autism children. Islamic hypnotherapy is capable of reducing stress because it teaches positive suggestions and and releases samples’ emotions. Correspondence: e-mail: [email protected] Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. -
Ilmu Komunikas
rssN r693-3029 Terakreditasi ts IURIIAL S( 0nrern,rr ir. 2it,01r?TliIr,t:1,]!J ILMU KOMUNIKAS Eksplorasilurnalisme Kuning Di Indonesia 0.q Itan AualuddinYusuf MediaAnd S0cial Transformation ln Indonesia tU p-,,,t, EksistensiDan Peran nadio Komunitas Dalam Menduk!lng ProsesDemokratisasi Dan PemberdayaanMasyarakal Isbandi WacanaMedia Dalam Kasus Bom Bali PerlarunganWacana Harian Republika Dan Harian KonrFan DalamKasus Bom Bali Deui Ntaiauti KaiiUlang Komunikasi Sosial Dan Pembangunan Di Negara Belkembang ( XasusTranstornasi Sosial Di lndonesia) .So1;iSornrtr',tt Framingthe Cocacolanization: Subverlisementsof Solidarity Movement for Palestlnlanas the ChallengingDiscourse D. Durutrha Sasanghu PornografiDan Slrategi l(leatif Periklanan Basuki AutismeDan Kelerbatasan Komunikasi ( Studi(asus: Metode P€nyampa'an Pesan DalamTerapiAnak Autis 0i SLBPsmbina Yogyaka{a) Suciati Media and Social Transformation in Indonesia Prayudi' Tumbangnyapemnintalun Orde Batu tidtk bisaWas ilai perufl sertaindustri meilia ; Indonesia.walaupuft rnendapatt?*atun yans IuM biasadai pmleifilahafi yaflg miLiteristik, :aiuangan kalanganmedia untuk bebasdai tekananpemennhh telah menunclllkttl bent k- .n1tuk pe auman tefiadap rcjim yang be*uasa. Tulisan ini men8analisispnktek nedia, &lsrs yapers, ili eraOrile BN1/dml traasisi lldol@sit dalafi konkks kultunl danpolitik, serta tpgaifi afla pefi ,nanber*.an konhibu$i bagib rtnslotmasisosial di Indonesit. l,eyrLvrd:prds, NeurO a, transition Inilonesb lntloduction This media and democracy The rclation between media and relation has raised question about how to democracy is inseparable. What is understand the pmctice of media during debatableis exacdy how media conkibute and after the fall of New Ord€r regime and to the process of democrary or how ihe hansition Indonesia. This article examines process of democracy within a country tbi!,ic€lle throuSh tt* .'ilt*ii-La shapes the media. -
SHARI'a CONTESTED: Public Opinions in Kompasand Republika2000-2004'
SHARI’A CONTESTED: Public opinions in Kom pas an d R epublika 2000-2004' ByLinaKushidayati A b stra k s Formalisasi syariab di beberapa kota di Indonesia telah memicuperdebatan terbuka terutama di media, Dalam surat kabar Indonesia, banyakpendapat telah ditulis denganpro- kontra oleh berbagaipibak mengenai formalisasi syariab. Artikel ini mengarudisispendapat yang diterbitkan di Kompas dan Republika selama 2000-2004. Ada 44 artikel diperoleh dari kedua sw at kabar tersebut Perdebatan tentangformalisasi di Indonesia adalab antara Islam liberal dan Islam fundamental. Jumlab artikel mengenaiformalisasi syariab muncul di dua sw at kabar berbeda. Sebagian besar artikel di Republika memberikanpendapat dari parapendukungformalisasi, dan hanya seperempat dari mereka yang menentang pelaksanaan syariab. A rtikel di Kompas hampir seimbangdalam halproporsinya. Delapan artikel menunjukkanpersetujuan pelaksanaan syariab, sedangkan artikel sebelas menunjuk- kan ketidaksepakatan. s* * U?. OX# oJs* 4-x j 1 y Cj'yOjljl <j o 44 iJl-Lft 01 .2004j 2000 j»lp Oh L« o j j JljOJi U* cJljJrl Jk? 01 use US"* .iyj}\ oj_to U u44iEiS** 0)1 *Evl jail y o/8 celoUr*}/lj oV iall c-JLij oJj -i' j e - k u^j i j j t u l l oVEdl «l4l (j ii'I s IS iil_js lj & -kis j> £- (j io 4 b jk-Jl (j^ o'b/Lail j\ X P p i jJ > ^JuJl jd oJbjil o ^>Mj aJL^- yS"*l y>' 0*tj j>r Uj ( S ‘t^ r iU*J . jb * C^~ * »Jr~p s-ko"b/LL* ^Lc i)E» iSUL. Keywords: Syariat, Formalisasi, Kompas, Republika * This is a short version of MA thesis submitted to the Islamic Studies Programme, the Faculty of Arts, Leiden University, the Netherlands in 2008 * Lina Kushidayati earned her MA from Leiden University, The Netherlands in 2008.