Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017 ISSN: 2541-0636

TIM PROSIDING

Penanggung Jawab:

Drs. Ida Bagus Made Suaskara, M.Si.

Pengarah:

Drs. I Made Satriya Wibawa, M.Si. Anak Agung Bawa Putra, S.Si., M.Si. Drs. I Wayan Santiyasa, M.Si.

Editorial Team

Chief-in-Editor Dr. Dra. Wiwik Susanah Rita, M.Si. Associate Editor Desak Putu Eka Nilakusmawati, S.Si., M.Si.

Editorial Board:

Prof. Dr. Marjono, M.Phil. (UB) Junaidi Khotib, S.Si, Apt, M.Kes, Ph.D (UNAIR) Dr. I Ketut Gede Suhartana, S.Kom., M.Kom. (UNUD) Dr. Dra. Ni Wayan Bogoriani, M.Si. (UNUD) Dr. Drs. I Made Oka Adi Parwata, M.Si. (UNUD) Made Susilawati, S.Si., M.Si. (UNUD) Ir. I Komang Dharmawan, M.Math., Ph.D. (UNUD) Dr. Ir. G.K. Gandhiadi, M.T. (UNUD) Dr. rer.nat. Drs. I Made Agus Gelgel Wirasuta, Apt., M.Si. (UNUD) Dr. Sagung Chandra Yowani, S.Si., Apt., M.Si. (UNUD) Dr. Dra. Putu Adriani Astiti, M.Si. (UNUD) Dr. Dra. Meitini Wahyuni Proborini, M.Sc.St. (UNUD) Dr. Drs. Anak Agung Ngurah Gunawan, M.Si. (UNUD) Dr. Ir. Herry Suyanto, M.T. (UNUD) Dra. Luh Gede Astuti, M.Kom. (UNUD) I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan, S.Kom., M.Cs. (UNUD) Kartika Sari, S.Si., M.Sc. (UNUD)

Sekretariat:

Dr. I Nengah Wirajana, S.Si., M.Si. Dr. I Ketut Ginantra, S.Pd., M.Si. I Gusti Ayu Made Srinadi, S.Si., M.Si. Gusti Ayu Vida Mastrika Giri, S.Kom., M.Cs.

Ni Made Pitri Susanti, S.Farm., M.Farm., Apt. I Gusti Agung Adnyana Putra, S.Si., M.Si.

Denpasar, Bali – 21 Oktober 2017 | i

Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017 ISSN: 2541-0636

Desain Grafis:

I Komang Ari Mogi, S.Kom., M.Si. I Gede Artha Wibawa, S.T., M.Kom. I Gede Oka Gartria Atitama, S.Kom., M.Kom. Agus Muliantara, S.Kom., M.Kom.

ii | Denpasar, Bali – 21 Oktober 2017 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017 ISSN: 2541-0636

KATA PENGANTAR

Pertama-tama, kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat-Nyalah maka Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SainTech) yang kedua (II) dapat selesai sesuai dengan harapan. Seminar Nasional Sains dan Teknologi ini mengambil tema “Penguatan Riset Perguruan Tinggi untuk Pengembangan Sains dan Teknologi yang Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh Fakultas MIPA Universitas Udayana pada tanggal 21 Oktober 2017, bertempat di Universitas Udayana Kampus Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali. Saat ini, kesadaran akan pentingnya publikasi untuk pengembangan ilmu melalui berbagai penelitian khususnya bidang sains dan teknologi masih dipandang rendah. Sebagai pendidik, salah satu tugas pokok dan fungsi adalah melakukan penelitian yang kemudian dipublikasikan untuk dapat disebarkan kepada masyarakat luas. Sebagai mahasiswa salah satu syarat untuk dapat merah gelar S1 wajib mempunyai publikasi ilmiah. Oleh karena itu Fakultas MIPA melaksanakan kegiatan dalam bentuk seminar nasional Sains dan Teknologi ini . Adapun tujuan dari kegiatan ini yaitu: meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang keilmuan sains dan teknologi; meningkatkan kepedulian tentang pentingnya publikasi dari hasil penelitian Hibah Unggulan Program Studi (HUPS) dan Dosen Muda; memberikan wahana dalam publikasi ilmiah bagi peneliti, dosen, dan mahasiswa; dan sebagai sarana untuk lebih mempererat civitas akademika dan masyarakat lain. Peserta kegiatan seminar nasional ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa, dan peneliti lain yang berjumlah 95 pemakalah pendamping dan 200 peserta dan tamu undangan. Invited speaker dalam seminar ini mengundang Prof. Dr. Marjono, M.Phil. (Universitas Brawijaya) dan Junaidi Khotib, S.Si, Apt, M.Kes, Ph.D (Universitas Airlangga). Atas nama panitia, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan beliau semua hadir dalam acara ini. Kami dari pihak panitia mengucapkan terima kasih kepada semua peserta dan pemakalah yang telah mengirimkan makalahnya untuk diterbitkan pada prosiding seminar nasional ini. Terima kasih pula kepada Rektor Universitas Udayana, pihak Fakultas MIPA Universitas Udayana, pihak sponsor dan panitia baik dari staf dosen, staf pegawai, panitia mahasiswa, serta semua pihak yang turut memberikan kontribusi atas suksesnya pelaksanaan kegiatan ini.

Ketua Panitia

Dr. I Ketut Gede Suhartana, S.Kom., M.Kom

Denpasar, Bali – 21 Oktober 2017 | iii

Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017 ISSN: 2541-0636

DAFTAR ISI

Halaman TIM PROSIDING ...... 2 KATA PENGANTAR ...... iii DAFTAR ISI ...... iv

DAFTAR ARTIKEL

ANALISIS KESTABILAN PADA MODEL PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM DENGUE DENGAN MASA INKUBASI VIRUS DAN LAJU INSIDENSI NONLINEAR I Putu W Gautama, Widodo, I Putu Eka N Kencana...... 1-14

KAUSALITAS ANTARA MOTIVASI, PERSEPSI, DAN TINGKAT KEPUASAN WISATAWAN MANCANEGARA Eka N. Kencana, Ketut Jayanegara, Trisna Darmayanti...... 15-24

PENERAPAN ANALISIS BIPLOT DALAM PERCOBAAN LOKASI GANDA (MULTI ENVIRONMENT TRIAL) Brian Yonathan Suryantho, I Komang Gde Sukarsa, I Gusti Ayu Made Srinadi...... 25-31

PENDUGAAN DATA HILANG PADA RANCANGAN BUJUR SANGKAR LATIN DENGAN ANALISIS KOVARIAN Farida Ayu Rahmawati, Made Susilawati, Kartika Sari...... 32-37

ANALISIS PELAYANAN TELLER BRI CANGGU MENGGUNAKAN TEORI ANTERAN Made Citra Puspita Dewi, I Wayan Sumarjaya, Tjokorda Bagus Oka...... 38-42

PEMODELAN KASUS GIZI BURUK DI PROVINSI BALI DENGAN REGRESI BINOMIAL NEGATIF Diah Arini, I Gusti Ayu Made Srinadi, I Wayan Sumarjaya...... 43-48

REGRESI POISSON DALAM MEMODELKAN JUMLAH PENDERITA KUSTA DI PROVINSI BALI Kharisma Innaka Arfidina, Made Susilawati, I Gusti Ayu Made Srinadi...... 49-54

iv | Denpasar, Bali – 21 Oktober 2017 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017 ISSN: 2541-0636

PENERAPAN MODEL REGRESI PROBIT UNTUK MENDUGA FAKTOR- FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGELOMPOKAN UKT Mitta Gargita, Made Susilawati, I.G.A. Made Srinadi ...... 55-60

PEMODELAN PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN PENDEKATAN REGRESI LINEAR BERGANDA Ni Nyoman Rustiani, Made Susilawati, I Gusti Ayu Made Srinadi...... 61-66 PENDEKATAN PERSAMAAN SIMULTAN DALAM ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOPI INDONESIA Putu Andri Ayuni Noveria, Eka N. Kencana, Komang Gde Sukarsa...... 67-72

ANALISIS PERBANDINGAN KARAKTERISTIK WISATAWAN MANCANEGARA YANG BERKUNJUNG KE OBYEK WISATA UBUD DAN KUTA Novita Triani Hamma, Selfia Putri Bukhori, Siti Rahayu Ningsih, Sherly Eren Saragi, Juita H. Sidadolog, Desak Putu Eka Nilakusumawati...... 73-79

EFEKTIVITAS METODE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) PADA PEMBELAJARAN SIFAT OPERASI BILANGAN BULAT Moh Ghista Kusuma Shafarda, Ni Made Asih, Muhammad Irfan, Paulus Lazarus...... 80-85 KEBERHASILAN BELAJAR BERDASARKAN GENDER PADA MATA KULIAH GEOMETRI ANALITIK Ni Made Asih, Ni Luh Putu Suciptawati, I Nyoman Widana...... 86-91

ANALISIS KARAKTERISTIK PENGGUNA DAN KUALITAS LAYANAN JASA PENGIRIMAN BARANG (Studi Kasus: JNE Cabang Denpasar Selatan) Ni Wayan Ayu Jusiani, Ni Putu Ria Fitriani, Putri Bella Sagita, Ni Putu Intan Puspa Dewi, Ni Ketut Tari Tastrawati...... 92-98

ANALISIS PENGARUH TRANSPORTASI ONLINE TERHADAP MINAT MASYARAKAT MEMILIH LAYANAN TRANSPORTASI UMUM Ni Luh Putu Ratna Dewi, Ni Putu Trisna Dewi, Fitri Ananda Dita Saraswita, Ni Putu Ayu Dewi Cahyantari, I Gusti Ayu Meigayoni Lestari, Desak Putu Eka Nilakusmawati...... 99-104

OPTIMALISASI PENJUALAN SEPATU MENGGUNAKAN METODE LAGRANGE MULTIPLIER DI SHOES SHOP ID BALI Ni Wayan Uchi Yushi Ari Sudina, Ni Komang Ayu Sedana Dewi, Ni Made Asih...... 105-110

PENGGUNAAN TRANSFORMASI BOX-COX PADA PRODUKSI JAGUNG DI BALI Ni Luh Karina Prilyandari, I Gusti Ayu Made Srinadi, G.K. Gandhiadi ...... 111-116

Denpasar, Bali – 21 Oktober 2017 | v

Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017 ISSN: 2541-0636

ANALISA INTERAKSI MANUSIA DAN KOMPUTER TERHADAP KINERJA PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE PENELITIAN KUALITATIF PADA PERUSAHAAN PENGIRIMAN DAN LOGISTIK JL. GUNUNG SANGHYANG I Gede Angga Surya Diva, I Ketut Gede Suhartana...... 117-123

PROTOTIPE SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK PENYAKIT DAN ASANA PENYEMBUHAN DALAM YOGA Luh Gede Astuti, I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan, Kadek Aryana Dwi Putra, Kadek Dwi Sukri Yanthi...... 124-130 RANCANG BANGUN CASE BASE SISTEM REKOMENDASI MUSIK BERDASARKAN DATA KONTEKS DAN EEG Gst. Ayu Vida Mastrika Giri, A.A. Istri Ngurah Eka Karyawati ...... 131-136

PENGARUH ALGORITMA DIJKSTRA DALAM MENGURANGI BEBAN KERJA PENGEMUDI OJEK DENGAN METODE ANALISA KUALITATIF Isa Rizkie Cahyo, I Ketut Gede Suhartana ...... 137-143

ANALISIS IMPLEMENTASI KOMPUTASI PARALEL PADA KRIPTOGRAFI ASIMETRIS DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA RSA Putu Adi Prasetya, I Gede Arta Wibawa ...... 144- 152

KONSERVASI JALAK BALI (Leucopsar rothschildi) Sudaryanto, Meitini Wahyuni Proborini ...... 153-162

JENIS-JENIS KUPU-KUPU YANG DITEMUKAN DI KAWASAN PARIWISATA UBUD, BALI Anak Agung Gde Raka Dalem, Martin Joni ...... 163-177

IDENTIFIKASI INTRUSI AIR LAUT PADA AKUIFER DEKAT PANTAI DENGAN METODE GEOLISTRIK (STUDI KASUS DI CANDIDASA KARANGASEM BALI) I Nengah Simpen, I Wayan Redana, Ni Nyoman Pujianiki...... 178-184

KLASIFIKASI KETERBELITAN MULTIPARTIT MENGGUNAKAN NILAI TUNGGAL TENSOR INTI MATRIK UNFOLDING DALAM SISTEM TELEPORTASI KUANTUM I N. Artawan, N.L.P. Trisnawati...... 185-192 IMPLEMENTASI PIEZOELEKTRIK SEBAGAI SENSOR PADA KARAKTERISASI MATERIAL BARIUM TITANAT DENGAN SUBSTITUSI CALSIUM (Ba1- xCaxTiO3) Windaryoto, Poniman, S...... 193-197

DETEKSI OTOMATIS HISTOPATOLOGI TYPE INVASIVE DUKTAL

vi | Denpasar, Bali – 21 Oktober 2017 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017 ISSN: 2541-0636

CARCINOMA (IDC) DAN INVASIVE LOBULER CARCINOMA (ILC) PADA MAMMOGRAM A.A.N. Gunawan, I.W. Supardi, S. Poniman...... 198-205

RESIDU RADIOAKTIF DAN VITAMIN BUAH TOMAT PASCA RADIASI GAMMA Co-60 Ida Bagus Made Suryatika, Gusti Agung Ayu Ratnawati, Gusti Ngurah Sutapa...... 206-213

EFEK RADIOTERAPI COBALT-60 TERHADAP PROFIL HEMATOLOGI PADA PENDERITA KANKER SERVIKS DI RSUP SANGLAH Ni Nyoman Ratini, I Made Yuliara...... 214- 221 UJI MODEL INDEKS VEGETASI PADA SPEKTRUM TAMPAK DAN INFRAMERAH CITRA LANDSAT UNTUK ANALISIS VEGETASI CENGKEH Yuliara, A. Kasmawan...... 222-228 DISTRIBUSI GAS RADON DI RUANGAN BERBAHAN GIPSUN DAN RESIKO KANKER PARU-PARU Gusti Agung Ayu Ratnawati, Gusti Ngurah Sutapa, Ni Nyoman Ratini...... 229- 237

ANALISIS PENGGUNAAN DIURETIK TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH, KADAR NATRIUM DAN KALIUM PADA PASIEN HIPERTENSI DISERTAI GAGAL GINJAL KRONIK Made Ary Sarasmita, Komang Ayu Trisna Puteri, A.A. Raka Karsana...... 238-247

Denpasar, Bali – 21 Oktober 2017 | vii

Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 . .

ISSN: 2541-0636

JENIS-JENIS KUPU-KUPU YANG DITEMUKAN DI KAWASAN PARIWISATA UBUD, BALI

Anak Agung Gde Raka Dalem1§ dan Martin Joni2

1Kelompok Studi Ekowisata & Pembangunan Berkelanjutan, Fmipa, Universitas Udayana, Bali – Indonesia. Email: [email protected]

2Prodi Biologi, Fmipa, Universitas Udayana, Bali. Email: [email protected]

§ Penulis Korespondesi

ABSTRACT

Research on species of was conducted in Ubud Tourist Resort between August and Ocober, 2017. Aim of this reserach was to inverstigate species in that tourist resort. This research is part of a wider study entitled “Butterflies as an Ecotourist Attraction in Ubud Tourist Resort, Bali”. Samples were taken through exploring eight existing trekking trails on the study site. Butterflies were captured using nets or pictures were taken using a digital camera. Butterflies were identified through observation on their shapes, colours, sizes, and other criteria. These refered to some references, such as Landman [1], Lilies S. [2], and Mason [3]. Records were taken on the name of the species, frequency observed (relative) and their conservation status (protected or not protected). In this research, 37 species of butterflies were identified, including irava and archias from the family of Hesperiidae; Jamides celeno and Miletus symethus form the family of Lycaenidae; Amathusia phidippus, Athyma perius, Charaxes bernardus, Cupha erymanthis, Danaus chrysippus, Danaus genutia, Doleschallia bisaltide, hypermnestra, Elymnias nesaea, Euploea mulciber, Hypolimnas bolina, Ideopsis vulgaris, almana, Junonia atlites, Junonia hedonia, Melanitis leda, Neptis hylas, Orsotriaena medus, Parantica melaneus, pelea, and Ypthima pandocus from the family of ; Graphium agamemnon, Graphium doson, Graphium sarpedon, Papilio demoleus, Papilio helenus, Papilio memnon, Papilio peranthus, and Papilio polythes from the family of Papilionidae; Hebomoia glaucippe, Catopsilia pomona, Eurema sp., and Leptosia nina from the family of Pieridae. Butterflies that frequently observed were Elymnias hypermnestra, Eurema sp., Junonia almana, Junonia atlites, Leptosia nina, Papilio memnon, and Papilio polythes. There were no protected species identified on this study site. Keywords: Bali, butterfly, butterfly tour, ecotourism, Ubud Tourist Resort

1. PENDAHULUAN

8 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636 Kupu-kupu merupakan komponen ekosistem yang penting di Indonesia, yang merupakan negara dengan megabiodiversitas terbesar kedua di dunia setelah Brasilia (Primack et al. [4]; Dalem [5]). Namun kupu-kupu ini sering terancam keberadaannya di alam, terutama karena kondisi lingkungan (habitatnya) yang sudah tidak mendukung. Apalagi dengan meningkatnya penggunaan pestisida yang tidak terkelola dengan baik, maka tekanan terhadap populasi kupu-kupu di alam cenderung meningkat. Padahal kupu-kupu ini berperan antara lain sebagai bagian dari reproduksi, khususnya penyerbukan tanaman tertentu. Namun demikian, ada juga sebagian pihak yang menganggapnya sebagai sumber permasalahan, karena ulatnya dianggap sebagai hama tanaman.

Penelitian tentang kupu-kupu di Indonesia yang sudah ada dilaksanakan, antara lain oleh Wafa et al. [6] tentang jenis dan ekologi kupu-kupu di TWA Gunung Baung, Pasuruan, Rahayu [7] tentang inventarisasi jenis kupu-kupu di Teluk Terima, Taman Nasional Bali Barat, Handayani [8] inventarisasi jenis kupu-kupu di Kebun Raya Eka Karya Tabanan, Bali, Yuliana [9] tentang “Taman Kupu-kupu Bali sebagai daya tarik wisata edukasi di kabupaten Tabanan”, Maulidia [10] tentang “Media Pelatakan Telur dan Siklus Hidup Graphium agamemnon L. (: Papilionidae) pada Tanaman Glodokan di Kampus I Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta”, Sulistyani [11] tentang “Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu (Lepidoptera: Rhopalocera) di Kawasan Cagar Alam Ulolanang Kecubung Kabupaten Batang”, Dendang [12] tentang “Keragaman Kupu-Kupu di Resort Selabintana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat” dan Handayani et al. [13] tentang “Jenis Kupu-Kupu (Rhopalocera) di Kawasan Komplek Pemda Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu Riau”.

Publikasi yang relatif baru tentang kupu-kupu antara lain ditulis oleh Bibas et al. [14] yaitu tentang keanekaragaman kupu-kupu di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Peggie [15] tentang Diversitas dan pentingnya kupu-kupu Nusa Kambangan (Jawa-Indonesia), Suryanto [16] tentang Keseuaian media tabur, sapih dan naungan pada semai lada-lada (Micromelum minutum Wight & Arn) sebagai pakan larva Papilio peranthus untuk pembinaan habitat kupu- kupu, Priyono dan Abdulah [17] tentang Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu di Taman Kehati Unnes (Butterfly Species Diversity in the Unnes Biodiversity Garden), Tambaru [18] tentang Pemanfaatan tumbuhan sebagai pakan larva kupu-kupu di kawasan Taman Nasional Bantimurung, Bulusaraung, Maros, dan Koneri and Maabuat [19] tentang “Diversity of Butterflies (Lepidoptera) in Manembo-Nembo Wildlife Reserve, North Sulawesi, Indonesia”.

Penelitian kupu-kupu sudah ada dilakukan, namun penelitian kupu-kupu sebagai daya tarik ekowisata secara khusus jarang dilaksanakan. Apa lagi penelitian kupu-kupu sebagai daya tarik ekowisata di Kawasan Pariwisata Ubud memang belum pernah dilakukan. Sebagian dari hasil penelitian kupu-kupu sebagai daya tarik ekowisata di Kawasan Pariwisata Ubud, yang berupa jenis-jenis kupu-kupu yang ditemukan di kawasan pariwisata Ubud, Bali ditulis sebagai artikel dalam prosiding seminar ini.

9 A.A.G. Raka Dalem, Martin Joni Jenis-jenis Kupu-Kupu yang Ditemukan di Kawasan Pariwisata Ubud, Bali

Sesuai dengan Perda Provinsi Bali No. 16 tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali 2009-2029, kawasan pariwisata Ubud merupakan kawasan yang luasnya 7.712 ha, dengan sebaran pada desa/kelurahan sebagi berikut: Ubud 732 ha; Melinggih Kaja 487 ha; Melinggih Kelod 462 ha; Kedewatan 435 ha; Peliatan 493 ha; Mas 465 ha; Petulu 233 ha; Lod Tunduh 627 ha; Sayan 578 ha; Singakerta 675 ha; Keliki 452 ha; Tegallalang 782 ha; dan Puhu 1291 ha. Desa/Kelurahan Melinggih Kaja, Melinggih Kelod dan Puhu terletak di Kecamatan Payangan, Keliki dan Tegallalang terletak di wilayah Kecamatan Tegallalang, sedangkan yang lainnya terletak di Kecamatan Ubud.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kawasan pariwisata Ubud, kabupaten Gianyar, provinsi Bali, antara bulan Agustus-Oktober 2017. Pengambilan sampel kupu-kupu dilaksanakan dengan menggunakan metode jelajah dengan menjelajahi jalur-jalur trekking yang sudah ada atau menjelajahi jalur-jalur yang potensial dikembangkan. Ada delapan jalur trekking yang telah dikembangkan dan potensial dikembangkan dimana sampel diambil.

Kupu-kupu dikumpulkan di berbagai kondisi lingkungan / habitat, antara lain di wilayah persawahan (lahan basah), tegalan (lahan kering), sekitar sungai/tepian sungai, wilayah permukiman, kawasan hutan (jika ada dan memungkinkan). Penangkapan dilakukan dengan menggunakan insect net. Jika tidak bisa ditangkap maka diusahakan dipotret dengan menggunakan kamera digital merek Sony dengan resolusi maksimal, 15 mega pixel. Kupukupu yang tertangkap akan dieksekusi menggunakan chloroform yang ditaruh dalam stoples kaca, kemudian sampel dibawa ke laboratorium di Jurusan Biologi Fmipa Unud untuk identifikasi jenisnya. Jenis-jenis kupu-kupu dikenali berdasarkan buku acuan, antara lain: Bland and Jaques [20], Landman [1], Lilies S. [2], Mason [3], dan lain-lain, dan jumlahnya secara relatif/frekwensi ditemukannya dicatat, apakah sering, sedang atau jarang. Statusnya ditentukan apakah dilindungi atau tidak mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini berhasil diidentifikasi 37 species kupu-kupu, yang terdiri dari: dua species dari famili Hesperiidae, dua species dari Famili Lycaenidae, 21 species dari Famili Nymphalidae, delapan species dari Famili Papilionidae serta empat species dari Famili Pieridae (Tabel 1).

Kupu-kupu dari family Nymphalidae memiliki ukuran yang bervariasi, dari kecil hingga besar. Famili ini merupakan famili yang memiliki banyak variasi bentuk dan juga pola warna pada sayapnya. Sifat terbang dari kupu-kupu ini kuat, aktif dan cepat. Kupu-kupu ini sering dikenal dengan kupu-kupu berkaki empat, karena sepasang kaki depannya tereduksi dan tidak memiliki fungsi lagi.

10 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636

Tabel 1. List Kupu-kupu yang Berhasil Diidentifikasi di Kawasan Pariwisata Ubud No Nama Jenis/Species Famili Frekwensi Ditemukan * 1 Amathusia phidippus (The Palm King) Nymphalidae ++ 2 Hebomoia glaucippe (The Great Orange Tip) Pieridae + 3 Athyma perius (The Common Sergeant) Nymphalidae + 4 Catopsilia pomona (The Lemon Emigrant): Pieridae + 5 Charaxes bernardus (The Tawny Rajah) Nymphalidae + 6 Cupha erymanthis (The Rustic) Nymphalidae ++ 7 Danaus chrysippus (The Plain Tiger) Nymphalidae ++ 8 Danaus genutia (The Orange Tiger) Nymphalidae ++ 9 Doleschallia bisaltide (Autumn Leaf) Nymphalidae + 10 Elymnias hypermnestra (The Common Palmfly) Nymphalidae +++ 11 Elymnias nesaea (The Striped Blue Palmfly) Nymphalidae ++ 12 Euploea mulciber (The Striped Blue Crow) Nymphalidae ++ 13 Eurema sp. (Grass Yellow) Pieridae +++ 14 Graphium agamemnon (The Green Spotted Triangle) Papilionidae + 15 Graphium doson (The Common Jay) Papilionidae + 16 Graphium sarpedon (The Blue Triangle) Papilionidae + 17 Hidari irava (The ) Hesperiidae + 18 Hypolimnas bolina (The Great Egg-fly) Nymphalidae + 19 Ideopsis vulgaris (The Blue Glassy Tiger) Nymphalidae + 20 Jamides celeno (Common Cerulean) Lycaenidae ++ 21 Junonia almana (The Peacook Pansy) Nymphalidae +++ 22 Junonia atlites (The Grey Pansy) Nymphalidae +++ 23 Junonia hedonia (Chocolate Pansy) Nymphalidae + 24 Leptosia nina (The Psyche) Pieridae +++ 25 Melanitis leda (The Evening Brown) Nymphalidae ++ 26 Miletus symethus (The Great Brownie) Lycaenidae + 27 Neptis hylas (The Common Sailer) Nymphalidae ++ 28 Orsotriaena medus (The Nigger) Nymphalidae ++ 29 Papilio demoleus (The Lime Butterfly) Papilionidae + 30 Papilio helenus (The Red Helen) Papilionidae ++ 31 Papilio memnon (The Great Mormon) Papilionidae +++ 32 Papilio peranthus (The Swift Peacok) Papilionidae + 33 Papilio polythes (The Common Mormon) Papilionidae +++ 34 Parantica melaneus (The Chocolate Tiger) Nymphalidae ++ 35 Tanaecia pelea (The Viscount) Nymphalidae + 36 Taractrocera archias (Yellow Grass Dart) Hesperiidae + 37 Ypthima pandocus (The Common Three Rings) Nymphalidae ++ *) + Jarang; ++ sedang, +++ sering Sumber: Data Primer (2017)

11 A.A.G. Raka Dalem, Martin Joni Jenis-jenis Kupu-Kupu yang Ditemukan di Kawasan Pariwisata Ubud, Bali

Kupu-kupu dari famili Papilionidae memiliki ukuran sayap yang besar, dengan perpaduan corak warna beragam, misalnya warna hitam, putih, hijau, merah dan kuning. Famili ini sering disebut sebagai swallowtails butterflies karena ada beberapa jenis yang memiliki perpanjangan sayap menyerupai ekor burung walet di ujung sudut sayap belakangnya. Selain itu, famili ini sering juga disebut dengan nama birdwing butterflies karena cara terbangnya melayang seperti burung. Kupu-kupu pada famili ini umumnya memiliki pola warna sayap yang sama antara jantan dan betina, namun pada beberapa jenis memiliki perbedaan pola warna antara yang jantan dan betina (dimorfisme), serta ada pula yang memiliki pola warna beragam pada beberapa jenis kupu-kupu betina (polymorfisme).

Kupu-kupu famili Pieridae umumnya memiliki ukuran yang kecil hingga sedang dan corak warna didominasi oleh warna putih, atau kuning. Warna yang jantan lebih terang dibandingkan dengan warna yang betina. Kupu-kupu dari famili ini sangat menarik perhatian karena biasanya terbang berpasangan ataupun berkelompok.

Kupu-kupu famili Lycaenidae memiliki tubuh berukuran kecil, dengan bercak pada sayapnya mengkilap dan umumnya berwarna cerah, misalnya biru, ungu, dan oranye. Perbedaan antara yang jantan dan betina dapat dilihat dari pola warna sayap, dimana kupukupu jantan memiliki pola warna lebih terang daripada kupu-kupu betina serta bentuk sayap kupu- kupu betina lebih bulat dibandingkan kupu-kupu jantan. Kupu-kupu dari famili ini terbang dan mudah dijumpai di daerah terbuka saat hari sedang cerah.

Kupu-kupu famili Hesperiidae memiliki kepala dan kaki yang kokoh serta badan berbulu dan sayap berbintik. Kupu-kupu jenis ini sering disebut skippers, aktif pada saat matahari mulai terbit dan akan terbenam. Menurut Lilies S. [2], skippers ini merupakan kupu-kupu yang bersisik tebal serta terbangnya cepat.

Jenis kupu-kupu yang ditemukan ada 37 jenis masih termasuk dalam rentang studi lainnya di Bali. Jumlah ini lebih banyak daripada yang dilaporkan oleh Prima WS yang menemukan 29 jenis di pulau Serangan (2017), Handayani [8] melaporkan 32 jenis di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, tetapi lebih sedikit daripada yang dilaporkan oleh Rahayu [7] yaitu 46 species di Teluk Terima (Taman Nasional Bali Barat/TNBB). Jenis species hasil penelitian yang ini lebih tinggi daripada hasil penelitian di luar Bali yaitu di Taman Kehati Unnes yang dilaporkan oleh Priyono dan Abdulah [17] yang hanya menemukan 33 species kupu-kupu, tetapi lebih sedikit daripada yang di Manembo-Nembo Wildlife Reserve di Sulawesi Utara yang dilaporkan oleh Koneri and Maabuat [19] yang menemukan 44 jenis kupu-kupu di sana.

Dari hasil penelitian ini nampak bahwa jenis yang sering ditemukan adalah: E. hypermnestra, Eurema sp., J. almana, J. atlites, L. nina, P. memnon, dan P. polythes. Sedangkan jenis kupu-kupu yang jarang ditemukan adalah: H. glaucippe, A. perius, C. pomona, C. bernardus (polyxena), D. bisaltide, G. agamemnon, G. doson, G. sarpedon, H. irava, H.

12 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636 bolina, I. vulgaris, J. hedonia, M. symethus, P. demoleus, P. peranthus, T. pelea, dan T. archias. (Tabel 1).

Kupu-kupu A. phidippus memiliki permukaan atas yang berwarna coklat. Permukaan bawahnya berpola, yang nampak seperti pita (ribbon) keputihan, berwarna kemerahan, atau seperti coklat kayu yang nampak dalam band yang lebih sempit. Sayap belakangnya memiliki ocelli submarginal (yang nampak seperti bintik mata) yang besar. Ocelli ini diperkirakan bermanfaat untuk mengecoh individu lain termasuk predator, karena nampak seperti mahluk yang bermata besar [21].

Dalam pengamatan peneliti, kupu-kupu A. phidippus cukup sulit terlihat karena sangat baik berkamuflase dari segi warna dengan warna batang pohon maupun dedaunan yang sudah berwarna kecoklatan, misalnya daun pisang kering (yang dikenal dengan kraras dalam bahasa lokalnya). Unpublished data Raka Dalem (2015) menunjukkan kupu-kupu ini juga teramati antara lain di batang pohon kelapa dan nampak secara bagus menyatu berkamuflase dengan batang pohon ini di sekitar Subak Sok Wayah, Ubud. Personal observasi juga menunjukkan bahwa kupu-kupu ini nampak hinggap di dalam rumah di sekitar Tampak Siring (Gianyar) pada siang hari tanggal 11 November 2017.

Menurut Mason [3], The Great Orange Tip atau H. glaucippe nama ilmiahnya, berasal dari family Pieridae. Kupu-kupu ini berwarna kuning dan putih [22]. Menurut Mason [3] kupu- kupu betina nampak agak lebih gelap dengan tepian hitam serta bintik-bintik yang jelas (prominent black border) pada sayap belakang (hindwings) dan bentuk musim penghujan (wet season forms) cenderung jauh lebih besar daripada yang ditemukan pada musim kemarau (the dry). Menangkap yang jantan tidaklah mudah karena dia biasanya terbang pada level puncak kanopi (treetop level), dan hanya sewaktu-waktu menukik turun (swooping down) untuk mendapatkan madu, sementara yang betina tingkah lakunya agak berbeda, lingering (berlama- lama) dekat tumbuhan yang dibutuhkan pada fase larvanya (the larval food plant).

Kupu-kupu H. glaucippe memiliki bentuk dimorphism seperti juga beberapa jenis kupukupu lainnya yang teramati dalam penelitian ini, diantaranya pada A. perius, E. mulciber, H. bolina, I. vulgaris, E. nesaea, dan pada J. celeno. Bahkan pada P. memnon, dan P. polythes betinanya bersifat polimorfik. Dan D. chrysippus juga merupakan spesies polimorfik.

Kupu-kupu A. perius menampakkan dimorphism. Kupu-kupu yang jantan memiliki sayap hitam dengan serangkaian tanda putih, sedangkan yang betina berwarna coklat kehitam- hitaman. Bagian bawah sayapnya berwarna kuning oker dengan tanda putih seperti pada bagian atasnya, namun agak marginal dan ada warna hitamnya [23].

Kupu-kupu C. pomona warnanya berkisar dari hijau pucat sampai oranye-kuning bergaris hitam. Kupu-kupu yang jantan memiliki tanda hitam sempit di bagian depan dan tidak bertanda di bagian bawahnya. Ulat kupu-kupu ini sering ditemukan di tumbuhan Leguminosae, khususnya Senna sp. [24]. Rahayu [7] melaporkan bahwa kupu-kupu jenis ini yang jantan

13 A.A.G. Raka Dalem, Martin Joni Jenis-jenis Kupu-Kupu yang Ditemukan di Kawasan Pariwisata Ubud, Bali

nampak ada warna kekuningan di pangkal kedua sayapnya pada bagian atasnya, sedangkan pada yang betina warna ini tidak nampak. Charaxes bernardus (Mason [3]) memiliki lebar sayap sekitar 7-9 cm. Bagian atas sayapnya berwarna cokelat kemerahan atau coklat pucat, dengan bintik-bintik coklat tua / hitam di ujung sayap dan tanda hitam kecil di pinggir sayap belakangnya. Di bagian bawah sayap ada seperti garis bergelombang atau cokelat yang tidak beraturan dan seperti pita zig zag keputih-putihan. Kupu-kupu jantan dan betina nampak sangat mirip [25].

Cupha erymanthis adalah merupakan kupu-kupu coklat oranye dengan discal patch kuning lebar khas di sayap depannya yang diikuti oleh wilayah apikal hitam yang lebar. Bagian bawah spesies ini lebih pucat daripada bagian atasnya, namun dengan ciri serupa seperti di atas [26].

Danaus chrysippus merupakan kupu - kupu berukuran sedang dengan lebar sayap sekitar 7-8 cm (atau 2,8-3,1 inchi). Tubuhnya hitam dengan bintik-bintik putih. Sayapnya berwarna oranye, bagian atas lebih terang dari pada bagian bawahnya. Setengah apikal dari sayap depan berwarna hitam dengan band yang nampak berwarna putih. Sayap belakangnya memiliki tiga titik hitam di tengahnya. Sayap bertepian hitam dan dengan bintik-bintik putih berderet setengah lingkaran. Danaus chrysippus adalah spesies polimorfik [27].

Danaus genutia memiliki warna yang sama seperti The Plain Tiger dan bentuk putih dan oranye yang serupa terdapat pada species The Orange Tiger dan The Plain Tiger. Vena spesies ini ditandai dengan warna hitam, sehingga terkadang sangat susah dalam membedakannya dengan Black Veined Tiger. Bentuk putih, form-intermedius, memiliki sayap belakang berwarna oranye dengan border putih. Bentuk-genutia memiliki sayap belakang berwarna seperti pada sayap depan. [28].

Pada bagian atas dari D. bisaltide, sayapnya berwarna oranye coklat namun dengan sayap depan melebar di puncaknya. Ada empat sampai lima titik putih di puncak hitam sayap depan. Garis hitam-hitam yang tidak teratur mencapai tepian/margin distal yang hitam. Di bawahnya, sayapnya berwarna coklat keabu-abuan dan ditandai dengan berbagai goresan berbentuk / seperti tempelan yang tidak beraturan dengan warna yang berbeda. Tornus sayap belakang menonjol seperti ekor pendek, dan sangat membantu kupu-kupu dewasa yang sedang beristirahat (dengan sayap tertutup) untuk berkamuflase, karena nampak mirip menyerupai daun [29].

Elymnias hypermnestra di bagian atasnya berwarna kebiruan-hitam dengan sederet bintik submarginal biru pada sayap depan. Bagian bawahnya berwarna cokelat berbintik-bintik dengan warna yang lebih terang "thumb-print" di bagian puncak sayap depannya. Ada juga titik putih pada costa sayap belakang [30].

Elymnias nesaea memiliki lebar sayap sekitar 65-85 milimeter (2,6-3,3 inchi). Bagian atas sayapnya berwarna hitam dengan garis-garis hijau kebiruan yang panjang. Sisi lain

14 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636 menunjukkan empat atau lima titik di wilayah apikal, sementara sayap belakangnya memiliki bintik keputihan di sekitar posteriornya. Bagian bawahnya memiliki area coklat tua yang luas pada kedua sayapnya. Pada yang betina, bagian bawahnya berwarna putih dengan naungan coklat atau kekuning-kuningan [31].

Pada bagian atas E. mulciber jantan berwarna biru cerah pada sayap depannya dengan bintik-bintik putih yang menyebar di bagian distal; sedangkan pada kupu-kupu betina berwarna biru dengan bintik putih tertanam di bagian distal dari sayap depan dan beberapa bintik putih dan seperti coretan di dasar basal coklat. Kedua jenis kelamin memiliki sayap belakang yang coklat dengan betina memiliki garis-garis putih sempit tambahan yang disusun sesuai dengan spesies Ideopsis. Di bawahnya, sayapnya berwarna coklat dengan bintik putih / seperti coretan yang disusun serupa dengan yang ada di bagian atas meskipun ukuran bintik / coretannya bervariasi [32].

Eurema sp. dikenal sebagai kupu-kupu belerang atau kupu-kupu kuning yang merupakan sebutan bagi sekelompok kupu-kupu berukuran kecil dari marga Eurema, anggota suku Pieridae. Namanya diperoleh karena warnanya yang kuning terang, menyerupai warna belerang. Sebutan umumnya dalam bahasa Inggris adalah Grass Yellow [33]. Eurema sp. merupakan kupu-kupu yang sering ditemukan di lokasi penelitian ini. Nampaknya dalam penilaian penulis, kupu-kupu jenis ini juga cukup sering ditermukan di wilayah lainnya di Bali.

Graphium agamemnon memiliki sayap depan berwarna hitam. Ada banyak bintik hijau. Bintik-bintik yang terdekat ke arah tubuh kupu-kupu itu seperti mengembun ke arah pita hijau kecil. Bagian bawahnya adalah seperti salinan bagian atasnya, tetapi dasarnya berwarna coklat. Sayap belakangnya berwarna hitam dan memiliki ekor pendek. Marginnya bergerigi. Ada dua rantai bintik hijau di sayap. Di tepi dalam ada dua garis hijau. Bagian bawahnya adalah seperti salinan dari bagian atasnya, tetapi dasarnya berwarna coklat dan bintik hijaunya lebih gelap daripada bagian atasnya. Tubuhnya hitam, tetapi bagian bawah berwarna abu-abu. Perbedaan jenis kelamin: Tidak ada [34].

Sayap depan G. doson berwarna hitam. Di tepi luar dan di tepi dalamnya ada rantai bintik- bintik kehijauan kecil. Di tengah sayapnya ada rantai bintik-bintik kehijauan besar. Bagian bawahnya berwarna coklat dan semua titik pucat. Sayap belakang G. doson berwarna hitam. Tepinya bergelombang. Di tepi luarnya ada rangkaian bintik-bintik kehijauan kecil. Di samping tubuhnya ada wilayah yang kehijauan besar yang hanya berisi satu strip hitam. Ada beberapa titik merah tambahan di bagian bawahnya. Tubuh (perutnya) berwarna hitam. Bagian dada dan kepalanya juga berwarna hitam [35].

Sayap G. sarpedon berwarna hitam di bagian atasnya dan coklat di bagian bawahnya, dengan patch (pahatan) turquiose yang besar di tengah sayap depan dan belakangnya. Patch ini nampak membentuk segitiga, dengan apeks mengarah ke tubuh. Bagian bawah sayap juga ditandai dengan patch (pahatan) turquiose, dan masing-masing sayap belakang memiliki beberapa titik merah di bagian bawahnya [36].

15 A.A.G. Raka Dalem, Martin Joni Jenis-jenis Kupu-Kupu yang Ditemukan di Kawasan Pariwisata Ubud, Bali

Hidari irava kaya akan warna coklat tua di bagian atas dengan bintik-bintik kuning pucat di sayap depannya. Di sisi bawahnya, sepertiga apikal dari forewing (sayap depannya) dan seluruh sayap belakangnya nampak berwarna kuning-coklat pucat [37].

Hypolimnas bolina adalah kupu-kupu bertubuh hitam dengan lebar sayap sekitar 70-85 mili meter (2,8-3,3 inchi). Spesies ini memiliki tingkat dimorfisme seksual yang tinggi . Betina identik dengan banyak bentuk (polimorphs). Perbedaan antara yang jantan dan betina adalah terletak pada yang jantan bagian atas sayapnya berwarna hitam pekat, diimbangi dengan tiga pasang bintik putih, dua di sisi depan dan satu lagi di hindwing (sayap belakang). Bintik-bintik ini dikelilingi oleh iridescence ungu. Selain itu, bagian atas sayap belakang mengandung serangkaian titik putih kecil. Pada bagian atas sayap betina berwarna hitam kecoklatan dan tidak memiliki bintik seperti yang jantan. Tepi-tepinya memiliki tanda putih yang serupa dengan yang dimiliki oleh The Common Crow [38].

Pada bagian atas I. vulgaris, sayapnya sebagian besar berwarna abu-abu kebiruan dengan veins dan semua marginnya menghitam. Di sayap belakang, garis abu-abu kebiruan di dalam sel membentuk V sempit dengan puncaknya mengarah ke basis sayap. Di sayap depan, ada seperti batang hitam melintang menuju ujung sel distal. Di bawahnya, tanda-tanda itu menyerupai yang ada di bagian atas tetapi dalam warna yang lebih ringan. Kupu-kupu yang jantan memiliki pola yang berbeda di dekat wilayah sub-tornal sayap belakang [39].

Jamides celeno berwarna biru metalik terang di bagian atas dengan bagian bawah abu-abu dan berstrip (striae) putih. Betina memiliki batas hitam lebar di bagian atas dan hampir berwarna putih. Seperti kebanyakan spesies dalam genus, Caerulean biasa memiliki ekor berujung putih di vein 2 di sayap belakang, dan titik mata oranye di sayap belakang di bawahnya [40].

Junonia almana merupakan kupu-kupu yang memiliki sisi atas oranye terang dengan bintik mata menonjol di sayap belakang. Bagian bawahnya agak pucat, namun dengan bintik mata masih agak menonjol [41].

Junonia atlites berwarna abu-abu buff (kuning-coklat) pucat di bagian atasnya, dengan ocelli merah muda / hitam. Bagian bawahnya lebih pucat dan tanda-tandanya sangat faint (lemah). Ulatnya diketahui memakan Hygrophila [42].

Sayap kupu-kupu Junonia hedonia dewasa berwarna coklat dengan pola garis dan lingkaran zig-zag yang lebih gelap. Ada bintik putih yang tidak jelas dekat ujung sayap pada sayap depannya (fore wings). Di bawahnya, warnanya cokelat dengan tanda-tanda redup, kecuali sederet bintik putih pada masing-masing sayap belakang. Kupu-kupu ini memiliki rentang sayap hingga 6 cm [43].

16 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636 Bagian atas L. nina berwarna putih. Sayap depannya dengan apeks hitam dan memiliki discal spot berbentuk mutiara hitam yang besar. Bagian bawah sayap belakangnya memiliki garis-garis hijau yang kehijauan / hijau kecoklatan yang halus. Kupu-kupu ini terbang dengan lemah dan tidak menentu arahnya (erratic). Kupu-kupu ini terbang rendah di atas rerumputan serta kupu-kupu ini jarang meninggalkan permukaan tanah [44].

Kupu-kupu M. leda dewasa memiliki dua bentuk: bentuk musim dingin (musim kering) berwarna coklat tua dengan patch oranye yang mengandung bintik mata ganda di dekat ujung masing-masing sayap depannya. Ini biasanya memiliki satu bintik mata tunggal di bagian atas setiap sayap belakangnya. Setiap sayap memiliki tepian sayap yang berlekuk atau recurved margin. Bentang sayapnya sekitar 7 cm. Bentuk musim panasnya (basahnya) lebih pucat. Bagian bawah (dari kedua bentuk) memiliki tampilan bervariasi: umumnya warnanya agak kecoklatan (cryptic brown) dengan sejumlah bintik mata kecil [45].

Miletus symethus merupakan kupu-kupu kecil, dengan lebar sayap 40-50 mm. Bagian atas dari sayap depannya (upper forewing) pada kedua jenis kelamin memiliki sejenis pita putih lebar yang membentang sampai ke tepian dorsal (dorsal margin), tepi atasnya bersudut tajam pada vena 3 (vein 3). Bagian atas sayap belakang memiliki garis streak pucat [46].

Neptis hylas memiliki bentuk musim kering sebagai berikut: Di kedua jenis, jantan dan betina, bagian atasnya hitam dengan tanda putih. Sayap depan: garis lebar di sel-selnya, persegi di puncak dan titik segitiga besar yang menonjol di luar puncak sel; serangkaian bintik diskal, terpisah dengan baik; dan serangkaian bintik kecil postdiscal, tidak lengkap. Sayap belakang: pita sub-basal, garis pucat dan subterminal yang tidak jelas; rangkaian post discal dari titik- titik persegi yang terpisah dengan baik. Bagian bawahnya: coklat keemasan ke dark chesnut, tanda putih seperti pada bagian atas yang ditentukan oleh garis hitam. Sayap depan: dengan interspace 1 berbayang dengan warna hitam, beberapa tanda putih sempit di kedua sisi rangkaian bintik-bintik postdiscal. Sayap belakangnya: garis putih pada margin kosta di dasar dan streak lain di bawahnya, garis pucat discal dan subterminal dari bagian atas diganti dengan garis putih sempit dengan sedikit tepian warna hitam. Tubuh di bawah, putih pucat. Bentuk musim basah - memiliki tanda putih yang sempit dan margin hitam yang lebih lebar, dengan warna dasar lebih gelap [47].

Sayap kupu-kupu O. medus dewasa berwarna coklat tua, dengan garis pucat samar di setiap sayapnya. Bagian bawahnya serupa, kecuali masing-masing sayap memiliki setidaknya dua titik mata. Kupu-kupu ini memiliki lebar sayap sekitar 4 (empat) cm. Ulatnya bermacammacam: putih, merah jambu, kuning atau hijau. Ulat ini memiliki dua pasang tanduk di kepala, dan dapat tumbuh sampai panjang sekitar 4 cm [48].

Sayap depan P. demoleus berwarna hitam. Di tepi luarnya ada rantai bintik kuning. Di samping tubuh ada empat rantai bintik kuning kecil. Ada beberapa bintik kuning lainnya di sayap yang lainnya. Bagian bawah P. demoleus sangat mirip dengan bagian atasnya. Di samping tubuhnya ada empat garis kuning. Sayap belakang P. demoleus berwarna hitam.

17 A.A.G. Raka Dalem, Martin Joni Jenis-jenis Kupu-Kupu yang Ditemukan di Kawasan Pariwisata Ubud, Bali

Tepinya bergelombang (wavy). Sayap di sebelah badannya bersisik kuning. Sayap didominasi oleh band kuning yang luas. Band ini berisi mata besar. Di tepi luar ada lima titik kuning. Di tepi dalam ada titik mata merah. Bagian bawahnya mirip dengan sisi atas, tetapi semua tanda kuning lebih besar daripada tanda di bagian atas. Di samping tubuhnya ada wilayah berwarna kuning dengan garis hitam. Di tengah sayap ada bintik-bintik biru dan oranye. Tubuhnya hitam, tetapi bagian bawahnya berwarna kuning [49].

Hasil pengamatan P. demolius, selain ditemukan pada studi ini, juga ditemukan oleh Rahayu [7] di Teluk Terima, Taman Nasional Bali Barat. Kupu-kupu ini ditemukan hinggap di pohon gamal (Gliricidia sepium). Sementara itu P. demolius tidak ditemukan dalam studi Handayani [8] di Kebu Raya Eka Karya Bedugul.

Papilio helenus berukuran besar, bertubuh hitam dan berekor dengan bercak putih membentang menjadi tiga sel di bagian atas dan bawah sayap belakang dengan rantai bintik merah kecil di tepi luarnya. Bagian bawah sayap depannya berwarna coklat tua dengan banyak tanda garis putih sampai kuning. Selama musim hujan, kupu-kupu ini kehilangan bintik merah di bagian atas sayap belakangnya, tetapi ini tetap ada di sisi bawahnya. Kupukupu ini dapat ditemukan di tepian hutan, dan biasanya di sekitar genangan air di sepanjang sungai [50].

Kupu-kupu P. memnon merupakan kupu-kupu berukuran relatif besar dengan rentang sayap (wingspan) sampai 135 mm. Species kupu-kupu ini bersifat polimorfik, terutama yang betinanya sangat beragam bentuk dan warnanya. Bentuk jantannya ada 4. Variasi morfologi yang betina antara lain termasuk diantaranya: keberadaan atau tidak adanya ekor, pola sayap belakang, warna dasar dari segitiga pada sayap depan, serta warna abdomennya. Kupu-kupu yang jantan bagian atasnya berwarna biru tua sampai hitam. Kemungkinan tidak memiliki garis merah di sayap depannya pada dasar selnya (base of the cell). Betinanya memiliki warna dasar sepia pada sayap depannya, dengan goresan (streaked) warna putih keabu-abuan. Bagian basal dari sel ketiga berwarna merah dan ada sentuhan ke arah luar dengan warna putih. Bagian atas sayap belakangnya berwarna biru-hitam. Ia memiliki 5-7 kepingan/goresan (patches) discal warna kuning atau putih [51].

Papilio peranthus merupakan kupu-kupu dari Famili Papilionidae yang memiliki lebar sayap 70 – 90 mm. Kupu-kupu hitam dengan permainan warna hijau. Sayap belakang memiliki ekor. Kupu-kupu ini besifat diurnal. Kupu-kupu jantan sering mendatangi genangan air dan pasir basah di sepanjang sungai. Dia menarik garam natrium yang diperlukannya untuk menarik yang betina [52].

Bagian atas P. polythes berwarna kusam, berwarna agak hitam kecoklatan. Bagian bawah: sayap depan buram berwarna coklat tua, coretan internervikel lebih lebar, lebih menonjol daripada di bagian atas. Silia hitam bergantian dengan warna putih. Antena, kepala, dada dan perut hitam. Jantan hanya memiliki satu bentuk. Kupu-kupu ini memiliki bagian sayap seperti ekor burung walet berwarna gelap. Bagian atas sayap depan memiliki rangkaian bintik putih

18 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636 yang menurun ukurannya menuju puncak. Bagian atas sayap belakangnya lengkap memiliki discal band dengan bintik-bintik putih memanjang. Bagian atas sayap belakang ini mungkin memiliki atau tidak memiliki crescents tepian merah. Kupu-kupu jantan umumnya berukuran lebih kecil dari pada yang betina walaupun tidak selalu demikian. Semua jantan dan betina Papilio polytes dapat bervariasi dalam ukuran tergantung pada iklim dari suatu wilayah. Kupu- kupu betina bersifat polimorfik [53].

Pada P. melaneus, baik itu yang jantan maupun yang betina, sayapnya nampak memanjang (elongated). Sisi atas sayap depan: hitam, sayap belakang coklat sangat gelap dengan bintik- bintik dan coretan putih kebiruan pucat. Bagian bawah sayap depan berwarna hitam dengan apeks berwarna coklat kastanye yang cerah (bright chesnut brown). Sayap belakang berwarna coklat kastanye cerah (bright chesnut brown). Kepala dan thoraks berwarna hitam bernintik- bintik putih, perutnya berwarna coklat kekuningan [54].

Tanaecia pelea memiliki lebar sayap mencapai sekitar 65-70 mm (2,6 - 2,8 inchi). Warna dasar sayap bagian atasnya berwarna coklat pucat dengan tepian warna kebiruan mutiara. Sayap ini memiliki pertanda warna coklat gelap pada wilayah basalnya dan memiliki serangkaian tanda discal bertepian coklat gelap yang kencang (a discal series of dark brownedged hastate markings) [55].

Taractrocera archias dikenal sebagai Yellow Grass Dart. Taractrocera spp. tidak memiliki apiculus (yang menghubungkan di ujung antena) [56]. Ypthima pandocus berwarna coklat keabu-abuan pada bagian atasnya dengan ocellus sub-apikal yang besar pada sayap depannya. Bagian bawahnya berwarna coklat-kuning pucat (pale buff brown), dengan striasi gelap yang halus. Sayap belakangnya memiliki tiga ocelli hitam dengan lingkaran kuning [57].

Dari data pada Tabel 1 nampak bahwa tidak ada jenis kupu-kupu yang dilindungi yang teridentifikasi di wilayah studi. Jadi tidak ditemukannya jenis kupu-kupu yang langka/terancam punah di kawasan pariwisata Ubud.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keneradaan kupu-kupu, antara lain: (1) Berkurangnya habitat yang disebabkan tingginya konversi kawasan sawah dan kawasan terbuka hijau bervegetasi menjadi bangunan juga diperkirakan berpengaruh terhadap keberadaan kupu-kupu ini. Hal ini diperkirakan berpengaruh terhadap hostplant maupun foodplant yang ada. (2) Dari hasil pengamatan nampak bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kupu-kupu di wilayah kawasan pariwisata Ubud antara lain adalah faktor manusia, dengan sistem pertanian yang sebagian besar menerapkan pertanian non-organik yang mana pestisida yang digunakan kemungkinan membunuh kupu-kupu baik dalam berbagai tingkatan hidup/stadium. (3) Predator berupa burung, kucing, laba-laba, dan lain-lain juga ditemukan di wilayah studi. (4) Dilihat dari segi suhu dan kelembaban udara kemungkinan tidak terlalu berpengaruh terhadap keberadaan kupu-kupu di wilayah kawasan pariwisata Ubud, karena masih dalam kisaran suhu dan kelembaban yang ideal bagi kehidupan kupu-kupu. Namun hasil yang pasti terkait dengan suhu dan kelembaban udara ini perlu diteliti lebih lanjut.

19 A.A.G. Raka Dalem, Martin Joni Jenis-jenis Kupu-Kupu yang Ditemukan di Kawasan Pariwisata Ubud, Bali

4. SIMPULAN DAN SARAN

Dalam penelitian ini berhasil diidentifikasi 37 species kupu2, yang terdiri dari: dua species dari famili Hesperiidae, dua species dari Famili Lycaenidae, 21 species dari Famili Nymphalidae, delapan species dari Famili Papilionidae, dan empat species dari Famili Pieridae. Jenis-jenis yang ditemukan adalah sebagai berikut.

Dari famili Papilionidae yang ditemukan adalah terdiri dari species: G. agamemnon, G. doson, G. sarpedon, P. demoleus, P. helenus, P. memnon, P. peranthus, dan P. polythes. Untuk family Nymphalidae, terdiri dari species: A. phidippus, A. perius, C. bernardus, C. erymanthis, D. chrysippus, D. genutia, D. bisaltide, E. hypermnestra, E. nesaea, E. mulciber, H. bolina, I. vulgaris, J. almanac, J. atlites, J. hedonia, M. leda, N. hylas, O. medus, P. melaneus, T. pelea, dan Y. pandocus. Untuk famili Pieridae terdiri dari species: H. glaucippe, C. pomona, Eurema sp., dan L. nina. Untuk famili Lycaenidae terdiri dari species: J. celeno, dan M. symethus. Untuk famili Hesperiidae terdiri dari species: H. irava dan T. archias.

Dari hasil penelitian ini nampak jenis kupu-kupu yang sering ditemukan adalah: E. hypermnestra, Eurema sp., J. almana, J. atlites, L. nina, P. memnon, dan P. polythes. Sedangkan jenis kupu-kupu yang jarang ditemukan adalah: H. glaucippe, A. perius, C. pomona, C. bernardus, D. bisaltide, G. agamemnon, G. doson, G. sarpedon, H. irava, H. bolina, I. vulgaris, J. hedonia, M. symethus, P. demoleus, P. peranthus, T. pelea, dan T. archias.

Dari data di atas, nampak bahwa tidak ada jenis kupu-kupu yang dilindungi yang teridentifikasi di wilayah studi. Jenis kupu-kupu yang ditemukan dalam studi ini sebanyak 37 jenis masih termasuk dalam rentang studi lainnya di Bali. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan kupu-kupu di wilayah kawasan pariwisata Ubud, antara lain: keadaan habitat berupa hostplant dan foodplant, penggunaan pestisida, keberadaan predator, dan lainlain.

Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang potensi kupu-kupu dalam pengembangan pariwisata alam dan ekowisata di kawasan pariwisata Ubud. Penelitian agar dilakukan dalam kurun waktu (musim) yang lain atau dalam periode waktu yang lebih panjang.

DAFTAR PUSTAKA

[1] W. Landman. The Complete Encyclopedia of Butterflies. UK: Grange Books. 2001. [2] C. Lilies S., C. Kunci determinasi serangga. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1992. [3] V. Mason. Butterflies of Bali. Bali: Saritaksu Editions, 2005. [4] R. B. J. Primack, M. Supriatna, Indrawan, dan P. Kramadibrata. 1998. Biologi Kosnervasi. 345 pp. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1998. [5] A.A.G. Raka Dalem. Ecotourism in Indonesia. Pp. 85-97. Ed. By. Tor Hundloe. Japan: Asian Productivity organization, 2002.

20 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636 [6] I. Y. Wafa, S. E. Rahayu dan Masjhudi. Kajian Jenis dan Ekologi Kupu-Kupu di Taman Wisata Alam Gunung Baung, Kec. Purwodadi, Kab. Pasuruan. Jurnal Online. Universitas Negeri Malang. Sumber: jurnal-online.um.ac.id/.../artikel/artikelF4C405ADCC6C71567A59 C10B60B CA6D9.d..., disitasi 03 02 2017. 2016. [7] N. M. Rahayu, Inventarisasi kupu-kupu (Lepidoptera; Papilionoidea) di teluk Terima Taman Nasional Bali Barat. Skripsi. Bukit Jimbaran: Jurusan Biologi, Fmipa, Universitas Udayana. 1999. [8] N. S. Handayani. Inventarisasi kupu-kupu (Lepidoptera; Papilionoidea) di Kebun Raya Eka Karya Bali Baturiti, Tabanan. Skripsi. Bukit-Jimbaran: Jurusan Biologi, Fmipa, Universitas Udayana. 1999. [9] P. R. Yuliana. Taman Kupu-kupu Bali sebagai daya tarik wisata edukasi di kabupaten Tabanan. Skripsi. Prodi S1 Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana, Bali. Sumber: erepo.unud.ac.id/10368/1/ 1919290689b7ecdd1e4ce6f339cc6d2f.pdf. disitasi 03 01 2017. 2015. [10] N. A. Maulidia. Media Pelatakan Telur dan Siklus Hidup Graphium agamemnon L. (Lepidoptera: Papilionidae) pada Tanaman Glodokan di Kampus I Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi. Prodi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011. [11] T. H. Sulistyani. Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu (Lepidoptera: Rhopalocera) di Kawasan Cagar Alam Ulolanang Kecubung Kabupaten Batang. Skripsi. Jur. Biologi, Fmipa, Universitas Negeri Semarang. 2013. [12] B. Dendang. Keragaman Kupu-Kupu di Resort Selabintana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (The Diversity of Butterflies in Selabintana Resort, Gunung Gede Pangrango National Park, West Java. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam 6(1): 2536. 2009. [13] L. D. Handayani, R. Yolanda dan F. Y. Ade. Jenis Kupu-Kupu (Rhopalocera) di Kawasan Komplek Pemda Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu Riau. Prodi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Pasir Pengaraian. https://media.neliti.com/media/publications/111721-ID- jenis-kupukupu-rhopalocera-di-kawasan-k.pdf , diakses 6 November 2017. 2017. [14] E. Bibas, A. Muhammad, dan D. Salbiah. 2016. Keanekaragaman Kupu-Kupu di Kawasan Gunong Bonsu, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Jurnal Riau Biologia 1(6): 39-43. 2016. [15] D. Peggie. Diversitas dan pentingnya kupu-kupu Nusa Kambangan (Jawa-Indonesia). Zoo Indonesia Jurnal Fauna Tropika 23 (1): 45-55. 2014. [16] H. Suryanto. Keseuaian media tabur, sapih dan naungan pada semai lada-lada (Micromelum minutum Wight & Arn) sebagai pakan larva Papilio peranthus untuk pembinaan habitat kupukupu. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 4(2): 179-184. 2015. [17] B. Priyono dan M. Abdulah. Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu di Taman Kehati Unnes (Butterfly Species Diversity in the Unnes Biodiversity Garden). Journal of Biology and Biology Education “Biosaintifika” 5 (2): 100-105. 2013. [18] E. Tambaru. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pakan larva kupu-kupu di kawasan Taman Nasional Bantimurung, Bulusaraung, Maros. Jurnal Alam dan Lingkungan Vol 6 (11) Maret 2015: 22-27. 2015. [19] R. Koneri and P. V. Maabuat. Diversity of Butterflies (Lepidoptera) in Manembo-Nembo Wildlife Reserve, North Sulawesi, Indonesia. Pakistan Journal of Biological Sciences 19: 202210. 2016. [20] R. G. Bland and H. E. Jaques. How to know the . 3rd ed. Iowa, USA: W. C. Brown Company Publishers. 1978. [21] http://www.butterflycircle.com/checklist/showbutterfly/92, diakses 5 November 2017. [22] https://en.wikipedia.org/wiki/Hebomoia_glaucippe, diakses 19 11 2017. [23] https://en.wikipedia.org/wiki/Athyma_perius, diakses 5 November 2017.

21 A.A.G. Raka Dalem, Martin Joni Jenis-jenis Kupu-Kupu yang Ditemukan di Kawasan Pariwisata Ubud, Bali

[24] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=945, akses 5 Nov 2017. [25] https://en.wikipedia.org/wiki/Charaxes_bernardus, diakses 5 November 2017. [26] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=989, akses 5 Nov 2017. [27] https://en.wikipedia.org/wiki/Danaus_chrysippus, diakses 5 November 2017. [28] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=955, akses 5 Nov 2017. [29] http://butterflycircle.blogspot.co.id/2011/07/life-history-of-autumn-leaf.html, akses 5 Nov 2017. [30] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=968, akses 5 Nov 2017. [31] https://en.wikipedia.org/wiki/Elymnias_nesaea, diakses 5 November 2017. [32] http://butterflycircle.blogspot.co.id/2012/04/life-history-of-striped-blue-crow.html, 5 Nov 2017. [33] https://id.wikipedia.org/wiki/Kupu-kupu_belerang, diakses 5 November 2017. [34] http://en.butterflycorner.net/Graphium-agamemnon-Tailed-Jay-Green-spotted-Triangle- Butterfly .541.0.html?&L=0, diakses 5 November 2017. [35] http://indiabiodiversity.org/species/show/256592, diakses 5 November 2017. [36] http://indiabiodiversity.org/species/show/256590, diakses 5 November 2017. [37] http://www.butterflycircle.com/checklist/showbutterfly/258, diakses 5 November 2017. [38] https://en.wikipedia.org/wiki/Hypolimnas_bolina, diakses 5 November 2017. [39] http://butterflycircle.blogspot.co.id/2012/02/life-history-of-blue-glassy-tiger.html, 5 Nov. 2017. [40] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=1036, akses 5 11 2017. [41] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=985, akses 5 11 2017. [42] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=984, akses 5 Nov 2017. [43] http://lepidoptera.butterflyhouse.com.au/nymp/hedonia.html, diakses 5 November 2017. [44] http://eol.org/pages/179908/details, diakses 5 November 2017. [45] http://lepidoptera.butterflyhouse.com.au/nymp/leda.html, diakses 5 November 2017. [46] http://eol.org/pages/258238/details, diakses 5 November 2017. [47] http://indiabiodiversity.org/species/show/256485, diakses 5 November 2017. [48] http://lepidoptera.butterflyhouse.com.au/nymp/medus.html, diakses 5 November 2017. [49] http://indiabiodiversity.org/species/show/235847, diakses 5 November 2017. [50] http://indiabiodiversity.org/species/show/235850, diakses 5 November 2017. [51] http://eol.org/pages/131345/details, diakses 5 November 2017. [52] ttps://noerdblog.wordpress.com/2014/02/06/kupu-kupu-papilio-peranthus/, diakses 5 Nov 2017. [53] http://eol.org/pages/131349/details, diakses 5 November 2017. [54] http://indiabiodiversity.org/species/show/235553, diakses 5 November 2017. [55] http://eol.org/pages/163855/details, diakses 5 November 2017. [56] http://www.butterflycircle.com/checklist/showbutterfly/278, diakses 5 November 2017.

22 Prosiding SEMINAR NASIONAL SAINSTEK 2017, pp. 163-177 ISSN: 2541-0636 [57] https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Pages/animal-detail.aspx?id=977, akses 5 Nov 2017.

23